Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

GENDER DALAM PERSPEKTIF HINDU

  1. Latar Belakang
Hidup menjadi manusia adalah yang utama, semua keadaan yang ada di dunia ini ada berdasarkan karma. Laki-laki dan perempuan merupakan dua kelompok besar yang selalu ada dalam kurun waktu yang relatif sama dan tempat yang sama pula, dari jaman dahulu hingga sekarang perempuan selalu menjadi sasaran empuk dalam pembicaraan dan pelaksanaan kehidupan sehari-hari, sebagai pelampiasan kaum laki-laki yang lebih memiliki kekuatan dibandingkan otaknya dalam memperlakukan kaum perempuan.
Dalam jaman yang sudah maju inipun kaum perempuan masih menjadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga maupun dalam kenyataan di kehidupan ini. Berbagai cara telah dilakukan dari terbentuknya yayasan pemerhati perempuan sampai dengan kementrian pemberdayaan perempuan, akan tetapi masalah ini belum mampu mengantarkan perolehan keadilan bagi kaum perempuan bahkan masih menjadi pembicaraan yang hangat dalam keseharian.
Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan terutama dalam bidang pendidikan dan dalam bidang-bidang tertentu seperti: hak, pekerjaan, perlakuan, dan masih banyak yang lainnya adalah hal yang utama di era globalisasi demi kemajuan bangsa yang mengalami keterpurukan diberbagai bidang. Kesetaraan merupakan suatu bentuk penghargaan (reward) bahkan penghargaan terhadap seseorang, kelompok, atau kaum yang dianggap lemah, bahkan kehilangan hak-hak sebagai orang yang juga memiliki potensi untuk dikembangkan.
Jika dipandang dari sudut agama, tentunya setiap agama yang ada memiliki pandangan yang berbeda tentang kesetaraan seorang perempuan. Sehingga senantiasa harus mendapatkan perlakuan yang baik bahkan perhatian yang lebih dari laki-laki.
Agama Hindu adalah salah satu agama yang memiliki perhatian besar dan khusus terhadap kaum perempuan, ini bisa ditemukan dalam berbagai kitab dan susastra Hindu seperti Manawa Dharmasastra. Idealisme ajaran Hindu tentang keutamaan perempuan dapat kita jumpai pula dala kitab sici Weda yaitu:
Stri hi brahma babhuvitha (Rg. Veda VIII.33.19)
Terjemahannya:
(Perempuan sesungguhnya seorang sarjana dan pengajar)

Penegasan kebenaran atas idealisme tentang keutamaan perempuan ini seharusnya menjadi landasan perjuangan bagi kaum perempuan dewasa ini menumbuhkembangkan kemuliaanya ditengah-tengah masyarakat yang beradab. Menurut peradaban Veda semua perempuan dipandang sebagai ibu yang memiliki sifat-sifat kedewasaan (Matru Deva Bavo).

  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain:
1.  Apa pengertian Gender ?
2.  Bagaimana Gender menurut Hindu ?

  1. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam paper ini adalah untuk mengetahui pengertian gender, kesetaraan gender dalam pendidikan, gender menurut Hindu dan mencari informasi tentang kesetaraan agar keadilan akan hak dapat terwujudkan dan tidak ada tumpang tindih antara laki- laki dan perempuan.




  1. Manfaat Penulisan
Dari penulisan paper ini diharapkan adanya manfaat dan kegunaan bagi masyarakat luas. Begitu juga penulisan ini diharapkan dapat memberikan penjelasan bagi umat Hindu dimanapun berada. Adapun manfaat penulisan ini yaitu:
  1. Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kesetaraan gender.
  2. Dapat memberikan pemahaman dalam meningkatkan kwalitas sumber daya manusia Hindu terutama terhadap hal yang berhubungan tentang isu mengenai gender, serta bagaimana umat Hindu menerapkannya di era globalisasi.



