Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Dengan Pengalaman Kita Berkembang

Dalam ilmu spiritual Jawa ada disebutkan Waton Bab Bener Lupute Wong Urip (Patokan Tentang Benar Salahnya Orang Hidup):
Bener lupute wong urip (Benar salahnya orang hidup): Benering wong urip, eling marang Uripe. Lupute wong urip, lali marang Uripe. (Benarnya orang hidup, ingat kepada Hidupnya. Salahnya orang hidup, lupa kepada Hidupnya.)

Bener lupute wong lali (benar salahnya orang lupa): Benering wong lali, angudi kaweruh kasunyatan.  Lupute wong lali, lumuh angudi kaweruh kasunyatan. (Benarnya orang lupa, mencari pengetahuan kesejatian. Salahnya orang lupa, enggan mencari pengetahuan kesejatian.)
Kapriye wajibe wong urip (Bagaimana seharusnya orang hidup): Wajibe wong urip rumangsa ing Uripe. Hinaning wong urip, ora rumangsa ing Uripe. (Seharusnya orang hidup merasakan Hidupnya. Hinanya orang hidup, tidak merasakan Hidupnya.)
Asaling pangudi lan lumuh (Awal dari pencarian dan keengganan): Asaling pangudi saka rumangsa, asale lumuh amarga tan rumangsa. Wong urip kudu rumangsa kawula, rumangsa dosa. (Awal dari pencarian karena merasa, awal dari keengganan karena tidak merasa. Orang hidup harus merasa sebagai “wong cilik”, merasa berdosa.)
Brahman adalah Hidup dari hidup kita. Ingat kepada Hidup berarti ingat kepada Brahman. Orang yang sudah mampu “mengingat” Hidupnya adalah orang yang sudah mencapai Kebenaran, yang sudah mencapai Kesadaran Hidup, Kesadaran Atman, Kesadaran Brahman (benering wong urip, eling marang Uripe). Sementara jiwa kita yang masih tertutup avidya, tidak mampu mengingat Hidup kita, kita terus berkutat pada kehidupan yang maya, ketidaklanggengan, tetapi kita demikian terpesona, terpaku, terbelenggu, melupakan Hidup kita, melupakan Atman, melupakan Brahman, ini adalah dosa, ini adalah suatu kesalahan (lupute wong urip, lali marang Uripe).
Kesalahan yang terjadi selama ini harus kita perbaiki, dengan terus membangun keteguhan tekad, setapak demi setapak mencari pengetahuan kesejatian, mempelajari tattva, belajar dan belajar, mencari dan mencari, untuk menemukan keberadaannya (benering wong lali, angudi kaweruh kasunyatan). Di sela-sela kita menikmati kesenangan, mengeluhkan kesusahan, merayakan kemenangan, menangisi kekalahan, meraup keuntungan, menghitung kerugian, sering bermunculan berbagai pertanyaan di benak kita mengenai hakekat dari semua yang kita alami, tetapi kita acapkali mengabaikannya, tidak pernah berusaha mencari jawabannya, akhirnya sering berakhir di jurang kehampaan, ya, hati kita menjadi hampa, seakan semua kejadian yang dialami hanyalah rutinitas belaka, tanpa makna sama sekali (lupute wong lali, lumuh angudi kaweruh kasunyatan).
Lalu, dengan kesadaran terbatas ini, apa yang seharusnya kita lakukan? Walaupun kita belum mencapai Kesadaran Brahman, kita harus berusaha merasakan keberadaan-Nya, kapan, di mana dan pada apapun juga (wajibe wong urip, rumangsa ing Uripe). Tanpa ada usaha seperti itu, kita akan tetap terkurung dalam kepapaan, penderitaan akan terus berlanjut (hinaning wong urip, ora rumangsa ing Uripe).
Dengan merasakan kehadiran Kasih Brahman di dalam segala hal akan menumbuhkan kerinduan jiwa akan Sumbernya, ingin segera memulai pendakian spiritual kita. Tetapi jangan harapkan hal itu terjadi pada saat kita masih berkutat dalam pusaran rwa bhineda tanpa pernah berusaha merasakan kehadiran Kasih Brahman di dalam keduanya. Bagaimana mungkin tanpa merasakan kehadiran Kasih Brahman di dalam keduanya kita bisa mempersamakan rwa bhineda, mempersamakan dua hal yang bagi pikiran kita begitu berlawanan (Asaling pangudi saka rumangsa, asale lumuh amarga tan rumangsa). Untuk dapat melakukan itu, kita harus mengalahkan ego kita, menaklukan kesombongan dan keangkuhan kita, mengedepankan pola hidup sederhana, menyadari kesalahan yang mengakar dalam pola pikir kita selama ini (Wong urip kudu rumangsa kawula, rumangsa dosa).
