Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

CATUR MARGA EMPAT JALAN MENUJU TUHAN

I PENDAHULUAN

Berdasarkan dasar ajaran agama Hindu Panca Sradha, kita mengenal ajaran Moksa yangmempunyai makna kembalinya roh individu kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dalam usahaperjalanan manusia menuju kepada Tuhan, ada empat jalan yang harus ditempuh yaitu CaturMarga. Catur artinya empat dan Marga artinya jalan. Jadi Catur Marga artinya: empat jalan yangharus ditempuh dalam usaha manusia menuju kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Empat jalantersebut adalah Karma Marga, Bhakti Marga, Jnana Marga, dan Raja Marga.


Dalam kitab Bhagavad Gita Bab IV Sloka (11) disebutkan :
ye yatha mam prapadyante
tams tathai ‘va bhajamy aham
mama vartma ‘nuvartante
manushyah partha sarvasah

Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua
mereka menuju jalan-Ku, oh Parta.Mengartikan sloka di atas haruslah kita lebih dalam menyimak hakekat apa yang tersiratdidalamnya? Apa pengertian kata jalan mana dari sloka di atas, apakah yang dimaksudkan itukeyakinan/agama, cara menuju, atau laku yang harus dilaksanakan? Menurut saya, yang
dimaksudkan dengan kata jalan mana adalah lebih cendrung kepada persoalan keyakinan/agama.Artinya, keyakinan apapun atau agama apapun yang dianut seseorang dalam tujuan mencari Tuhan,diterima oleh Nya.

Bhagawad Gita Bab VII sloka (21), mempertegas makna dari sloka di atas yang berbunyi :
yo-yo yam-yam tanum bhaktah
sraddhaya ‘rchitum achchhati
tasya-tasya ‘chalam sraddham
tam eva vidadhamy aham

Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukankepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera.Sloka ini, disamping sifatnya memberi penegasan terhadap sloka di atas, juga mempunyai maknayang sangat universal yaitu; bahwa Kresna memberitahukan kepada umat manusia, bahwa di duniaini akan ada agama lebih dari satu dan Tuhan mempersilahkan kepada manusia untuk memilih, mana yang akan dijadikan dasar kayakinannya. Dan oleh setiap agama akan diajarkan bagaimanacara sembahyang, berdoa, mantra-mantra, pujian-pujian yang menuju kepada Tuhan. Sloka ini jugamengajarkan kepada kita untuk saling menghormati sesama pemeluk agama, janganlah salingmenghina, saling menyombongkan agama. 

Karena semua agama bisa ada di dunia adalah karenakehendak Tuhan dan bukan karena kemauan manusia. Karena apabila ada orang yang menghinaatau melecehkan agama lain, sebenarnya orang tersebut sangat tidak mengerti secara mendalam tentang keberadaan agamanya sendiri. Maka dari itu sebagai orang yang memeluk agama Hindu sudah seharusnya mendalami ajaran kitab suci Weda, agar kita dapat menjelaskan kepada pemeluk agama lain baik melalui media televisi, radio, koran ataupun melalui langsung dalam acara diskusi, bagaimana sejatinya ajaran agama Hindu. Jangan sekali-kali memberikan penjelasan yang sifatnya asal-asalan dan bisa dikejar lagi dengan pertanyaan selanjutnya dan kita akhirnya tidak bias memberikan jawaban yang benar dan dapat diterima oleh akal manusia.

Bagaimana hubungan sloka (11) di atas dengan ajaran catur marga, apakah kita cukup memilih salah satu dari marga tersebut untuk menuju kepada Tuhan? Selanjutnya, apakah setelah memilih salah satu dari catur marga, manusia tidak perlu lagi melalukan marga yang lainnya? Jawabnya sederhana saja. Ketika seseorang memilih salah satu marga dari catur marga dalam perjalanan hidupnya menuju Tuhan, katakanlah Karma Marga, maka pilihannya ini diterima oleh Tuhan dalam arti ya tidak disalahkan karena pilihannya tersebut sesuai dengan tingkat kecerdasan pada saat itu.

Mungkin yang lainnya memilih Bhakti Marga, dan yang lain memilih Jnana Marga atau Raja Marga, hal ini sangat tergantung dari kapasitas kecerdasannya masing-masing. Pertanyaannya, apakah dengan hanya melaksanakan Karma Marga seseorang bisa menuju kepada tataran puncak yaitu menyatu dengan Sang Pencipta (Aham Brahman Asmi)? Apakah dia tidak perlu malaksanakan Bhakti, Jnana dan Raja Marga ? Menurut saya sangat perlu. Pertama-tama kita melaksanakan Karma Marga (jalan kerja), selanjutnya melaksanakan Jnana Marga (jalan ilmu pengetahuan). 

Dengan memiliki ilmu pengetahuan, maka pelaksanaan Karma Marga menjadi lebih baik. Dengan ilmu pengetahuan pula, diharapkan pelaksanaan Bhakti Marga (jalan bakti) dan Raja Marga (jalan semadhi) akan sesuai dengan ajaran Weda yang sejati, artinya bukan hanya sekedar berdasarkan sastra atau yang tersurat saja. Jelaslah, bahwa seseorang dalam tujuan hidupnya menuju kepada Tuhan tidaklah cukup menjalankan hanya salah satu dari Catur Marga. Karena Catur Marga adalah merupakan tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan seharihari, sehingga akhirnya sampai pada puncak kesadaran yaitu samadhi dimana pikiran manusia sudah mencapai titik nol (kosong).

Tidaklah mungkin seseorang akan dapat mencapai tingkat
samadhi apabila tidak didasari dengan Jnana (pengetahuan) yang benar tentang tata cara bagaimana melaksanakan semadhi. Bagaimana seseorang bisa dikatakan benar dalam melaksanakan bhakti kalau tidak didasari oleh pengetahuan yang benar tentang cara sembahyang sesuai dengan ajaran Weda? Kesimpulannya, bahwa keempat jalan yang diajarkan oleh kitab suci Weda haruslah dilaksanakan semuanya dalam kehidupan sehari-hari bagi mereka yang berniat untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, hanya waktu pelaksanaannya yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari masing-masing orang, karena situasi dan kondisi untuk setiap orang tidaklah sama.

KARMA MARGA

Ketika seorang anak baru mulai belajar sembahyang, atau dalam bertingkah laku, dia hanya bias mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tuanya atau meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Dia hanya sebatas melaksanakan dan belum mengerti kenapa harus demikian. Dalam tingkatan ini, tingkat jnana dari guru laku (baik orang tua ataupun orang lain) sangatlah menentukan kwalitas dari pelaksanaan karma dari anak didiknya. Seorang guru yang memiliki pengetahuan yang luas dan berpengalaman pada umumnya akan menghasilkan murid yang berbudi luhur. Artinya, dari awal melangkah dia sudah mendapatkan tuntunan dalam bekerja yang sudah disesuaikan dengan jnana (ilmu pengetahuan) walaupun pada saat yang sama dia belum memperoleh pendidikan tentang jnana.