PEMBAHASAN
  1.  Pengertian Gender
Gender dalam buku pengarusutamaan Hindu (2005) adalah sesuatu sifat yang melekat baik pada laki-laki maupun perempuan yang dikontruksi atau dibentuk secara sosial maupun kultural dengan akibat terjalinnya hubungan sosial yang membedakan fungsi peran dan tanggungjawab kedua jenis mkelamin itu.
Dari penjelasan diatas bahwa yang dimaksud dengan gender bukanlah hanya melekat pada kaum  perempuan saja, tetapi laki-laki juga memiliki sifat tersebut, karena selama ini yang kita pahami bahwa gender hanya diperuntukan bagi kaum perempuan kalau dilihat dari perlakuan dan kejadian bagi kaum perempuan selama ini. Menurut pengertian diatas gender tidak hanya terbatas disitu saja dalam artian yang sempit selama ini kita kenal.
Gender dengan sifatnya dibentuk oleh masyarakat tertentu, sehingga setiap masyarakat memiliki tingkat pemahaman yang berbeda, artinya masyarakat yang satu belum tentu berpandangan yang sama dengan masyarakat yang lainnya.
Dalam ajaran agama Hindu, proses ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, karena perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan memberikan pandangan saling membutuhkan, mempengaruhi dan menjadi pelengkap. Coba kita bayangkan, akankah ada keluarga/masyarakat jika tidak ada laki-laki dan perempuan dan kemungkinan tidak ada penghuni didunia ini. Dalam Hindu hanya ada kepercayaan terhadap kaum laki-laki yang lebih mampu memimpin dan mengarahkan sebuah kegiatan dikeluarga. Dipihak perempuan juga sangat percaya bahwa kaum laki-laki lebih memiliki kemampuan dalam mengharahkan aktifitas sehari-hari dan tidak meremehkan kemampuan perempuan, justru saling mendukung dan menghargai kinerja masing-masing dalam keseharian.
Pandangan ini memberikan apresiasi yang jelas terhadap setiap orang dalam kehidupan, bahwa menjadi manusia itu sangat berharga tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang ada hanya perbedaan profesi kerja untuk menunjang kebutuhan hidup serta tetap memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menentukan hidup sesuai dengan karma.
Kitab Sarascamuscaya menyebutkan sebagai berikut:
“Iyam hi yonih prathama yam prapya jagatipate, atmanam sakyate tratum karmabihsubhalaksanih”. Apan ikang dadi wwang, utama juga iya, nimintaning mangkana, wenang yatumulung awaknya sangkeng sengsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kotamaning dadi wwang ik.
(Sarascamuscaya, 4)
Terjemahannya:
Menjelma menjadi manusiaitu sungguh-sungguh utama sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara, dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungan menjadi manusia.

Penjelasan diatas mengenai jender sangatlah jelas, Tuhan / Sanghyang Widhi Wasa tidak pernah membedakan anatara laki-laki dan perempuan. Karena lahir menjadi manusia itu sangat utama, kita dilahirkan tujuannya untuk saling melengkapi bukan saling melemahkan, dengan saling melengkapi akan memberikan pengaruh yang positif bagi semua kehidupan, dan kesetaraan jender akan terwujud serta menumbuhkan suasana yang tentram dan bahagia.



2. Gender menurut Hindu
Lahir menjadi Hindu bukan merupakan suatu hal yang  kebetulan, melainakan dari proses kelahiran yang bersumber dari karma (Karma Phala). Manusia lahir kedunia memiliki hak dan martabat yang sama dihadapan Tuhan. Baik laki-laki maupun perempuan adalah suatu anugerah yang terindah dalam suatau keluarga. Linga yoni dalam ajaran agama hindu menggambarkan bahwa dualisme ini sesungguhnya ada dan saling membutuhkan dalam mengembangkan potensi dan propesi masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan mendeapat kesempatan yang sama seperti kutipan mantra dalam Manawa Dharmasastra, bahwa tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya dalam wujud “Ardha Nara Iswari” memnjadi sebagian laki-laki dan sebagian perempuan.
Dwidha krtwatmano deham
Ardhena puruso bhawat
Ardhena nari tasyam sa
Wiriyama smrjat prabhuh
(Manawa dharmasastra, 1.32)
Terjemahannya:
Dengan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian perempuan (Ardha nara Iswari), ia ciptakan Viraja (alam semesta) dari wanita itu.

Jelas berdasarkan penjelasan sloka diatas penciptaan tanpa adanya unsur perempuan (Feminim) dan laki-laki (Maskulin) tidak akan ada kehidupan dan keluarga didunia ini. Bagaimanapun juga aspek laki-laki dan perempuan merupakan aspek mutlak dalam sebuah penciptaan. Oleh karena itu, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan secara relita ditengah globalisasi ini harus tetap diperjuangka agar hak perempuan sebanding dengan hak laki-laki. Perempuan harus ditempatkan pada jajaran yang tepat tenpa meninggalkan kodratnya dan mengabaikan keadilan bagi perempuan itu sendiri.
Dalam konsep Dharsana khususnya Samkya dan Yoga terdapat proses penciptaan yang diawali dengan pertemuan antara Purusa dengan Predana. Dalam konsep ini yaitu pada bagian yang ada terciptalah sel telur yang disebut Sukla (Sperma) pada laki-laki, dan Swanita (Ovum) pada perempuan.
Hindu sangat menghormati bahkan mengagungkan laki-laki dan perempuan dalam hal yang setara, karena menurut konsep Hindu laki-laki melambangkan langit (bapaknya dunia), perempuan adalah ibu (pertiwi) ibunya dunia sumber segala kehidupan. Sebenarnya perempuan adalah pigur yang luar biasa para dewapun sangat menghormatinya seperti pada penjelasan dalam manawa Dharmasastra dibawah ini:
Yatra naryastu pujyante
Ramante tatra dewatah
Yatraitastu na pujyante
Sarwatalah kriyah.
( Manawa dharmasastra. III. 56)
Terjemahannya:
Dimanapun perempuan dihormati, disanalah para dewa meraa senang, tetapi dimana meraka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

