Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Konsep Kebersamaan dalam Perspektif Hindu


Pendahuluan
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang pluralistis baik dari segi agama, etnis, bahasa maupun budaya. Semangat pluralisme ini telah diusung oleh Bangsa Indonesia sejak ribuan tahun silam hingga sebuah mahawakya yang ditulis oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma kini dijadikan motonya. Mahawakya tersebut juga terukir secara indah dalam cengkeraman Burung Garuda yang merupakan lambang Negara Indonesia (Miswanto,2012:56). Itulah “Bhinneka Tunggal Ika” yang semestinya menjadi semboyan bagi bangsa Indonesia dalam menyikapi semua perbedaan yang ada.
Akan tetapi semangat itu nampaknya sudah mulai luntur sehingga akhir-akhir ini banyak terjadi konflik-konflik yang mengatasnamakan suku, adat, ras, dan agama (SARA). Ironisnya agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian, oleh oknum tertentu justru malah dijadikan sebagai alat legitimasi konflik. Banyak perang atas nama agama, membunuh karena perintah agama, konflik atas nama agama dan berbagai kekerasan lain yang mengatasnamakan agama (Miswanto,2005:39). Agama seolah-olah menjadi “penyebab” konflik, perang dan aksi kekerasan lainnya sampai-sampai Hans Kung, seorang Teolog Jerman menulis dalam bukunya Global Responbility, “No world peace without peace among religions” (tak ada kedamaian di dunia tanpa kedamaian antar agama).
Sebagai negara yang didirikan atas semangat Tantularisme (bhinneka tunggal ika) dan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara maka wajib bagi setiap warga negaranya untuk menjunjung wawasan kebangsaan yang berdasarkan asas kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang perlu kita tanamkan, pelihara, dan tingkatkan terutama kepada kalangan generasi muda.
Pandangan Hindu tentang Pluralisme
Hindu adalah agama tertua di dunia dengan kitab sucinya Weda yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat Hindu di dunia. Weda mengajarkan kepada setiap umatnya untuk bisa menghargai kemajemukan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sekte-sekte keagamaan atau sampradaya dalam Hindu yang tersebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Dengan demikian secara internal saja Hindu sudah menghargai adanya pluralisme.
Secara theologis, meski Hindu berpandangan monotheistik namun Agama Hindu tidak melarang umatnya untuk memuja Tuhan (Brahman) dengan segala manifestasi-Nya (monistik). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Rgweda I.64.46 (mandala I, sukta 64, mantra 46) berikut:
Wk&--SaiÜPa[a-bhuDaa-vdiNTa-AiGanMYaMaNMaTairìaNaMahu" ))
ekaý sadviprā bahudhā vadanti agnim yaman matarisvānam ahuh (Tuhan adalah Esa, orang bijaksana memberi banyak nama. Mereka menyebut-Nya Indra, Yama, Matarisvan).
Selain itu ada banyak jalan yang bisa ditempuh menurut Hindu sebagaimana disebutkan dalam Bhagawad Gītā IV.11 yang menyebutkan:
Yae-YaQaa-Maa&-Pa[PaÛNTae-Taa&STaQaEv->aJaaMYah& ) MaMa-vTMaaRNauvTaRNTae-MaNauZYa"-PaaRQa-SavRXa" ))
ye yathā mām prapadyante tāms tathaiwa bhajāmy aham, mama vartmānuwartante manusyah pārtha sarwaśah (Terjemahan: jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, wahai Partha. Karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semua adalah jalan-Ku).
Dari kutipan sloka dan mantra tersebut diketahui bahwa Hindu adalah agama yang menghargai semua perbedaan jalan menuju Tuhan (peribadatan).  Hal ini sebagaimana diungkap Radhakrishnan dalam “True Knowledge” yang berbunyi “sarva śāstra prayojanam tattwa darśanam” yang dapat diterjemahkan: “semua sastra (dalam semua agama) bertujuan untuk mendapatkan pandangan tentang realitas”.