Akan sangat berbeda dengan seseorang yang dari awal perjalanan hidupnya tanpa adanya bimbingan dari orang tua atau guru, maka dia akan belajar sendiri dari lingkungan alam sekitarnya. Kalau dia berkumpul dengan kelompok pencuri, perampok, maka kemungkinan besar dia akan ikut menjadi perampok. Kalau dia bergaul di lingkungan orang-orang yang senang berjudi, maka kemungkinan besar dia akan menjadi seorang penjudi. Sebaliknya, kalau dia bergaul dengan orangorang yang senang sembahyang, membaca kitab suci, maka kemungkinan besar dia akan menjadi orang berprilaku baik. Maka dari itu, sebagai orang tua haruslah sanggup memberikan contoh yang baik dalam berbicara, bertingkah laku, agar dijadikan panutan bagi anak-anak. Pengertian Karma Marga yaitu : manusia dalam tujuannya mencari Tuhan melalui jalan bekerja. Banyak manusia belajar dengan tekun dengan tujuan memperoleh ijazah, gelar yang tinggi, berharap nantinya mendapat pekerjaan yang bagus dengan kedudukan dan gaji yang tinggi.

Akan tetapi, tidak banyak manusia yang memahami hakekat kerja yang bagaimana yang diajarkan oleh kitab suci weda yang dapat menuntun dirinya kapada pencerahan pikiran dan jiwanya. Dalam Bhagavad Gita Bab III yang membahas tentang KarmaYoga pada sloka (1) Arjuna bertanya kepada Kresna. Dasar pertanyaan Arjuna adalah karena dia bingung dengan penjelasan Kresna. Disatu sisi Kresna mengatakan bahwa ilmu pengetahuan lebih mulia dari tindakan, disisi lain Kresna malah menganjurkan kepada Arjuna untuk melakukan tindakan kejam yaitu berperang untuk membunuh saudara-saudaranya (Kurawa), gurunya, kakeknya sendiri.

Dalam sloka (2) akhirnya Arjuna minta ketegasan dari Kresna, agar diberitahukan dengan pasti satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya untuk mencapai kebahagiaan abadi. Permitaan Arjuna dijawab oleh Kresna di sloka (3), bahwa sejak dahulu ada dua disiplin dalam hidup ini, jalan ilmu pengetahuan bagi cendekiawan dan jalan tindakan kerja bagi karyawan. Selanjutnya Kresna bersabda; orang tidak akan mencapai kebebasan karena diam tidak bekerja, juga ia tidak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja. Tetapi, bagi orang yang sudah dapat mengendalikan pancaindrianya dengan pikiran serta bekerja dengan tanpa mementingkan diri sendiri, dialah yang disebut orang yang utama.

Bab II sloka (47) Bhagavad Gita, mengatakan : karmany eva dhikaras te
ma phaleshu kadachana
ma karma phala hetur bhur
ma te sango ‘stv akarmani

Kewajibanmu kini hanya bertindak, bekerja tiada mengharap hasil, jangan sekali pahala jadi motifmu, jangan pula hanya berdiam diri jadi motifmu. Selanjutnya dalam sloka (48) dikatakan :

Yogasthah kuru karmani
Sangam tyaktva dhanamjaya
Siddhyasiddhyoh samo bhutva
Samatvam yoga uchyate

Pusatkan pikiranmu pada kesucian, bekerjalah tanpa menghirukan pahala, Dananjaya, tegaklah pada sukses maupun kegagalan, sebab, keseimbangan jiwa adalah yoga. Dipertegas lagi oleh sloka (49) yang bunyinya :

durena hy avaram karma
buddhi yogad dhanamjaya
buddhau saranam anvichchha
kripanah phala hetevah

Rendahlah derajat kalau hanya kerja tanpa disiplin budi, oh Dananjaya. Serahkanlah dirimu pada Yang Maha Tahu, kasihan yang mengharap pahala dari kerja. Ketiga sloka di atas mengajarkan kepada kita tentang hakikinya berkerja yang harus dilaksanakan oleh seseorang yang ingin mencapai alam kebebasan/kelanggengan. Kewajiban kita hanyalah sebatas bekerja dan bukan untuk menghitung-hitung pahalanya. Janganlah karana ada pahala baru kita mau bekerja. Kasihan sekali orang yang bekerja hanya karena mengharapkan pahala. Serahkanlah dirimu kepada Yang Maha Tahu. Ketika seseorang memahami betul bahwa dia tidaklah lain hanya sekedar wayang yang selalu dimainkan oleh sang Maha Dalang (Tuhan) yang menciptakannya, atau dengan kata lain sebagai wayang haruslah tunduk dan mengikuti alur ceritera yang sudah dibuat oleh sang dalang, maka jawabannya dalam menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan ini tiada lain adalah menyerah (serahkanlah dirimu kepada Yang Maha Tahu).
Inti sari dari pemahaman dan pelaksanaan ajaran Weda adalah Iswara Prani Dana yaitu penyerahan diri secara total semata-mata kepada Sang Maha Pencipta. Awas, jangan salah mengartikan
makna dari kata-kata penyerahan diri. Menyerah bukan berarti pasrah dan berdiam diri tidak melakukan apa-apa seperti patung tidak bergerak biarpun kehujanan dan kepanasan. Tindakan seperti ini malah keliru sebab, seandainya semua umat manusia berlaku seperti patung, wah tidak bisa kita bayangkan dunia akan seperti apa? Apa pula gunanya Tuhan menciptakan bumi dan langit untuk manusia? Bukan, bukan berdiam diri seperti itu maksudnya. Pasrah dalam makna yang lebih dalam adalah menerima (bersyukur) atas segala karunia dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Adil. Apapun hasil yang kita peroleh sebagai akibat dari kerja yang kita lakukan sekalipun itu pahit, haruslah kita tetap bersyukur.

Untuk menjadi orang selalu bersyukur atas karunia Tuhan tidaklah mudah, karena gampang diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Weda mengajarkan, bahwa ada dua jalan yang kita bisa tempuh dalam mengarungi bahtera kehidupan didunia fana ini yaitu : pertama jalan material atau kebendaan dan kedua adalah jalan spriritual. Dianjurkan oleh Weda semoga kita memilih jalan spiritual, karena dengan jalan inilah kita akan terselamatkan baik di dunia ini maupun di dunia sana (dunia gaib). Karma Marga lebih cendrung kepada jalan material, seperti : memelihara anak sendiri, menolong orang yang sedang kesusahan, orang sedang sakit, memelihara anak yatim piatu, orang jompo, membangun pura dan membuat sesaji, bekerja untuk memperoleh hasil, dan lain sebagainya.

