Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

HINDU DAN TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM KONTEKS KEKINIAN

Istilah teologi pembebasan (liberation teology) mulai menemukan momentum sejak Gustavo Guitierrez mempelopori gerakan pembebasan bagi kaum tertindas di Amerika Latin menjelang akhir abad ke-20.  Ketika itu Guiterrez merumuskannya dalam bentuk pembebasan belenggu sosial, ekonomi, politik, dehumanisasi dan pembebasan dari segala dosa sebagai akibat hegemoni kekuasan (pemerintah dan gereja).

Rumusan Guitierrez itu sekaligus mementahkan pandangan Lowy tentang teologi pembebasan yang menurutnya cenderung proletarianisme, melecehkan gereja, mendorong penggunaan kekerasan untuk revolusi, mengesampingkan pembebasan total dari dosa dan sebagainya. Hal ini terjadi ketika pandangan Lowy tersebut dikompilasi Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman di Vatikan pada tahun 1984.
Jauh sebelumnya ketika sidang Uskup-uskup di Puebla, Meksiko, tahun 1979 Guiterrez, Sobrino, Segundo dan Boof yang sepaham ini tidak diijinkan memasuki sidang lantaran kebanyakan uskup yang hadir dari kalangan konservatif. Namun, bak gayung bersambut tepuk berbalas, beberapa uskup yang hadir di sana, seperti Pedro Casaldilaga dan Dom Helder Camara justru malah berbalik haluan mendukung pandangan Guiterrez sehingga mampu mengubah haluan sidang. Dan Preferential option for the poor-pun akhirnya mewarnai dokumen Puebla.
Dewasa ini, teologi pembebasan tidak hanya berkembang di Amerika Latin saja, tetapi hampir seantero jagat mulai mengenal teologi pembebasan. Di Indonesia, banyak gerakan keagamaan dan pemikir yang diilhami oleh ajaran teologi pembebasan. Sebut saja, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Cendekiawan Muslim serta semangat pemikiran yang tercermin dari kaum intelektual seperti Cak Nur, Gus Dur, Kang Jalal, Syafi’i Ma’arif, Kuntowijoyo, Ulil Abshar Abdalla, Iqnas Kleden, Sumartana dan sederetan tokoh modernis lainnya.
Alasan yang mendasari teologi pembebasan sebenarnya adalah penindasan, ketidakadilan sosial, hegemoni kekuasan, kemiskinan, deskriminasi, kapitalisme dan berbagai fenomena sosial sosial lainnya. Itu pun tidak hanya sekarang, tetapi sepanjang masa akan tetap menggema ketika ada perlawanan terhadap penindasan atau ketidakadilan sosial. Dulu, Martin Luther King, Jr. ketika memprotes kasus jual-beli indulgentia (Surat Pengakuan Dosa) oleh Gereja sehingga melahirkan agama Protestant, pada dasarnya juga bisa disebut sebagai terminologi teologi pembebasan.  Di Amerika kita dapat temukan black teology yang ingin membebaskan orang Amerika keturunan Afrika yang tertindas akibat diskriminasi kulit. Feminis liberation teology juga mewarnai teologi pembebasan ketika kaum perempuan tertindas oleh budaya bias gender dan patriarki. Dan masih banyak lagi gejala-gejala lain yang senafas dengan teologi pembebasan ini.

***
Sebenarnya teologi pembebasan ini sudah ada sejak dahulu kala. Kendati rada-rada made in Germany teologi pembebasan ini bisa muncul dimana saja, kapan saja dan pada agama apa saja termasuk dalam agama Hindu. Di India sekitar abad ke-5 SM ketika manusia dalam kegelapan, Siddharta Gautama muncul sebagai tokoh yang ingin membebaskan dari belenggu tersebut dengan menjadi Budha. Budha juga ingin melepaskan ikatan deskriminasi kasta yang ada pada saat itu. Di abad ke-19 Gandhi sebagai tokoh kemerdekaan bangsa India membebaskan bangsanya dari belenggu kolonialisme.
Berkenaan dengan teologi pembebasan tersebut, sebenarnya Hindu sudah mengenalnya sejak ribuan tahun silam yang tersirat dalam cerita-cerita Purana dan Itihasa. Konsepsi avatara dalam Hindu boleh dibilang sebagai cikal-bakal dalam teologi pembebasan. Avatara adalah Tuhan yang turun ke dunia dalam rupa manusia, binatang atau makhluk ciptaan lainnya untuk membebaskan manusia dari belenggu “raksasa”. Matsya Avatara yang membebaskan dunia dari danava yang bernama Hayagriva, Varaha Avatara yang menghancurkan belenggu asura Hiranyaksa, Narasimha Avatara yang berhasil membebaskan dunia dari kesewenang-wenangan Hiranyakasipu dan masih banyak lagi lainnya merupakan refleksi yang merujuk pada konsep teologi pembebasan walaupun dalam konteks yang berbeda dengan teologi pembebasan Guitierrez, black teology dan feminis liberation teology sebagaimana diulas di muka.
Dalam Itihasa Ramayana dan Mahabharata yang tersebar seantero jagat dapat kita temukan juga konsepsi teologi pembebasan. Rama dalam “Ramayana” yang merupakan avatara Visnu ditugasi turun ke dunia untuk menghancurkan keangkaramurkaan Ravana. Rama juga banyak melakukan karya-karya pembebasan lainnya seperti membebaskan Ahalya dari kutukan suaminya, Rsi Gotama. Krsna dalam “Mahabharata” yang juga inkarnasi dari Visnu pun turun ke dunia untuk melakukan karya pembebasan. Dengan membunuh Kamsa, Sisupala, dan membantu Pandava atas ketidakadilan yang menimpanya karena keserakahan Kaurava.
Dalam cerita itihasa ini juga tersirat konsep feminism liberation teology. Penculikan terhadap Sita merupakan akibat langsung dari perang antara Ravana dengan Rama. Salah satu sebab perang besar (Baratayudha) di Kuruksetra adalah tindakan Dussasana yang telah melakukan pelecehan seksual dan merendahkan harkat dan martabat Drupadi dengan upaya penelanjangan di depan sidang.
Hakikat dari cerita-cerita tersebut adalah upaya perjuangan dan pembebasan dari ketidakadilan, keserakahan, kesewenang-wenangan, pelecehan dan segala macam bentuk penindasan. Upaya tersebut biasanya akan diakhiri dengan jalan perang ketika penyelesaian dengan jalan damai tidak dapat ditempuh. Misalnya ketika Rama ingin mengajak berdamai dengan Ravana melalui utusannya namun Ravana tetap bersikukuh dan menolak ajakan damai maka pecahlah perang sosial tersebut. Pandava yang juga ingin menyelesaikan jalan diplomasi dengan Kaurava akhirnya juga berakhir dengan jalan pedang.
Menyimak dari berbagai cerita tersebut maka dapatlah ditarik benang ungu bahwa dalam Hindu pada dasarnya sudah tertanam pemikiran tentang teologi pembebasan. Moksartha Jagadhita yang merupakan tujuan agama Hindu adalah tujuan yang juga ingin dicapai dalam teologi pembebasan, dimana orang bisa mencapai kebahagiaan dunia (jagadhita) dan akhirat (moksa).