Sejarah mencatat bahwa kerajaan Hindu terbesar di Indonesia yang pernah menyatukan seluruh Nusantara juga menghargai setiap perbedaan (termasuk keyakinan) yang ada pada rakyatnya. Hal ini sebagaimana petikan yang dituturkan oleh Mpu Tantular (Tutur Tantular) dalam Kêkawin Sutasoma Wirama 139 Sloka 5 berikut ini (Agastia,1987:70):
  en k a tu wi nu wusÙ r   bu dÒ  wi ]Ù, vi  en k r kÙ ri\ p nÐ) n p( wÙ eN_ s) n/,m \Ð* ji ntÙ k l w nÖI w t tÙ tu \á l/, vi en k tu \á li k t nÀ n a( m m*rÙ .
rwannékadhatu winuwus wara buddha wiúwa, bhinnéka rakwa ring apan këna parwwanosën, mangka ng jinatwa lawan úìwatatwa tunggal, bhinnéka tunggal ika tan hana dharma mangrwa
(Disebutkan dua perwujudan Beliau itu Buddha dan Siwa. Berbeda konon tetapi kapan dapat dibagi dua. Demikianlah kebenaran Buddha dan kebenaran Siwa itu satu. Berbeda itu satu, tidak ada Dharma/kebenaran yang mendua).
Mahawakya (bhinnéka tunggal ika) dalam Tutur Tantular ini juga yang kini menjadi sesanti, semboyan dan sekaligus sikap hidup bangsa Indonesia dan kini dimaknai sebagai “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Dan sesanti ini pula yang mampu membangun semangat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia sehingga bisa meraih kemerdekaan setelah selama 3½ abad lebih dijajah oleh Bangsa Belanda dan Jepang.
Pandangan Hindu tentang Kebersamaan
Hindu mengajarkan tentang rwa bhinneda. Beda dan sama adalah sesuatu yang selalu ada di dunia ini. Jika manusia tidak bisa memahami suatu perbedaan maka ia tidak akan pernah bisa hidup dalam kebersamaan. Sebaliknya jika mereka ingin hidup dalam kebersamaan maka perbedaan itu tidak perlu dipermasalahkan (dipertentangkan). Apa yang “beda” tidak perlu “disama-samakan” dan apa yang sudah “sama” tidak perlu “dibeda-bedakan”. Jika semua manusia mampu memahami rwa bhinneda  yang ada di dunia ini, maka mereka akan hidup dalam kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian.
Dalam mitologi Hindu, disebutkan bahwa Brahman telah memanifestasikan Diri-Nya sebagai penguasa penjuru alam semesta, seperti: Indra (Dewa Hujan), Påthiwì (Dewa Bumi), Sùrya (Dewa Matahari), Agni (Dewa Api), Bayu (Dewa Angin), Candra (Dewa Bulan), Waruna (Dewa Laut) dan masih banyak lagi lainnya. Kesemua Dewa itu melaksanakan swadharma (kewajiban masing-masing yang berbeda) tetapi mereka mempunyai tujuan yang sama yakni membuat alam semesta tetap terpelihara. Brahman bersabda dalam Atharwaweda III.30.4:
YaeNa-deva-Na-ivYaiNTa-Naae-c-iviÜzTae-iMaQa" ) TaTk*//<Maae-b[ø-vae-Ga*he-Sa&jaNa-Pauru<ae>aYa" ))
yena devà na viyanti no ca vidviûate mithaá,  tat kåómo brahma vo gåhe saýjñàna puruóebhyaá. (Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu) (Titib,1998:348).
Itulah mestinya yang perlu diteladani dari sifat-sifat Dewa-Dewa Penguasa Alam Semesta tersebut. Hal ini selaras dengan sebuah tembang Dhandhanggula sebagaimana yang ditulis oleh Adi Suripto (2008:8) dalam “Dharma Kinidung” berikut ini:
?s[kai=k=fumfimk/fi ,
li/a‐=widik=tnuPhmk/y,
zuribijgfT[nL[rn,
su/ycnF`lnByu,
bumiti/tklwnHgNi,
ppri=pzuripn\,
mi=]pmi]hwusM|zÑ|/,
an[nnu[aonid/m,
aikuff‐$osT`ceqtnPtulis,
nulfLkuni=alm.
Sakéhing kang dumadi makardi,
Lir Hyang Widhi kang tansah makarya,
Nguribi jagad tan lérén,
Surya, candra lan bayu,
bhumi tirta kalawan agni,
Paparing panguripan,
Mring pamrih wus mungkur,
Anané nuhoni dharma,
Iku dadya úàstra cëtha tanpa tulis,
Nulad lakuning alam.