Jalan kerja yang ditempuh seperti tersebut di atas, dapat dikatagorikan sebagai pelaksanaan dari tapa (belajar ihklas). Sudah menjadi kodrat manusia yang diciptakan sebagai makhluk social, maka ia tidak akan bias melepaskan diri dari manusia lainnya. Kita diajarkan oleh ajaran Weda untuk menjadi manusia yang suka memberi (beryadnya), kalau tidak demikian kita dikatakan sebagai manusia yang makan dosa, seperti yang disebutkan dalam Bhagavad Gita Bab III sloka (13) :

yajna sishtasinah santo
muchyante sarva kilbishaih
bhunjate te tv agham papa
ye pachanty atma karamat

yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa. Apa yang susungguhnya dimaksudkan dengan manusia makan dosa?. Adalah manusia yang lebih banyak memiliki sifat pelit, loba, dan hanya sedikit mempunyai sifat social dan suka beryadnya. Orang semacam ini, adalah orang yang belum memahami ajaran Tat Twam Asi dan orang semacam ini masih perlu digembleng di kawah candradimuka. Sangat perlu untuk dihayati, bahwa saling menolong dan saling memberi antara sesama manusia dengan ikhlas dan tanpa memandang apa agama atau sukunya, itu lebih mulia dimata Tuhan. Penomena yang ada, orang cendrung lebih berani dan galak antara sesama manusia, saling caci maki, iri dengki, saling merendahkan derajat satu sama lainnya, tetapi dia sangat sangat takut sekali dengan yang namanya jin dan setan, apalagi kepada dewa dan betara mereka lebih takut lagi, karena semuanya tidak kasat mata. Mereka lupa, bahwa dilahirkan sebagai manusia yang menurut Tuhan adalah merupakan mahkluk ciptaannya yang paling sempurna diantara mahkluk-mahkluk ciptaannya yang lain (jin, setan dan malaikat atau dewa). Maka dari itu, sadari dan kenalilah diri kita sendiri supaya karma yang kita lakukan tidak melenceng dari tujuan agama hindu yaitu kembali ke sangkan paraning dumadi, Tuhan Yang Maha Pencipta. Nilai dari jalan kerja (Karma Marga) yang kita laksanakan sangat tergantung pada berapa besar prosentase dari tingkat keikhlasan kita dalam bekerja, bukan pada besar kecilnya hasil yang kita peroleh.

JNANA MARGA

Kata jnana mempunyai makna ilmu pengetahuan. Jnana marga dapat dimaksudkan manusia dalam usahanya mencari Tuhan melalui jalan belajar tentang hakekat dari Tuhan itu sendiri (Widhi Tatwa). Siapa, bagaimana sifat-sifatnya, bagaimana dan dimana mencari-Nya?. Lalu kenapa jnana (ilmu pengetahuan) dikatakan sangat penting bagi perjalanan manusia mancari Tuhan? Jawabannya, karena diantara yadnya, ilmu pengetahuan adalah yadnya yang paling utama, seperti yang disebutkan dalam Bhagavad Gita Bab IV yang membahas tentang Jnana Yoga.

Sloka (33) menyebutkan:

srayan dravyamayad yajnaj
jnanayajnah paramtapa
sarvam karma ‘khilam partha
jnane perisamapyate

Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa, lebih bermutu daripada persembahan materi;
dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Parta.
Selanjutnya dalam bab yang sama sloka (34), (36), (37), (38), (39) dan (40) dikatakan :

Sloka (34)
tad viddhi pranipatena
pariprasnena sevaya
upadekshyanti te jnanam
jnaninas tattvadarsinah
Belajarlah dengan sujud disiplin, dengan bertanya dan dengan kerja berbakti; guru budiman yang
melihat kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi pekerti.

Sloka (36)
api ched asi papebhyah
sarvebhyah papakrittamah
sarvam jnanaplavenai ‘va
vrijinam samtarishyasi

walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa; dengan perahu
ilmu pengetahuan ini lautan dosa engkau akan sebrangi.

Sloka (37)
yathai ‘dhamsi samiddho ‘gnir
bhasmasat kurute ‘rjuna
jnanagnih sarvakarmani
bhasmasat kurute tatha
bagaikan api menyala, membakar kayuapi menjadi abu, oh Arjuna, api ilmu pengetahuan demikian
pula membakar segala karma jadi abu

Sloka (38)
na hi jnanena sadrisam
pavitram aha vidyate
tat svayam yogasamsiddhah
kalena ‘tmani vindati
Tidak ada sesuatu dalam dunia ini dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan; mereka yang
disempurnakan dalam yogi menemuinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya

Sloka (39)
sraddhavaml labhate jnanam
tatparah samyatendriyah
jnanam labdhva param santim
achirena dhigachchhati
Ia yang memiliki kepercayaan dan menguasai pancaindrianya akan mencapai ilmu pengetahuan;
setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera ia menemui kedamaian abadi.

Sloka (40)
ajnas cha ‘sraddadhanas cha
samsayatma vinasyati
na ‘yam loko ‘sti na paro
na sukham samsayatmanah

tetapi mereka yang dungu dan tidak percaya serta bersifat ragu, akan hancur sirna; bagi yang ragu diri, baginya tiada bahagia, tidak di dunia ini, pun tidak di dunia sana. Dari beberapa sloka di atas jelaslah, bahwa betapa sangat pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia untuk dijadikan landasan dan kompas yang dapat menopang dan mengarahkan langkahnya didalam melaksanakan Karma, Bhakti dan Raja Marga sehingga sesuai dengan hakekat ajaran weda yang merupakan kitab suci bagi umat hindu. Namun demikian, haruslah kita pertegas ilmu pengetahuan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh sloka-sloka di atas, karena ada dua katagori ilmu pengetahuan yaitu : pengetahuan tentang duniawi (alam nyata) dan pengetahuan tentang alam gaib (alam yang tidak nyata).

Pengetahuan duniawi seperti imu ekonomi, kedokteran, tehknik dan sebagainya, hanyalah berguna bagi kita sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia yang bersifat jasmaniah. Sedangkan ilmu pengetahuan yang dimaksudkan oleh sloka-sloka di atas adalahsesuai dengan apa yang disebutkan dalam Bhagavad Gita Bab X sloka (32):
……adhyatmavidya vidyanam …. diantara segala ilmu pengetahuan Aku falsafah Atman Jadi jelaslah yang dimaksud ilmu pengetahuan oleh sloka dalam Bab IV adalah ilmu pengetahuan tentang falsafah Atman. Yang dimaksudkan dengan falsafah Atman adalah hakekat dari pada Tuhan dan bagian-bagian kecil (percikan roh) dari pada Tuhan itu sendiri yang disembunyikan di dalam badan manusia yang merupakan mahkluk ciptaan-Nya.

