Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Siva Ratri

Dewa Siwa

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Keagungan Sapi

Dalam ayat ini Krishna menunjukkan bahwa di antara sapi Dia adalah diwujudkan sebagai makna kamadhuk kamadhenu aslinya ingin memenuhi sapi dikenal sebagai sapi surabhi. Hanya siapa dan apa sapi surabhi dan bagaimana surabhi seperti sapi mencapai posisi tinggi dan dimuliakan bahwa mereka mampu mewakili sebagian dari energi dari Tuhan Krishna tertinggi akan terungkap dalam informasi berikut diberikan dalam Parva Anusasana

Galungan


Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat
Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Konsep Kebersamaan dalam Perspektif Hindu


Pendahuluan
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang pluralistis baik dari segi agama, etnis, bahasa maupun budaya. Semangat pluralisme ini telah diusung oleh Bangsa Indonesia sejak ribuan tahun silam hingga sebuah mahawakya yang ditulis oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma kini dijadikan motonya. Mahawakya tersebut juga terukir secara indah dalam cengkeraman Burung Garuda yang merupakan lambang Negara Indonesia (Miswanto,2012:56). Itulah “Bhinneka Tunggal Ika” yang semestinya menjadi semboyan bagi bangsa Indonesia dalam menyikapi semua perbedaan yang ada.
Salah satu ajaran agama Hindu yang harus dihayati dan diamalkan untuk tegaknya Dharma adalah ajaran dana punia. Kata Dana Punia berarti pemberian dengan tulus sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran Dharma. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana). Bentuk lain dari pada dana punia adalah berupa pendidikan (Vidyadana) dan berupa harta benda (Arthadana). Yang pada dasarnya bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang/masyarakat dari kebodohan ataupun ketidakmampuan.