(Semua yang ada ini bekerja. Bahkan Tuhan pun bekerja. Menghidupi dunia ini tanpa henti. Matahari, bulan, angin, bumi, air dan api semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih. Dasarnya hanyalah merasa wajib. Alam adalah ilmu nyata. Kita wajib meniru dharmanya)
Matahari tidak akan membeda-bedakan orang yang harus diberikan sinarnya. Bumi yang dipijak oleh seorang Hindu tentu akan sama dengan yang dipijak oleh seorang Muslim. Bulan bisa dilihat oleh seorang Buddha atau pun oleh seorang Kristen. Udara (bayu) yang kita hirup adalah sama dengan udara yang dihirup oleh orang yang berbeda dengan kita. Oleh karenanya sesungguhnya mereka adalah saudara (satu udara dengan) kita. Dalam hal ini Hindu menyebutnya dengan istilah wasudaiva kutumbhakam (semua mahluk adalah bersaudara). Hyang Widdhi pun bersabda  dalam Yajurveda XL.6 yang berbunyi:
YaSTau-SavaRi<a->aUTaNYaaTMaàevaNauPaèYaiTa ) SavR>aUTaezu-caTMaNaa&-TaTaae-Na-iv-icik-TsaiTa ))
yastu sarvàói bhùtany àtmanneva anupaúyati, sarvabhùteûu càtmanàý tato na vi cikitsati.
(Seseorang yang melihat Dia berada pada setiap mahluk dan kemudian melihat semua mahluk ada pada-Nya, ia tidak akan membenci yang lain)
Jika setiap manusia di muka bumi ini menyadari dasar-dasar persamaan tersebut, maka walaupun mereka berbeda ras, suku, agama dan budaya, mereka tidak akan sampai hati untuk melakukan aksi-aksi penghinaan/penistaan/kekerasan kepada orang lain yang berbeda dari mereka. Sebagaimana diketahui bahwa agama yang diturunkan dari langit adalah bagi manusia, maka dari itu setiap penganut agama pun tentu harus menjalankan perintah-perintah agamanya secara manusiawi (nguwongké uwong). Dan agama apa pun tentu tidak akan mengijinkan pemeluknya untuk mengabaikan sisi humanisme dalam menjalankan ajaran agamannya.
Menurut Hindu ajaran tat twam asi adalah ajaran tentang humanisme yang universal. Tat twam asi adalah ajaran kemanusiaan tanpa batas dan tanpa pandang bulu. Ajaran ini dilandasi oleh ajaran filsafat Wedanta dari Chandogya Upanisad yang menyatakan bahwa Sang Atman adalah Brahman juga (Saraswati,2009:57). Karena sesungguhnya Atman adalah percikan terkecil dari Sang Brahman. Jika ajaran tat twam asi ini diaplikasikan dalam setiap tindakan manusia maka mereka akan menghindari himsa karma (perbuatan menyakiti) apalagi sampai membunuh sesama makhluk ciptaan-Nya.
Úri Kåûóa dalam Bhagawad Gìtà XIII.29 juga bersabda:
SaMa& PaXYaiNh SavR}a SaMaviSQaTaMaqìrMa( ) Na ihNaSTYaaTMaNaaTMaaNa& TaTaae YaaiTa Para& GaiTaMa( ))
samaý paúyan hi sarvatra samavasthitam ìúvaram na hinasty àtmanàtmànaý tato yàti paràý gatim (Maswinara,2008:402).
(Karena, ketika ia melihat kehadiran Tuhan, merata di mana-mana, ia tak akan menyakiti Dirinya yang sejati dengan dirinya dan kemudian ia mencapai tujuan tertinggi)
Menyimak ajaran-ajaran suci di atas, maka tidak seharusnya sesama makhluk Tuhan (pemeluk agama) kita saling baku hantam dan saling menjelek-jelekkan ajaran-ajaran suci tersebut. Lebih-lebih sebagai bangsa yang menganut paham Ketuhanan Yang Maha Esa atas dasar kemanusiaan yang menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa dengan mengedepankan permusyawaratan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pandangan Hindu tentang Kerukunan
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Itulah peribahasa yang dikenal oleh masyarakat Indonesia untuk mengupayakan adanya persatuan dan kesatuan di negara kepulauan ini.  Sebuah negara yang membentang di daerah Katulistiwa bagaikan sebuah permadani biru disulam aneka hiasan warna-warni keemasan. Kepulauan yang sejak jaman dahulu kala telah dikenal oleh bangsa-bangsa asing, terutama India dan China dengan nama Dwìpàntara atau Dwapatan, pada jaman Majapahit dikenal dengan nama Nusàntara, telah menunjukkan kepada dunia, bahwa di kepulauan yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa dan budaya daerah serta agama ini telah terbina kehidupan yang rukun dan damai serta patut dibanggakan bersama.