Bagi mereka yang mendalami ajaran tentang falsafah Atman, ketika mereka sampai pada tingkatan mengenal Atman, maka mereka dapat dikatakan yang sudah mengenal dirinya sendiri. Bagi mereka yang sudah mengenal diri sendirilah yang dapat mengenal Tuhan-nya. Manusia yang sudah sampai pada tingkatan ini, karma yoga, bhakti yoga, dan raja yoga yang dia lakukan semuanya berdasarkan atas perintah Gusti, bukan karena nafsu atau ego, sebab sang Kawula sudah menyatu dan tunduk kepada Gustinya. Inilah kelebihan Jnana Marga (jalan ilmu pengetahuan) dibandingkan dengan marga-marga lainnya.

Dengan dikuasainya ilmu pengetahuan, manusia dapat bekerja lebih efektip dan efisien, dibandingkan dengan mereka yang dungu dan sedikit pengetahuannya, baik itu masalah pengetahuan duniawi ataupun pengetahuan tentang agama, karena ilmu pengetahuan itulah yang akan menuntun manusia menuju ke jalan yang benar untuk mencapai tujuan akhir. Maka dari itu, kejarlah ilmu pengetahuan terlebih dahulu sebanyak dan seluas mungkin.

BHAKTI MARGA

Pemahaman yang terdapat dalam Bhakti Marga (jalan bhakti) adalah melakukan sesuatu yang dilandasi oleh keikhlasan total sebagai perwujudan dari rasa hormat seseorang kepada sesuatu yang diyakininya untuk patut dihormati. Seperti, bhakti kepada orang tua, bhakti kepada negara, bhakti kepada guru dan bhakti kepada Yang Maha Pencipta. Bhakti kepada orang tua patut dilakukan oleh seorang anak, karena tanpa orang tua, kita tidak akan ada lahir ke dunia. Inilah bhakti kita kepada sang guru rupaka. Kepada negara, kita juga wajib berbhakti, wajib membela dan mempertahankan tanah air, karena tanpa adanya negara yang merdeka, kita akan sulit untuk bisa hidup tenteram dan damai.

Bhakti kepada guru pengajian, guru yang mengajarkan kita ilmu pengetahuan sehingga kita menjadi pintar harus dilakukan. Karena tanpa adanya rasa hormat kepada sang guru, maka ilmu yang diberikan kepada kita tidak akan bisa kita serap. Itulah sedikit pemahaman tentang bhakti dan diantara semua bhakti, yang akan kita bahas lebih jauh adalah bhakti kita terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Dalam pelaksanaan bhakti kita kepada Tuhan, sehari-hari kita malaksanakan apa yang disebut sembahyang. Pada hari-hari besar agama hindu, masyarakat hindu di Bali malaksanakan upacara ritual keagamaan dengan membuat dan mempersembahkan beraneka bentuk sesaji, mempersembahkan aneka tari-tarian, memuja dan menyembah sebagai ungkapan rasa bhakti mereka kepada Tuhan.

Yang masih perlu kita pertanyakan lebih jauh adalah apakah pelaksanaan sembah dan bhakti dari umat hindu sudah sesuai dengan ajaran Weda? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah paradigm “menyembah Tuhan melalui dewa, bethare dan leluhur” sesuai dengan dengan ajaran weda dan masih perlu dipertahankan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, diperlukan kajian yang lebih mendalam terhadap sastra-satra weda, sehingga yang tersiratlah yang dilaksanakan bukan yang tersurat dalam ayat-ayat ataupun sloka suci weda. Mari kita simak pertanyaan Arjuna kepada Kresna yang ditulis dalam kitab Bhagavad Gita Bab XII

sloka (1) yang bunyinya :
Evam satatayukta ye
Bhaktas tvam paryupasate
Ye cha ‘py aksharam avyaktam
Tesham ke yogavittamah

Jadi, penganut yang tawakal senantiasa menyembah Engkau, dan yang lain lagi menyembah Yang Abstrak, Yang Kekal abadi. Yang manakah lebih mahir dalam yoga? Ada keraguan dalam diri Arjuna tentang cara menyembah Tuhan. Mana yang lebih baik apakah menyembah Tuhan Yang Maha Abstrak yang jauh tak terbatas atau menyembah Kresna sebagai sang awatara Wisnu yang dapat dilihat dan diajak berbicara langsung oleh manusia. Pertanyaan Arjuna tersebut dijawab oleh Kresna dalam sloka (2), (3) dan (4) yang berbunyi :

Mayy avesya mano ye mam
Nityayukta upasate
Sraddhaya parayo ‘petas
Te me yuktatama matah

Yang menyatukan pikiran berbakti pada-Ku menyembah Aku, dan tawakal selalu, memiliki
kepercayaan yang sempurna, merekalah Ku-pandang terbaik dalam yoga.

Ye tv aksharam anirdesyam
Avyaktam paryupasate
Sarvatragam achintyam cha
Kutastham achalam dhruvam
Samniyamye ‘ndriyagraman
Savatra samabuddhayah
Te prapnuvanti mam eva
Sarvabhutahite ratah

Tetapi mereka yang memuja Yang Kekal Abadi, Yang Tak terumuskan, Yang Tak nyata, Yang Melingkupi segala, Yang Tak terpikirkan, Yang Tak berubah, Yang Tak bergerak, Yang Konstan, dengan menahan pancaindria, hawanafsu selalu seimbang dalam segala situasi, berusaha guna kesejahteraan semua insani, mereka juga datang kepada-Ku. Dalam medalami makna dari sloka di atas, yang harus dikaji lebih teliti adalah terhadap obyek bhakti dan sembah, yaitu Tuhan Yang Kekal abadi dan Aku. Aku yang dijadikan tujuan dari sembah menurut sloka di atas bukan Sang Kresna yang berwujud manusia. Yang dimaksudkan dengan Aku adalah Wisnu (bagian dari Roh Suci Tuhan) yang berdiam dalam diri manusia. Banyak ayat-ayat weda dan sloka yang menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa berdiam di dalam diri
manusia, Tuhan ada di dalam dan di luar diri manusia. Oleh karena itu, manusia dalam mencari Tuhan tidaklah perlu jauh-jauh dan tidak perlu melalui perantara makhluk lain, sebab Tuhan itu sangatlah dekat dengan kita. Pemahaman dan keyakinan inilah yang sangat penting untuk ditanamkan kepada diri kita dan generasi umat hindu kedepan, bahwa dalam mencari Tuhan Yang Maha Agung carilah terlebih dahulu bagian dari Roh Tuhan yang ada di dalam diri kita. Apabila kita sudah ketemu dengan Roh yang memberi kehidupan kepada kita, maka kita akan ketemu dengan Tuhan Yang Maha Agung. Kesukaran pada orang yang pikirannya terpusat pada Yang Tak termanifestasikan jauh lebih besar, dibandingkan dengan yang memusatkan pikirannya kepada bagian Tuhan yang berdiam di jantung hati kita. Sebagai bakta (orang yang senang berbakti), seharusnya mengerti betul tentang konsep bakti seperti apa yang dikehendaki sesuai dengan ajaran kitab suci. Apakah dengan membuat beraneka ragam sesaji, memotong berbagai macam binatang atau dengan mengasingkan diri ketengah hutan, itukah bakti yang dikehendaki oleh kitab suci?

