Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

GURU DALAM DIALEKTIKA PENDIDIKAN



Sebutan guru adalah sebutan yang maha tinggi niliainya. Siva sebagai penguasa alam semesta disebut sebagai Bhatara Guru. Dalam pewayangan Bhatara Guru adalah dewanya para dewa (Mahadewa). Singkatnya , lidah yang pendek ini tidak cukup untuk melukiskan keagungan dan kemuliaan dari “guru”. Tapi, benarkah di masa kini, seorang yang mendapat sebutan guru itu juga mendapatan kemuliaan sebagaimana yang diceritakan dalam Itihasa atau pun Purana?

Pertanyaan tersebut akan menggugah kita dari sebuah euforia yang selama ini hanya menjadi hiasan palsu yang tertempel di tembok-tembok sekolah. Sebuah lagu yang dijadikan sebagai Himne Guru menyebutkan, “Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru, Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku, Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku, Engkau bagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan …”.
Bait-bait yang ada dalam lagu tersebut sungguh-sungguh akan membuat seorang guru menjadi —meminjam nama judul sinetron yang sudah menjamur dalam salah satu stasiun televisi swasta, “tersanjung”. Namun, jika mereka tidak eling lan waspada sebagaimana nasehat Ki Ranggawarsita dalam “Serat Kalatidha” justru akan membuatnya “tersandung”.
Istilah yang kedua itu mungkin agak cocok dengan realita yang dihadapi oleh kebanyakan guru dewasa ini.  Kalau kita mau menyelidiki tidak sedikit guru-guru yang tersandung kerikil-kerikil tajam dalam jalan penghidupannya. Masih banyak guru-guru di Indonesia yang masuk dalam kategori pra sejahtera. Gaji yang diberikan per bulannya masih jauh dari harapan jika dibandingkan dengan pengabdian yang dilakukan.
Oleh karena itu jangan disalahkan kalau guru-guru kita di pelosok-pelosok daerah menganggap pekerjaan guru sebagai “sambilan” di samping pekerjaan pokoknya seperti bertani, berdagang dan masih banyak lagi macamnya. Sehingga kadang kala mereka menjadi acuh tak acuh dengan murid-muridnya. Bagaimana perkembangan psikis, intelek dan sikap murid-muridnya para guru jarang yang mau tahu. Jadi, tak mengherankan jika masih ada siswa yang telantar gara-gara ditinggal oleh gurunya.
Fenomena tersebut akan merupakan pemandangan yang biasa kita lihat di sekolah-sekolah dasar dan menengah (mungkin juga perguruan tinggi), lebih-lebih di pelosok-pelosok daerah yang tidak begitu mendapat perhatian dari pemerintah atau jarang terjamah oleh tangan-tangan pembangunan.
Kita tidak boleh hanya menyalahkan guru melulu yang kurang perhatian terhadap muridnya jika ada anak sekolah yang telantar, nakal, dan lain-lain. Kita juga harus melihat masalah tersebut dari sisi seorang guru, bagaimana kesejahteraannya, berapa gajinya, apa saja tunjangannya dan sebagainya. Kalau seseorang digaji sesuai dengan apa yang ia kerjakan, maka tidak usah pakai pengawasan segala macam ia akan bekerja dengan baik atau menurut istilah sekarang “logika tanpa logistik tak akan jalan”.
Guru juga masuk dalam “spesies” manusia pada umumnya yang masih membutuhkan makan, minum dan kebutuhan hidup lainnya. Guru tidak akan dapat hidup hanya dengan pujian belaka. Mereka perlu kebutuhan hidup sebagaimana layaknya “makhluk-makhluk lain” seperti Presiden, Menteri, DPR, Gubernur, Bupati dan sebagainya. Kalau Presiden, Menteri, DPR dan yang lainnya pernah belajar dan menjadi murid kepada seorang guru atau yang pernah “makan bangku sekolah” (perkecualian bagi mereka yang hanya beli ijasah), maka benarkah seorang  murid membiarkan gurunya terlantar, tidak mendapat gaji berbulan-bulan dan sebagainya. Sungguh mereka akan dikutuk dan dijebloskan ke neraka jahanam sebagaimana disebutkan dalam petuah-petuah suci.
Dalam Sarasamuscaya 234 disebutkan, “hana pwa drohaka ring pangajyanya, ring bapebu kunang, makakaranang kaya, wak, manah ikang mangkana kramanya, agong  papanika, lwih sakeng papaning brunaha, brunaha ngaraning rurugarbha, sangksepanya atyanta papanika”. Artinya : Jika ada orang yang berkhianat atau durhaka terhadap guru, terhadap ibu dan bapa, dengan jalan perbuatan, perkataan dan pikiran, orang yang demikian perilakunya amat besarlah dosanya, lebih besar daripada dosa brunaha artinya menggugurkan kandungan; singkatnya sungguh besar dosanya.