Untuk itu merupakan kewajiban yang luhur bagi segenap bangsa Indonesia untuk selalu berusaha mempertahankan keutuhan bangsanya, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, melalui tugas dan kewajiban masing-masing yang diabdikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Hindu kewajiban suci ini dikenal sebagai dwi dharma yang terdiri atas dharma agama dan dharma negara. Menjaga keutuhan NKRI melalui kerukunan umat beragama merupakan dharma negara dan sekaligus dharma agama bagi umat Hindu.
Dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 Tahun 2009 disebutkan bahwa yang dimaksud kerukunan umat beragama adalah: keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Implementasi kerukunan umat beragama ini dapat dijabarkan dalam pelaksanaan Tri Kerukunan Umat Beragama yang terdiri atas: (1) kerukunan intern umat beragama (umat seagama, misalnya Hindu dengan Hindu, Islam dengan Islam dan sebagainya); (2) kerukunan antar umat beragama (antara agama yang satu dengan yang lain, misalnya Hindu dengan Islam, Kristen dengan Buddha dan seterusnya); serta (3) kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah (Tim Penyusun,2007:67-75).
Bagi umat beragama Hindu, kerukunan antar umat beragama tersebut bukanlah sesuatu yang baru karena Weda telah mengajarkan umatnya untuk selalu hidup rukun dengan sesamanya. Bahkan hidup rukun semacam ini bukan hanya untuk orang-orang yang dikenal, akrab atau seagama saja, tetapi kepada orang asing atau orang yang tidak seagama pun umat Hindu harus bisa hidup rukun dengan mereka. Berikut petikan mantra dalam Atharwaweda VII.52.1 yang menjelaskan hal tersebut.
Sa&jaNa&-Na"-Svei>a"-Sa&jaNaMar<aei>a" ) Sa&jaNaMaiìNaa-YauviMahaSMaaSau-iNa-_AC^TaMa( ))
saýjñànaý naá svebhiá saýjñànaý araóebhiá, saýjñànam aúvinà yuwam ihàsmàsu ni’acchatam (Titib,1998:347-348).
(Hiduplah rukun dengan orang-orang yang dikenal dan akrab ataupun dengan orang-orang asing sekalipun. Dewa Aúwin akan memberkahi mereka yang hidup dalam keserasian atau keharmonisan)
Sesuai Sabda Suci Tuhan yang diwahyukan dalam Weda, para Dewa tidak akan berkenan untuk memberkati umatnya jika mereka tidak bisa hidup rukun dan berdampingan dengan sesamanya. Kerukunan semacam ini harus ditumbuhkan melalui sikap saling pengertian (pemahaman akan pluralisme sebagaimana disebutkan di atas) dan saling menghormati sebagaimana disabdakan dalam Ågveda X.191.4 berikut ini:
SaMaaNaq-v-Aaku-iTa"-SaMaaNaa-h*dYaaiNa-v"  )  SaMaaNaMaSTau-vae-Ma<aae-YaQaa-v"-SauSahaSaiTa  ))
samànì va àkutiá samànà hådayàni vaá, samànam astu vo maóo yathà vaá susahàsati
(Milikilah perhatian yang  sama.Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan) (Titib,1998:349).
Dengan tumbuhnya saling pengertian dan saling menghormati tersebut maka umat manusia akan bisa mewujudkan kerukunan di antara mereka. Namun jika tidak ada sikap seperti itu di antara mereka maka mustahil kerukunan itu bisa diwujudkan. Swami Vivekananda dalam Sidang Terakhir Parlemen Agama-agama se-Dunia 27 September 1893 (dalam Pendit,1993:53) menyerukan: “Telah banyak dibicarakan tentang dasar-dasar umum kerukunan agama. Kini saya tidak sekedar mempertaruhkan teori saya. Namun, jika ada orang yang berharap bahwa kerukunan ini akan tercapai melalui kemenangan dari suatu ajaran agama terhadap penghancuran agama lainnya, maka kepadanya saya akan katakan, `saudara, harapan anda itu hanyalah impian yang mustahil´”.
Mencari Solusi dengan jalan Diplomasi
Tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan jika setiap orang yang terlibat masalah tersebut duduk bersama-sama dengan kepala dingin dan hati yang bersih. Semua pasti bisa diselesaikan tanpa adanya jalur kekerasan. Begitu juga dengan masalah yang terkait dengan kerukunan antar umat beragama. Semua pasti ada solusinya jika semua tokoh agama duduk bersama-sama memecahkan masalah yang ada.