Mari kita renungkan sloka (17), (18) dan (19) yang tercantum dalam kitab Bhagavad Gita Bab XII
berbunyi sebagai berikut :
yo na hrishyati na dveshti
na sochati na kankshati
subhasubha parityagi
bhajtiman yah sa me priyah
samah satrau cha mitre cha
tatha manapamanayoh
sitoshna sukhaduhkheshu
samah sangavivarjitah
tulyanindastutir mauni
amtushto yena kenachit
aniketah sthiramatir
bhaktiman me priyo narah

Dia yang tiada bersenang dan membenci, tiada berduka dan bernafsu apa-apa, membebaskan diri dari kebaikan dan kebatilan, penuh dengan kebaktian, dialah yang Ku kasihi. Dia yang sama terhadap kawan dan lawan, juga sama dalam kehormatan dan kecemaran, sama dalam panas dan dingin, suka dan duka, bebas dari belenggu keinginan semua, Sama terhadap puji dan maki, pendiam, prihatin pada apa adanya, tiada tempat tinggal, teguh imannya, yang berbakti begini inilah yang Ku kasihi. Dari yang tersirat pada sloka-sloka di atas, dapat kita ketahui, bahwa pengertian bakti ternyata sangatlah dalam sekali yaitu menjadikan manusia pada posisi titik nol.

Manusia yang sudah mencapai tingkatan nol (mati dalam kehidupan dan hidup dalam kematian), dia akan merasakan antara senang dan duka, kaya dan miskin, bagus dan jelek, tinggi dan rendah, segumpal tanah dan emas, pintar dan bodoh, semuanya sama. Dia sudah bisa melepaskan diri dari sifat dualisme. Inilah kebaktian puncak yang seharusnya dicapai oleh manusia. Namun demikian, untuk mencapai tingkatan bakti seperti yang dimaksudkan di atas bukanlah persoalan mudah, karena diperlukan tekad yang sangat kuat dalam mejalankan tapa, brata, yoga dan semadhi setiap hari. Janganlah konsep tapa, brata, yoga dan semadhi hanya dijadikan sebagai teori dan disimpan dalam otak sebagai perpustakaan maya, digembar-gemborkan ke segala penjuru arah, sebagai pemanis dharma wacana, akan tetapi harus dipraktekan, dilaksanakan, sehingga kita bisa merasakan dan menemukan sendiri hakiki dari tapa, brata, yoga dan semadhi tersebut.

Bukan berdasarkan kata orang, kata penceramah atau kata pedande, akan tetapi karena menemukan langsung didalam diri sendiri. Bagaimana dengan pelaksanaan bakti dari umat hindu yang lebih menonjolkan symbol-simbol keagamaan, aneka ragam sesaji seolah-olah para gaib (bethare dan dewa) perutnya sama besarnya dengan manusia, memotong hewan korban (caru) karena rasa takut terhadap para bhuta kala? Apakah itu bisa dikatakan salah? atau tidak sesuai dengan ajaran kitab suci? Lalu siapa yang berani mengatakan bahwa hal itu salah atau benar? Menjelaskan hal tersebut di atas, orang haruslah bias seperti lautan yaitu mempunyai wawasan yang sangat luas dan mendalam secara hakiki (jembar nalar jero dalem).

Pelaksanaan bakti yang ada sekarang, dimana orang hindu (umumnya di Bali) cendrung memilih jalan material yang lebih ditonjolkan, tidaklah salah bagi mereka yang tingkatan jnananya baru
pada tingkatan agama (sabda) pramana. Artinya, pelaksanaan bakti mereka baru pada tingkat pemahaman sebatas apa yang tersurat dalam kitab suci terutama lontar-lontar purana yang ada atau sebatas apa yang sudah diterima dari para guru, atau leluhur mereka. Apabila ada orang lain yang mengatakan hal tersebut salah, mereka pasti akan membantah dengan perasaan murka. Mereka yang dalam tingkatan ini, menjalankan bakti dan sembahyang masih pada tingkat sembahyang raga. Lain lagi bagi mereka yang sudah melaksanakan anumana pramana (analisa, pencarian lebih dalam tentang sesuatu), mungkin jawabannya akan lain.

Mereka ini sudah berada pada tingkat bakti dan sembahyang rasa dan sudah mendekati pada tingkat sembahyang cipta. Bagi mereka yang sudah sampai pada tingkatan pratyaksa pramana, juga jawabannya akan sangat berbeda dan bahkan kontradiktif (berlawanan) dengan fakta yang ada, karena mereka sudah menyaksikan langsung kenyataan yang ada di alam gaib. Mereka yang sudah sampai pada tingkatan ini, bakti dan cara sembahyangnya sudah sampai pada tingkatan cipta dan sukma. Mereka menyaksikan bagaimana cara bethare dan bhuta kala makan sesaji, apa sebenarnya kesukaan dari para gaib.
Mereka sudah bisa berkomunikasi langsung dengan gaib dengan memakai bahasa bathin (bahasa rahasia). Pertanyaan yang patut kita jawab, tidakkah ada niat dari kita untuk meningkatkan derajat kita sebagai manusia di mata Tuhan sehingga Roh kita bisa kembali kepada-Nya? Bagi yang menjawab “ada niat”, saya sarankan janganlah menyembah kepada dewa, bethare dan para leluhur, apalagi kepada bhuta kala. Menyembahlah hanya kepada Yang Maha Absolut yang menciptakan kita dan berada di dalam diri kita. Jangan menyembah selain Dia. Kepada para dewa, bethare, leluhur kita cukup hanya sebatas saling menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan (Tat Twam Asi). Inilah amanat suci dari kitab weda, apabila kita ingin dekat dengan Tuhan yang menciptakan kita. Konsep pemahaman menyembah Tuhan melalui dewa, bethare dan leluhur harus dihilangkan dengan alasan bahwa : pertama Tuhan ada di dalam diri kita dan kedua dewa, bethare dan leluhur belum sampai pada tingkatan mengenal Tuhan yang sebenarnya, atau belum sempurna yang sejati.