Keluarga menyediakan mainan bagi anak-anak untuk membuat mereka gembira. Brahman menyediakan karma dan dharma kepada kita semua untuk membuat kita gembira, membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Dia menciptakan, mengembangkan, dan akhirnya menyerap segalanya kembali dalam peleburan agung alam semesta. Brahman melahirkan semua jiwa, para rishi suci memberitahu kita; dan kita berkembang, kembali menelusuri bayang-bayang-Nya, bayang-bayang perjalanan kita yang panjang, mereka menjelaskan lebih jauh. Mainan hidup berupa pengalaman membantu kita dalam berevolusi, menjaga kita agar menikmati apa adanya sehingga kita bisa belajar dan berkembang secara spiritual dan mengalami karma, dharma, dan mengalami alur cerita serangkaian peristiwa mengikuti rta (hukum-hukum dasar alam semesta). Sama halnya dengan anak-anak yang dapat tertawa dengan gembira pada saat mereka bermain-main dengan mainannya, dan di lain waktu sengaja atau tidak mereka merusak, mematahkan atau memecahkan mainannya lalu menangis, tidak jarang si anak menyalahkan teman bermainnya lalu melempar mainan tersebut ke teman yang disalahkannya itu, bahkan sering diakhiri dengan pertengkaran, begitulah kita pada umumnya, seringkali saling gasak dan saling melukai, baik secara fisik maupun perasaan, melalaikan dharma (swadharma maupun paradharma), membuat karma, menyakiti diri kita sendiri dan juga orang lain, atau kita kemudian mengambil hikmah dari semuanya, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, baik yang membuat kita tertawa maupun yang membuat kita menangis, semua direnungkan, dan perenungan membantu diri kita dan yang lain sebagaimana kita bermain-main dengan evolusi diri kita sendiri, yang semakin memperkuat diri kita, semakin belajar semakin tumbuh bijaksana.
Semasih kita dipengaruhi oleh rwa bhineda, pada dasarnya kita melupakan Brahman, tetapi ada banyak cara (marga yoga) yang dapat menolong kita menghindari gangguan tersebut, agar kita bisa ingat untuk senantiasa melihat Brahman di mana-mana. Salah satu cara praktis menempatkan Brahman di tengah-tengah semua ini adalah dengan senantiasa mengulang-ulang nama kesayangan yang kita berikan untuk-Nya. Lakukan japa, melantunkan mantra-mantra pujian kepada Brahman yang kita sukai, misalnya mantra Gayatri, atau japa-japa singkat yang meluhurkan salah satu Jiwa Utama Brahman yang sekiranya dapat menenangkan diri kita, misalnya japa “Om Namah Siwaya” atau banyak lagi yang lain. Dalam hati kita persembahkan semua itu kepada-Nya. Lihatlah Dia pada semua orang yang kita jumpai atau hadapi, dengan mengabaikan keadaannya. Dia di sana sebagai daya hidup mereka, tetapi hanya saja kita perlu meredam pikiran kita untuk melihat. Tersenyumlah ketika merasa tidak senang dengan seseorang dan berkata pada diri sendiri, “Bagaimana sebaiknya melihat-Mu, Oh Brahman, dalam wujud ini.” Tumbuhan, binatang, manusia pengemis, pangeran, politikus, pengusaha, teman-teman dan musuh, orang suci, orang arif dan bijaksana, semuanya dijiwai oleh Kasih Brahman. Kita tersenyum dan berpikir untuk Dia, “Bagaimana sebaiknya melihat-Mu, Oh Brahman, pada yang ini, pada yang itu, pada yang lain, dan pada banyak lagi wujud-wujud yang lainnya.”
ascarya-vat pasyati kascid enam
ascarya-vad vadati tathaiva canyah,
ascarya-vac caiman anyah srnoti
srutvapy enam veda na caiva kascit.
(Bhagavad-Gita II.29)
Seseorang melihat kebesaran-Nya, yang lain mengatakan tentang keagungan-Nya, yang lain mendengar tentang kemuliaan-Nya, namun setelah mendengar-Nya, tak seorang pun memahami-Nya.
Tidak seorangpun dapat memikirkan Brahman sebagai Dia yang tak berwujud. Pikiran meresapinya di segala wujud, yang memberinya pemahaman tentang Dia Yang Utama, dan dari pemahaman yang benar membawanya kepada pelayanan yang tanpa pamrih, dari pelayanan seperti itu menuntunnya kepada kesadaran sejati, menyadari Yang Tak Berwujud. Para rishi meyakinkan bahwa kemurnian akan memberikan kesadaran Paramatman, dengan banyak perenungan akan dapat menyadari Satchidananda, apakah dalam bulan-bulan atau tahun-tahun mendatang, di hari tua atau bahkan sesaat sebelum ajal tiba. Kesempurnaan dari pengalaman hidup dialami, penampilan dari tujuan terdahulu yang disempurnakan, akan menuntun jiwa pada pemusnahan keinginan untuk menuntaskan tujuan akhir dari hidup keduniawian. Sebelum mencapai tujuan akhir hidup keduniawian, setiap orang di muka bumi ini memiliki keinginan. Ada kalanya keinginan itu terpenuhi, merasa dikabulkan karena doa-doa pengharapan yang dipanjatkan, di lain waktu pemenuhannya dirasakan sebagai suatu kewajaran, nampak secara alami mengikuti hukum-hukum dasar alam semesta. Itu adalah kekuatan yang sama dari keinginan yang ingin menuntaskan semua ini, menuju ke satu titik tujuan yang disebut kebahagiaan sempurna. Keinginan seorang ibu untuk memelihara anak-anaknya dan menjadi istri yang baik, keinginan seorang ayah untuk menyangga penghidupan keluarganya, keinginan seorang ilmuwan untuk mendapatkan penemuan, keinginan seorang atlet untuk mengungguli, keinginan seorang yogi untuk manunggal dalam keesaan dengan Brahman, itu adalah kekuatan keinginan yang sama, berubah melalui chakra yang mereka bangkitkan, sebagai perkembangan jiwa. Itu adalah keinginan yang sama yang menyeret para pecinta kehidupan rohani untuk mengenal Dia yang di luar waktu dan wujud, Dia yang ada di luar ruang dan sebab. Membuat mereka tumbuh menjadi orang-orang yang sabar, dalam kesabaran tanpa batas.
@mangku sura