Dalam mencari solusi tersebut dibutuhkan lurusing ati (niat yang tulus), larasing budi (kehalusan budi), dan lërësing pakarti (perilaku dan tidakan yang benar/baik). Maksudnya ketika semua umat atau tokoh dari berbagai agama itu duduk bersama untuk membahas permasalahan yang ada, maka niat mereka harus benar-benar tulus dari lubuk hati yang terdalam (lurusing ati). Setelah itu dibutuhkan kehalusan budi atau tutur kata dan etika yang baik (larasing budi) ketika mereka bermusyawarah untuk mufakat. Dan terakhir tindakan penyelesaiannya haruslah tepat dan benar (lërësing pakarti) atau sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.
Dengan memperluas ruang diskusi, dialog atau kerja sama sosial dan kemanusiaan baik secara intern umat, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah maka masalah yang besar dan pelik pun akan dapat diselesaikan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Ågveda X.191.3 yang menyatakan:
SaMaaNaae-MaN}a"-SaiMaiTa"-SaMaaiNa ) SaMaaNaMMaNa"-Sah-ictaMaezaMa( )
SaMaaNaMMaN}aMai>a-MaN}aYae-v" ) SaMaaNaeNa-vae-hivza-JauhaeiMa ))
samàno mantraá samitiá samàni, samànam manaá saha cittam eûàm,
samànam mantram abhi mantraye vah, samànena vo haviûà juhomi.
(Wahai umat manusia, Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati dan pikiranmu satu dengan yang lain. Aku anugrahkan pikiran atau ide yang selaras dan fasilitas yang sama pula untuk kerukunan hidupmu)
Penutup
Kerukunan antar umat beragama akan tercipta apabila semua umat saling pengertian dan menghormati satu sama lain, memelihara pluralisme, bisa duduk bersama dalam perbedaan serta  mencari solusi yang dilandasi niat dari hati yang tulus, kehalusan budi dan komitmen tindakan akan sebuah kesepakatan bersama. Dengan ini agama harus diposisikan sebagai private domain untuk membentuk kualitas iman secara personal dalam rangka memperkuat moralitas kemanusiaan yang universal (Asyarie,2002:35).
Wasana kata untuk mengakhiri makalah singkat ini, saya kutipkan pendapat Svami Viúvananda, dari Sri Ramakrishna Ashram, Bombay (1938) yang menyatakan: “Let us try to go to the fundamentals and basic principles of our religion and march onward and Godward with charity for all and malice toward none”.
SaveRz&-SviSTa->avNTau SaveRz&-XaaiNTa>aRvNTau )SaveRz&-Pau<a|->avNTau-SaveRz&-MaÉl&-->avNTau ))
sarveûaý svasti bhavantu  sarveûaý úàntir bhavantu
sarveûaý purnaý bhavantu sarveûaý maògalaý bhavantu.
(Semoga semuanya memperoleh keselamatan, semoga semuanya memperoleh kedamaian, semoga semuanya memperoleh kesempurnaan, semoga semunya memperoleh kemuliaan)

Daftar Pustaka
Agastia, Ida Bagus. 1987. Sagara Giri, Kumpulan Esei Sastra Jawa Kuna. Denpasar:Wyàsa Sanggraha.
Maswinara, I Wayan. 2008. Úrìmad Bhagawad Gìtà (dalam Bahasa Sanskåta, Inggris dan Indonesia). Surabaya:Paramita.
Miswanto. 2005. “Menelusuri Jejak Konflik Antar Agama”. Majalah Raditya Nomor 93 April 2005. Denpasar: Pustaka Raditya.
_______. 2012. “Tutur Tantular”. Media Hindu Nomor 94 Januari 2012. Jakarta: Media Hindu.
Musa Asy’arie. 2002. Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Yogyakarta:LESFI.
Pendit, Nyoman S. 1993. Percik-percik Pemikiran Swami Vivekananda Cendekiawan Hindu Abad Ke-19. Jakarta:Yayasan Dharma Nusantara-FCHI.
Saraswati, Sri Chandrasekharendra. 2009. Peta Jalan Veda. Jakarta:Media Hindu.
Suripto, Adi. 2008. Dharma Kinidung. Denpasar: Widya Dharma.
Tim Penyusun. 2007. Pedoman Tenaga Pembina (yang Disempurnakan). Jakarta:Mitra Abadi Press.
Titib, I Made. 1998. Veda Sabda Suci (Pedoman Praktis Kehidupan). Surabaya:Paramita.
Visvananda, Svami. 1938. “Unity of Religions”, dalam The Religions of the World. editor Sri Ramakrishna. Calcuta:Centenary Parliament of Religions.


                                                                            @Oleh: Miswanto, S.Ag. M.Pd.H