Sebaliknya, malahan kita yang harus mendoakan para bethare, leluhur, yang dulunya adalah manusia dan masih membawa dosa ketika pulang ke alam kehidupan, agar segala dosanya diampuni dan dianugrahkan kesempurnaan kepada mereka. Bagi saudara-saudara saya yang dalam proses mencari jati diri yang sejati, saran saya ini akan merupakan bahan renungan yang dalam ketika sedang berjalan mencari Yang Maha Rahasia. Akan tetapi, bagi saudara-saudara saya yang masih terkungkung dalam pola pikir sabda pramana, begitu kata lontar, begitu kata orang, anak sube keto dapet uling pidan (sudah begitu diwariskan dari dulu), saran saya ini akan dianggap racun yang akan merusak tatanan yang sudah ada sejak dulu.
Hal demikian itu sangatlah wajar, karena sangat tidak mudah untuk merubah kebiasaan seseorang apalagi sesuatu yang menyangkut keyakinan dan kita semua haruslah sepakat, bahwa dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakannya (vertikal) adalah sangat individu, orang lain tidak bisa ikut campur. Namun demikian, sebagai manusia kita juga tidak baik terlalu egois hanya mementingkan hubungan vertikal saja, akan tetapi jauh lebih penting apabila kita bisa memelihara hubungan yang harmonis berdasarkan kasih diantara sesama manusia. Masyarakat di Bali sangat mencintai ajaran kasih yaitu Tat Twam Asi yang diwujudkan dengan menghaturkan sesaji kepada para bhetare dan bhuta kala.
Akan tetapi, dalam mengimplementasikan ajaran kasih terhadap sesama manusia sangat berbeda dibandingkan terhadap para bhetare dan bhuta kala. Sesama manusia masih banyak yang saling irihati, saling menghina, saling menjelekan, berebut  warisan dan sebagainya, merupakan suatu fenomena tentang masih dangkalnya pengetahuan agama yang dimilikinya karena terselimuti rasa ego, sifat merasa bisa, loba, sirik, nafsu dan marah. Dalam perjalanan mencari jati diri yang sejati, hal-hal seperti di atas harus direnungkan secara mendalam. Pusatkanlah sembah dan bhaktimu hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa kalau kamu ingin bertemu Tuhan, tanpa perlu perantara siapapun.

Dalam Bab XII sloka (20) kitab Bhagavad Gita ditegaskan :
ye tu dharmyamritam idam
yathoktam paryupasate
sradhadhana matparama
bhaktas te ’tiva me priyah

Tetapi mereka yang dengan kepercayaan mengikuti ajaran dharma yang kekal abadi seperti
tersebut tadi, dan menjadikan Aku sebagai tujuan mereka tertinggi, penganut yang begini inilah
yang paling Ku-kasihi.

Dalam Rgveda X.121.8, dikatakan :
Yasvidapo mahima paryapasyad
Diksam dadhana ganayantir yajnam,
Yo devesvadhi deva eka asit
Kasmai devaya havisa vidhema.

Dewata yang manakah yang kita puja dengan persembahan ini, Dewata yang dalam kemuliaan-Nya melihat air, memberikan kekuatan spiritual dan mendorong kita agar melakukan pemujaan, Tuhan Yang Maha Esa di atas para dewata. Kalau kita meyakini, bahwa tujuan utama dari ajaran Weda yang merupakan kitab suci bagi umat Hindu yaitu Aham Brahman Asmi, menyatunya roh yang ada di dalam diri kita kepada Roh Yang Agung (Parama Atman), maka ketika kita melakukan sembah, peikiran dan ucapan kita haruslah tertuju langsung kepada Tuhan, tidak lagi melalui perantara siapapun.

RAJA MARGA

Jalan Mistik (Raja Marga) merupakan lelakon yang sifatnya mencari kebenaran lebih jauh tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Rahasia dan berusaha dengan ilmu pengetahuan (Jnana) yang dimiliki untuk menguak tabir misteri dari Sang Maha Misteri. Dalam Karma dan Bhakti Marga, kegiatannya masih lebih banyak memakai jasmani, maka dalam Raja Marga yang bekerja lebih banyak hati dan pikiran. Melaksanakan upacara, beryadnya, dharma yatra dan sebagainya, adalah merupakan ruang lingkup dari jalan kerja (Karma) dan jalan Bhakti yang merupakan perwujudan dari sedikit Jnana yang dikuasai. Ketika manusia memperdalam ilmu pengetahuannya tentang hakekat ketuhanan, hakekat kehidupan, berpikir jauh tentang keberadaan alam kelanggengan yaitu alam kehidupan setelah kematian yang serba tidak kasat mata (gaib), maka yang banyak berperan adalah hati dan pikiran. Pikiran sangatlah berperan dalam menentukan arah dari perjalanan kehidupan manusia dan pikiran sangatlah sulit untuk dikendalikan. Kitab Saracamuscaya Sloka 80 mengatakan :

Apan ikang manah ngaranya,
ya ika witning indriya,
maprawati ta ya ring cubhacubhakarma,
matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng.

Terjemahannya : Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang
menggerakkan perbuatan yang baik ataupun yang buruk; oleh karena itu, pikiranlah yang segera
patut diusahakan pengekangannya/pengendaliannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran akan selalu dipengaruhi oleh nafsu yaitu nafsu untuk berbuat
baik (satwam), nafsu marah (amarah), nafsu birahi (kama), nafsu loba (lobha) dan nafsu iri hati
(matsarya). Kelima nafsu ini, akan selalu menimbulkan dualisme (rwa bineda) dalam kehidupan
manusia.

Dalam Bhagawad Gita Bab VII Sloka (27) dikatakan :
ichchhadvesha samutthena
dvandvamohena bharata
sarvabhutani sammoham
sarge yanti paramtapa

Artinya : semua mahkluk sejak lahir, oh Barata telah disesatkan oleh dualisme pertentangan yang lahir dari hawanafsu (birahi), ketamakan, amarah dan dengaki, wahai Parantapa.