Betapa agung dan muliyanya bagi mereka yang menghormati perempuan, sehingga yadnya yang dipersembahkan dapat menimbulkan keinginan sesuai dengan tujuan yadnya tersebut. Namun bagi mereka yang tidak menghormati perempuan hanya kesengsaraan dan penderitaan yang akan diperolehnya.  
Perempuan yang dianggap sebagai mahluk yang lemah sudah saatnya diberikan hak-haknya sesuai dengan kemampuannya, sehingga sikap dikriminasi yang dialaminya dapat dihilangkan.
Ajaran Hindu banyak memberikan gamabaran keagungan dan penghormatan bagi perempuan, tak terhitung berapa kitab yang ditulis untuk menghormati kaum perempuan. Hindu merupakan agama yang memeberikan peluang bagi perempuan dalam memajukan serta meningkatkan kwalitasnya secara mental maupun spiritual. Tak heran dari ajaran Hindu bayank bermunculan tokoh perempuan modern seperti: Indira Gandhi, Ibu Gedong Bagus Oka di Bali dan banyak tokoh-tokoh spiritual perempuan yang lahir dan menyebarkan agama Hindu.
Gender menurut Hindu merupakan tujuan mutlak, karena sesuai dengan Rancangan Keputusan Pesamuhan Agung PHDI Pusat Nomor: 5/Kep/P.A. Parisada/XII/2003 tanggal 14 Desember 2003 tentang rekomendasi salah satunya adalah kesetaraan gender. Hindu percaya percaya kepada kekhususan sumbangan yang diberikan perempuan kepada dunia, perempuan memiliki tanggungjawab dan peran yang khusus. Selama anak – anak tidak bisa ditirunkan dari langit, selama itu pula akan ada kewajiban khusus perempuan (PHDI, 2005:254) 



PENUTUP

  1. Kesimpulan
Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pensifatan, peran, fungsi, dan perilaku tetapi memiliki hak yang sama, yang dibentuk oleh masyarakat karena bersifat relatif, dapat berubah dan dapat dipertukarkan.
Dalam pendidikan laki-laki dan perempuan mendapatkan tempat yang sama, di era globalisasi seperti ini tidak ada lagi batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang ada hanyalah persaingan antara laki-laki dan perempuan untuk menciptakan pendidikan yang lebih maju dan lebih berkualitas.
Hindu menggambarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama, akan tetapi Hindu memandang laki-laki lebih layak dari pada perempuan karena perempuan pun menganggap laki-laki sebagai pengayom sekaligus sebagai pengarah dalam setiap pekerjaan

  1. Saran – saran
Sebagai wujud persamaan antara laki-laki dan perempuan hendaknya pengertian dan pemahaman gender lebih dipahami dan dipertegas sehingga tidak terjadi kesalahan tafsir atau bias yang dapat memunculkan polemik baru.


DAFTAR PUSTAKA

Fakih Mansour, DR. 2004, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka
Pelajar : Yogyakarta
Mulia I Made, 2005, Perempuan Dalam Aktifitas Religius Masyarakat Bali ( Suatau Kajian Gender ), Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar : Denpasar
Pudja, G. Dan Sudharta, 2003, Manawadharmasastra, Proyek Pengadaan Kitab suci Hindu, DEPAG. R.I. : Jakarta,
Putu Putra, Ngakan. Dkk, 2005 Kompilasi Dokumen Literatur 45 Tahun Parisada, Parisada Hindu Dharma Indonesia : Jakarta 
Raka Mas, A.A Gede, 2002, Perempuan Yang Ideal, Paramita : Surabaya.
Tim Penyusun, 2005, Pengarusutamaan Gender, Paramita : Surabaya.

Oleh:
Drs. Suharsono, M.Pd.