Maka dari itu, jika tidak ingin mendapat sengsara dan menanggung dosa nantinya, sudah semestinya Pemerintah dan DPR segera merealisasikan janjinya yang menyatakan akan mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% dari APBN. Termasuk gaji dan kesejahteraan para guru mesti ditingkatkan. Kalau “murid” mendapat gaji ratusan juta per bulan (belum termasuk ceperan-nya), layakkah para gurunya hanya mendapat 1 jutaan perbulannya? Ah, kayaknya mereka tidak perlu diajari masalah hitung-menghitung semacam ini.
Terlepas dari masalah gaji guru tersebut, kita juga harus melihat sisi lain dari guru. Kalau tadi sudah kita sudah berbicara banyak tentang apa yang mesti didapat oleh seorang guru, maka sekarang gilirannya apa yang mesti diperbuat oleh seorang guru. Antara hak dan kewajiban harus seimbang karena itu adalah bagian dari dharma. Jika dharma tidak dilaksanakan dengan baik niscaya alam semesta yang sampai saat ini masih eksis karena ditopang oleh dharma akan hancur karenanya.
Meski banyak diantara guru-guru yang benar-benar mengabdi untuk melaksanakan dharma, tetapi tidak sedikit pula yang hanya mengabdi untuk melaksanakan drama kepalsuan. Guru yang hanya sebagai pemain drama ini biasanya hanya datang waktu gajian, jarang mengajar dan hanya mementingkan proyek. Mungkin ketika ada penerimaan siswa baru, pengadaan buku, seragam dan sebagainya akan menjadi lahan empuk untuk memainkan logika proyeknya. Sementara tugas utamanya dalam pengajaran dan pendidikan dikesampingkan begitu saja. Ini namanya kesempatan dalam kesempitan.
Guru atau dosen yang semacam ini adalah laksana benalu dalam pohon pendidikan. Jika benalu itu terus dibiarkan, maka pohon itu tidak akan menghasilkan buah yang baik. Keberhasilan pendidikan pada hakikatnya terletak pada out put pendidikan yang berupa “manusia seutuhnya”, dalam artian bahwa seorang yang dihasilkan melalui proses pendidikan harus mempunyai kecakapan intelektual, emosional dan juga spriritual atau mereka mempunyai kematangan dalam hal intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ). Guru yang sudah menjadi benalu pendidikan tersebut tidak mungkin bisa mencetak murid yang matang dalam IQ, EQ dan SQ.
Lebih dari itu, seorang guru atau dosen sudah seharusnya mengubah cara pandang mereka terhadap profesinya. Mereka mesti berbenah diri dan melakukan pembaharuan dalam profesionalismenya sebagai pengajar. Kultur kolonialisme yang di dalamnya terdapat pendidikan anarkhis harus ditinggalkan. Sebagai guru, harus bisa membukakan cakrawala yang lebih luas bagi murid-muridnya. Buku sebagai jendela untuk menghantarkan ke cakrawala itu haruslah menjadi “menu utama” yang setiap saat menjadi santapannya. Mereka harus menggunakan logika akademis, jangan menggunakan “logika pengemis” dalam proyek.
Logika akademis yang dimaksud adalah pemikiran untuk membaca, menulis, meneliti dan sebagainya. Masih banyak guru-guru kita yang emoh untuk membaca dan menulis apalagi mengadakan penelitian. Logikanya seorang guru harus mempunyai banyak buku referensi untuk menambah wawasan murid-muridnya. Sangat disayangkan kalau seorang guru hanya memiliki satu buku untuk mengajar. Itupun buku pegangan yang diberikan oleh sekolah atau lembaga. Jika demikian halnya untuk menulis pun akan sangat sulit sekali. Guru-guru Indonesia yang aktif sebagai penulis mungkin bisa dihitung dengan jari. Yang lebih nista lagi, kadang kala ketika ia harus menyetor karya ilmiah untuk kenaikan pangkat, tidak jarang dari mereka yang merogoh koceknya untuk “membeli” karya ilmiah. Atau dengan kata lain, melakukan prostitusi ilmiah.
Budaya borjuis dan  mokir (emoh mikir) ini sudah barang tentu akan merusak moral dan citra pendidikan. Belum lagi dengan banyaknya kasus perselingkuhan guru, kasus-kasus lain seperti guru yang menghamili muridnya dan sebagainya. Kesemuannya itu akan mencoreng kemuliaan guru dan pendidikan itu sendiri. Guru yang mendidik saja sudah bejat bagaimana nantinya kalau muridnya jadi Presiden, Menteri, DPR dan pejabat lainnya. Bukankah nantinya pejabatnya juga jadi bejat. Kalau demikian, jangan salahkan juga kalau murid durhaka terhadap gurunya. Eh, kasiyan deh lu!

Oleh : Miswanto 

Sumber: Majalah Raditya No. 98 September 2005 Hal. 58-59