Sloka ini mengandung makna yang sangat dalam apabila dilengkapi lagi dengan nafsu berbuat baik. Karenadi dalam diri setiap manusia apapun agamanya, apapun warna kulitnya, apapun suku bangsanya, kelima sifat ini sudah ada sejak lahir. Dalam perjalanan hidupnya kedepan, masing-masing orang akan tampak jelas sifat mana yang lebih dominan dalam kesehariannya. Musuh manusia yang paling utama adalah nafsu itu sendiri yang memang sudah disatukan oleh sang Maha Pencipta di dalam diri manusia. Maka dari itu, mengalahkan diri sendiri tidak lain adalah menekan hawanafsu sampai mati, setelah itu barulah dihidupkan, akan tetapi hawanafsu tersebut sudah dalam kendali intelek manusia.

Dalam Bab III Sloka (38) kitab Bhagawad Gita dikatakan :
dhumena ’vriyate vahnir
yatha ’darso malena cha
yatho ‘lbena ‘vrito garbhas
tatha tene ‘dam avritam

Artinya: bagaikan api diselubungi asap, bagaikan cermin diliputi debu, bagaikan bayi dibungkus
dalam kandungan, demikian pula Dia diselimuti olehnya (nafsu).

Perumpamaan di atas menjelaskan kepada kita, bahwa bila ingin melihat api, maka asap haruslah dihilangkan, bila ingin melihat cermin, maka debu haruslah disapu bersih, bila ingin melihat bayi, maka kandungannya harus pecah (lahir) dan apabila ingin melihat Dia (Atman) maka segala nafsu haruslah dilenyapkan. Hawa nafsu dapat menyebabkan seseorang yang sudah memiliki ilmu pengetahuan, arif bijaksana menjadi gelap dalam bertindak manakala mereka lengah terhadap pertehanan dirinya yaitu eling lan waspodo (selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap godaan setan). Memang, untuk mengalahkan hawanafsu bukanlah persoalan mudah bagi manusia yang hidup di dalam dunia yang penuh dengan kenikmatan akan tetapi semuanya semu.

Selanjutnya Bab III sloka (41) mengatakan :
tasmat tvam indriyany adau
niyamya bharatarshabha
papmanam prajahi hy enam
jnana vijnana nasanam

Artinya : dari itu, oh Barata yang terbaik, kendalikanlah pancaidriamu pertama dan basmilah nafsu
yang penuh dosa, perusak segala ilmu pengetahuan dan kebajikan.

Jadi tugas kita yang pertama adalah mengendalikan pancaindria. Yang dimaksud adalah mengendalikan pikiran dari nafsu berbuat baik akan tetapi tidak ihklas (masih mengharapkan pahala), mengendalikan telinga (niatnya supaya tidak mudah tersinggung dan marah), mengendalikan mulut (niatnya supaya tidak menjadi orang yang mendewakan sifat loba), mengendalikan mata (niatnya supaya tidak menjadi orang yang mengumbar nafsu birahi), mengendalikan hidung (niatnya supaya tidak menjadi orang yang sirik kepaada orang lain). Setelah pancaindria terkendali dan pikiran sudah terbebas dari pengaruhnya, maka secara otomatis pengaruh nafsu juga akan musnah dan terkendali. Untuk mencapai keadaan seperti ini, maka kita harus sering melakukan introspeksi kedalam diri, sering melakukan perenungan atau mengheningkan pikiran dan hati, sehingga antara pikiran dan hati selalu terjadi dialog tentang kebenaran yang hakiki yaitu Tuhan Yang Mahabenar. Hal ini dijelaskan dalam Bab VI Kitab Bhagawad Gita yang mengajarkan tentang Dhyana Yoga.

Dalam sloka (11), (12), (13), dan (14) disebutkan :
suchau dese pratishthapya
sthiram asanam atmanah
na ’tyuchchhritam na ’tinicham
chaila jina kusottaram

tatrai ’kagram manah kritva
yata chittendriya kriyah
upavisya ‘sane yunjyad
yogam atma visuddhaye

samam kayasirogrivam
dharayann achalam sthirah
samprekshya nasikagram svam
disas cha ‘navalokayan

prasantatma vigatabhir
brahmacharivrate sthitah
manah samyamya machchitto
yukta asita matparah

Artinya : dengan teguh duduk di tempat yang bersih, tidak tinggi dan juga tidak rendah, ditumbuhi oleh rumput suci kosa, di atasnya kulit rusa dan kain silih bertindih. Disana, dengan menyatupasukan hatinya, mengendalikan pikiran dan gerak pancaindria, ia bersila di atas tempat duduknya, melaksanakan yoga, menyucikan jiwa. Dengan badan, kepala dan leher tegak, duduk diam tiada bergerak-gerak, tetap memandang ke ujung hidungnya, dan tanpa menoleh-noleh sekitarnya. Dengan tenteram damai tiada gentar, teguh sebagai cantrik, menaklukkan hatinya dengan harmonis memikirkan Aku belaka, biarlah ia duduk, Aku jadi tujuannya.

Demikianlah Bhagawad Gita mengajarkan kita tentang konsep dasar dalam melakukan perenungan atau lebih dikenal dengan semadhi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan semadhi antara lain : pertama tempat yang nyaman, kalau di luar sebaiknya yang ada rumputnya dan di atasnya diletakkan suatu alas duduk yang empuk dan tidak tembus air, supaya duduknya nyaman, kalau di dalam kamar suci, sebaiknya pakai alas karpet dan bantalan dari busa yang empuk. Kedua, suhu udara tidak panas atau terlalu dingin. Ketiga, posisi badan ketika semadhi tegak kokoh, mata setengah memejam memandang ke ujung hidung dengan muka tetap menghadap kedepan. Keempat, pikiran harus dikendalikan dengan selalu memikirkan Tuhan yang ada di dalam diri kita.Dengan pikiran kita melakukan dharma yatra ke tempat yang paling rahasia yang ada di dalam diri kita yaitu singgasananya Sang Saksi Agung atau Roh yang menghidupi kita.

Ditegaskan dalam Bab VI sloka (20), (21) berbunyi :
yatro ‘paramate chittam
niruddham yogasevaya
yatra chai ‘va ‘tmana ‘tmanam
pasyam atmani tushyati

sukham atyantikam yat tad
buddhigrahyam atindriyam
vetti yatra na chai ‘va ‘yam
sthitas chalati tattvatah

disana dimana pikiran telah tenteram terkendalikan oleh konsentrasi yoga, menyaksikan Jiwa dengan jiwa, dan jiwa merasa dalam bahagia. Dimana dijumpai kebahagiaan terrtinggi dengan intelek di luar kemampuan pancaidria, disana ia mencapai tujuan dan tiada lagi jatuh dari kebenaran. Dalam sloka di atas, merupakan gambaran dari seseorang yang telah berhasil mencapai tingkatan seorang yogi, dimana dia sudah mempertemukan antara jiwa pribadinya (kawula) dengan Jiwa yang agung (Gusti) atau dengan kata lain manunggaling kawula lan Gusti. Orang yang sudah mencapai tingkat kesadaran seperti ini, sudah terbebas dari hukum reinkarnasi, kecuali Tuhan menghendaki dia harus turun lagi kedunia dengan membawa misi tertentu.