***
Konsep pembebasan dalam Hindu tersebut sudah seharusnya tidak dilihat secara spiritual saja tetapi juga secara material. Lebih-lebih di era sekarang yang konon disebut sebagai jaman Kali (Kali Yuga). Justru untuk realita jaman sekarang konsep pembebasan itu harus dilihat secara utuh atau integral (sekala-niskala).
Secara niskala, jelas bahwa tujuan akhir umat Hindu adalah mencapai moksa yang merupakan kebahagiaan tertinggi karena manusia sudah kembali ke asalnya (manunggaling kawula gusti). Dalam tataran ini manusia bisa bebas dari belenggu samsara.
Akan tetapi secara sekala, jagadhita juga harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan antara jasmani dan rohani, antara raga dan jiwa. Jagadhita akan terpenuhi ketika seseorang bisa terbebas dari belenggu kemiskinan, diskriminasi sosial, hegemoni kekuasan, penindasan dan sebagainya.
Di Indonesia, masih banyak umat Hindu yang hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak anak-anak Hindu yang putus sekolah. Di daerah penulis (Pesanggaran) dari sekitar 6000 jiwa umat Hindu bisa dihitung dengan jari orang masuk dalam kalangan menengah ke atas. Sementara itu, pendidikan anak-anak Hindu pun rata-rata di bawah standar. Hanya satu dua orang yang bisa melanjutkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Belum lagi di daerah-daerah pelosok lain yang lebih terbelakang. Tidak bisa penulis bayangkan bagaimana keaadaannya.
Di Bali sendiri, yang dulu dikenal sebagai pulau seribu pura (sekarang alih profesi jadi seribu mesjid) dan jumlah umat Hindunya mayoritas pun masih banyak di antara mereka yang terbelakang. Banyak sektor penting di Bali yang dikuasai oleh orang non-Bali (baca: non-Hindu). Dari sektor pendidikan, lembaga pendidikan Hindu secara kuantitas-formal masih kalah jauh dengan lembaga pendidikan Islam yang menyebar secara sporadis di seluruh Bali. Di Bali sudah mulai bermunculan Bank Syariah atau Bank Muamalat atau apalah namanya, namun belum ditemukan Bank Hindu. Justru yang mengherankan Bang Wayan malah “mejagur” sama Bang Made, Bang Nyoman sama Bang Ketut dan seterusnya.
Diakui atau tidak, Bali yang menjadi barometer Ke-Hindu-an di Indonesia sudah banyak berubah. Boleh dibilang Bali “terjajah” secara sosial-ekonomi, pendidikan dan amat disayangkan kalau nantinya secara budaya juga teralienasi. Jika di Bali saja sudah semacam ini, bagaimana dengan umat Hindu yang ada di luar Bali?
Teruntuk hal tersebut, maka diperlukan kerja keras dan kerja sama yang baik antar elit Bali (pihak pemerintah, bendesa adat, tokoh puri dan lain-lain) atau elit Hindu (tokoh-tokoh PHDI, terutama PHDI Bali yang sampai sekarang belum melakukan “Gencatan Senjata”). Jangan hanya “mejagur” memperebutkan kursi atau pun memikirkan perut sendiri. Lihatlah ke bawah bagaimana derita “kawula alit” yang tidak sempat meneteskan air mata lantaran sudah dikeluarkan melalui air keringat, anak-anak Hindu di Bali yang masih putus sekolah dan sebagainya.
Pengalaman yang terjadi di Amerika Latin tentunya tidak kita inginkan terjadi di Bali bukan? Revolusi ala Guitierrez yang dilakukan dengan kekerasan tidak perlu terjadi di Indonesia atau di Bali. Semua itu masih bisa dipecahkan melalui jalan damai dengan musyawarah yang “baik” (maaf, ini untuk membedakan musyawarah yang “tidak baik” sebagaimana sidang-sidang di DPR) dan setelah itu, jangan hanya berhenti pada duduk bermusyawarah, tetapi lakukanlah action dan mewujudkan jagadhita bagi umat Hindu di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya. 







Oleh : Miswanto
Sumber: Warta Hindu Dharma No. 462 Juli 2005 Hal.25-27