Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

ESENSI “ PECANANGAN” BAGI KEHIDUPAN SEBUAH KAJIAN JAWA KUNO



Biasanya kita sering melihat para sulinggih, pemangku, ataupun  orang-orang tua di Bali mempunyai kebiasaan “nginang” atau dlam bahasa halusnya disebut “mecanangan” (biasanya untuk kalangan sulinggih), suatu kegiatan makan base/sirih yang sudah dicampur dengan buah/buah pinang, kapur dan gambir. Pecanangan (bahan-bahan untuk mecanangan) itu sering menjadi “rayunan” utama untuk seorang sulinggih.

Kebiasaan tersebut (baca: nginang, yang juga merupakan bahasa Jawa dan mempunyai arti yang sama) juga sering dilakukan oleh para orang tua di Jawa pada jaman dahulu. Walaupun sekarang jarang kita temukan orang-orang tua yang melakukan kebiasaan itu, namun yang jelas kebiasaan itu pernah memasyarakat dan saat ini pun mungkin masih tetap ada.
Kalau kita lihat sepintas mecanangan ini hanyalah suatu kegiatan sepele saja, bahkan sebagian orang di jaman modern ini mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak cocok lagi dilakukan di era globalisasi ini. Namun jika kita kaji kembali,  di balik itu sesungguhnya tersimpan nilai kehidupan yang sangat dalm dan kalau boleh dikatakan sebanding dengan esensi kehidupan yang mengandung pandangan-pandangan hidup yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk mengarungi lautan kehidupan di dunia maya ini.
Dalam pada itu, di sini akan kita kupas satu per satu mengenai esensi yang terkandung dalam pecanangan tersebut yang sebagaimana disebutkan di muka bahwa pecanangan itu terdiri dari sirih, buah pinang, kapur dan gambir.

Sirih
Sirih dalam bahasa Jawa disebut sebagai “suruh”, yang kalau dikaji lebih lanjut, kata ini merupakan gabungan dari suku kata “su” dan “wruh”. Su, ini adalah kata Jawa Kuno yang berarti baik, sungguh, benar (Astra, dkk : 1984). Sedangkan wruh, juga merupakan kata Jawa Kuno, yang berarti tahu atau pengetahuan (dalam bahasa Jawa : kawruh).
Dengan demikian suruh dapat diartikan sebagai pengetahuan yang baik dan benar atau utama, yang mengandung maksud bahwa kita sebagai manusia yang dikaruniai akal budi harus mempunyai pengetahuan yang baik dan benar sebagai bekal di masa tua nanti karena hanya pengetahuanlah teman terbaik dalam hidup ini sebagaimana yang terungkap dalam Kekawin Niti Sastra II.5 yang berbunyi :
Norana mitra magewihna waraguna maruhur”
(Tiada teman sebaik pengetahuan yang utama).

Walaupun begitu, untuk mencapai pengetahuan yang utama ini biasanya pahit rasanya seperti rasa sirih waktu dimakan dan kalau tidak tawar kita bisa muntah-muntah. Akan tetapi kita jika kita ingat bahwa pengetahuan utama itu bisa membuat kita mencapai kebahagiaan maka betapapun pahitnya tentu akan terus kita jalani. Ingat pepatah mengatakan “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”.

Buah Pinang
Buah pinang dalam bahasa Jawa disebut sebagai “jambe” yang erat kaitannya dengan kata kata “jampi” yang dalam arti luasnya adalah mantra (biasanya jampi-jampi yang berupa mantra ini diberikan oleh seorang dukun kepada pasiennya). Sedangkan mantra adalah kata Sanskerta yang berasal dari kata “man” yang berarti pikiran dan “trana” yang berarti membebaskan. Di sini dimaksudkan bahwa kita harus mampu membebaskan pikiran dari segala macam bentuk nafsu sebagaimana yang diamanatkan dalam Sarasamuscaya 80 yang menyatakan:
Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subha asubha karma, matangnyan ikang manah juga prihen kahartanya sekareng
(Sebab yang disebut pikiran itu adalah sumber dari segala macam nafsu yang menggerakkan baik-buruknya perbuatan, oleh karena itu pikiranlah yang patut diupayakan pengendaliannya)

Kapur
Kapur sebenarnya kata serapan dari bahasa Sanskerta “karpura” yang artinya barang yang berwarna putih, dari batu putih (Sharma, 1985 : 56). Dan kapur sendiri juga bisa digunakan untuk membersihkan lendir pada ikan tertentu sebelum dimasak.
Terkait dengan hal tersebut, makna yang dapat diambil adalah agar kita memusnahkan buah dari segala perbuatan kita sebagaimana kapur menghilangkan lendir ikan sebelum dimasak, yaitu dengan tidak berpikir akan hasil dari segala kerja kita.
Hal senada juga terungkap dalam Bhagavad Gita V.10 yang berbunyi,
Brahmanya adhaya karmani sanjam tyaktva karoti yah,
Lipyate na sa papena padma patram ivambhasa”.
(Mereka yang mempersembahkan semua kerjanya, kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai oleh air).

Menyimak ulasan-ulasan tersebut di atas, makna yang bisa kita ambil dari ketiga bahan tadi (sirih, buah pinang, dan kapur) adalah bahwa kita harus berpengetahuan suci, melepaskan ikatan nafsu, dan membebaskan diri dari buah kerja. Hal sebagaimana selaras dengan apa yang tersurat dalam Vrhaspati Tattva yang manyatakan,
Telu prakara nikang sadhana, anung gawayakena de sang mahyun ing kalepasan, jnana bhyudreka ngaranya ikang wruh ring tattwa kabeh, indriyayoga marga ngaranya ikang tan jenek ring wisaya, trsnadoksaya ngaranya ikang humilangaken phalaning subha asubha karma
(Ada tiga cara yang harus dilakukan oleh Sang Sadhu untuk mencapai kelepasan yaitu; jnanabhyudreka yang berarti tahu semua tattwa, indriyayoga marga yang berarti tidak menikmati indriya/nafsu, trsnadoksaya, yaitu memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk).

Dari uraian tersebut, maka sangatlah tepat jika ketiga bahan tersebut dijadikan bahan untuk “porosan” yang selain sebagai simbol esensi ilahi (Brahma, Visnu dan Siva), juga berarti sumbu, di mana pada lampu minyak misalnya, sumbu tersebut bisa membawa minyak naik kemudian hilang dan menjadi sesuatu yang terang. Jika konsep kelepasan seperti ini, maka seperti itu juga ketiga cara yang dimaknakan dari ketiga bahan pecanangan tersebut akan membawa manusia menuju pencerahan dan kalepasan (moksa).

Gambir
Gambir dalam bahasa Jawa berarti senang, bahagia, ataupun gembira yang kemudian dikhususkan lagi menjadi “gambiraning ati” yang artinya kebahagiaan batin.
Jadi setelah melaksanakan ketiga cara sebagaimana yang disebutkan tadi niscaya kita akan mendapatkan kebahagiaan rohani yang tidak kita dapatkan pada materi yang kita miliki.
Itulah beberapa makna yang dapat kita ambil dari pecanangan seorang sulinggih. Tentunya tidak akan sempurna jika kita hanya memahami makna tersebut tanpa mengaktualisasikannya dan hanya akan menjadi racun bagi kita sendiri sebagaimana yang dipesankan oleh Rsi Canakya dalam cuplikan Niti Sastranya  (V.15) yang berbunyi,  Anabhyase visam sastram” (Ilmu pengetahuan yang tidak dipraktekan adalah racun).


@ oleh : Miswanto