Dalam Bab VIII sloka (10), (12) dan (13) kitab Bhagawad Gita dikatakan :
prayanakale manasa ‘chalena
bhaktya yukto yogabalena chai ‘va
bhruvor madhye pranam avesya samyak
sa tam param purusham upaiti divyam

sarvadvarani samyamya
mano hridi nirudhya cha
murdhny adhaya ‘tmanah pranam
asthito yogadharanam

aum ity ekaksharambrahma
vyaharan mam anusmaram
yah prayati tyajan deham
sa yati paranam gatim

Dengan bermeditasi pada saat ajal tiba, pikiran tenang, tetap berbakti dengan kekuatan yoga dan nafas hidup tepat ada diantara kedua kening, ia mencapai Dia Yang Maha Suci. Semua pintu gerbang dikuasai, pikiran dibatasi oleh hati, nafas hidup di kepala, tegak dalam konsentrasi yoga. Dia yang mengucapkan aksara tunggal AUM yaitu Brahman, dan mengenangkan Aku sewaktu ajal telah memanggil kembali meninggalkan jasmani, pergi ke tujuan tertinggi. Oleh karena Raja Marga atau jalan mistik lebih banyak mempergunakan sarana pikiran dan hati dalam tujuan berkomunikasi dengan alam gaib yang sifatnya halus, maka mereka yang menempuh jalan ini haruslah senantiasa berusaha membersihkan pikiran dan hati dengan sesering mungkin melakukan japa, melepaskan keterikatan nafsu terhadap duniawi yang semu dan cendrung menjebak serta membebani pikiran manusia untuk kembali ke sangkan paraning dumadi.

Dunia gaib adalah dunia halus, semakin keatas semakin halus. Dengan tekad yang kuat, teguh iman dalam menghadapi godaan dan cobaan dengan mengunci pikiran agar setiap saat menuju kepada Tuhan, sehingga ketika kita berbicara dan bekerja, semata-mata hanya karena Dia. Semua nafsu pribadi
(ego) dilenyapkan, bebaskan pikiran dari dualisme baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, kaya dan miskin, panas dan dingin, berdiri tegak dalam kebijaksanaan Tuhan, serahkan semuanya kepada Yang Maha Pencipta (Iswara prani dhana), maka atas restu-Nya, tujuan tertinggi Aham Brahman Asmi akan dapat tercapai. Orang dapat mencapai tingkatan ini adalah betul-betul merupakan manusia pilihan dari sekian banyak manusia yang sudah mencapai kesempurnaan. Diibaratkan, seperti tepung yang sudah halus, masih diayak lagi sehingga keluar yang terhalus. Disini, faktor kehendak yang sangat menentukan, siapa-siapa yang dipilih diantara mereka yang sudah mencapai tingkatan yang sempurna dalam kehidupan.

Bab VII sloka (3) kitab Bhagawad Gita menyebutkan :
manushyanam sahasreshu
kaschid yatai siddhaye
yatatam api siddhanam
kaschin mam vetti tattvatah

Diantara beribu-ribu manusia, hampir tak seorang mengejar kesempurnaan, dan diantara mereka
yang berhasil, hampir tak seorang mengenal Aku dalam kebenaran.

Selanjutnya Bab VI sloka (47) mengatakan :
yoginam api sarvesham
madgatena ’ntaratmana
sraddhavan bhajate yo mam
sa me yuktatamo matah

Dan juga diantara semua yogi, dengan penuh kepercayaan menyembah Aku, dengan inti jiwa
bersatu pada-Ku, ia adalah yogi terbaik bagi-Ku.

Dari sloka-sloka di atas, makna yang terkandung adalah, betapa sulitnya perjalanan manusia dalamusahanya ketemu dengan yang menciptakan dia, yaitu Yang Maha Rahasia dan Maha Misteri, walaupun sudah diturunkan kitab-kitab suci yang dapat dijadikan sebagai penuntun mereka. Yang Maha Misteri tetap misteri bagi ciptaan-Nya. Sebagai manusia, wajib berusaha untuk bisa merobah kodrat Tuhan, karena Tuhan tidak akan merubah keadaan seseorang tanpa ada usaha yang keras dari yang bersangkutan.

PENUTUP

Catur Marga (empat jalan) yang harus dilaksanakan manusia dalam usahanya untuk mencapai tingkat kesadaran tertinggi yaitu kembali kepada Yang Maha Pencipta, merupakan satu kesatuanyang satu sama lainnya sangat berkaitan, sehingga keempat karma tersebut harus dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Jnana (ilmu pengetahuan) tentang hukum ketuhanan yang ada dalam kitab suci sebagai dasar untuk meluruskan pelaksanaan marga-marga lainnya. Akan terdapat perbedaan yang kelihatannya kontradiktip dalam pelaksanaan sembahyang antara mereka yang masih dalam tahap menjalankan karma dan bhakti marga dengan mereka yang sudah dalam tahapan menjalankan raja marga.

Sembahyang raga dan sembahyang rasa adalah bagi mereka yang masih dalam tingkatan karma dan bhakti marga. Sedangkan bagi mereka yang sudah dalam tahapan melaksanakan raja marga, cara sembahyangnya sudah pada tingkatan sembahyang cipta dan sukma. Mereka sudah bisa sembahyang dalam keadaan sedang bekerja, berjalan, duduk santai dengan pakaian yang sederhana, sambil ngobrol dan mereka cendrung terlihat aneh dimata kebanyakan orang. Dan yang paling penting, perbedaan itu tidak perlu diperdebatkan atau dipermasalahkan, karena hal ini sangat tergantung dari tingkat pemahaman (jnana) masing-masing orang. Akan tetapi satu kunci yang paling penting untuk dipahamidan dijalankankan, bahwa yangkita sembah adalah hanya satu yaitu Tuhan Yang Maha Absolut,  tidak ada yang lain dan tidak melalui perantara siapapun baim itu dewa, bethare ataupun leluhur. Masing-masing individu bertanggung jawab mutlak kepada Tuhan atas karma yang dia laksasanakan di dunia, tidak ada orang lain yang bisa mewakili.

Sebagai penutup dari tulisan ini, para pembaca yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih luas dibidang agama dan spiritual agar berkenan melengkapi tulisan ini yang masih jauh dari sempurna, sehingga akan lebih berguna bagi pembaca lainnya. Akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui jualah kita bersujud, karena semua kata-kata dan kalimat di atas adalah atas restu-Nya.

OM TAT SAT EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM