Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

KEHARMONISAN MENURUT KONSEP HINDU

I. PENGERTIAN KEHARMONISAN
 
Umat Hindu Indonesia sangat kreatif dalam memformolasikan ajaran-ajaran agama Hindu sehingga membumi dan membudaya sesuai dengan karakter mistik dan pandangan hidup masyarakat Indonesia.  Banyak istilah atau formula yangdiberikan untuk suatu rangkaian ajaran agama Hindu yang apabila ditelusuri dalam kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya tidak lita jumpai istilah-istilahnya. Banyak contohnya, antara lain: Catur Purusarta (empat tujuan hidup), Trikaya Parisudha, (tiga prilaku baik), Catur Paramita (empat tindakan mulia), dan Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan, keharmonisan, atau keserasian).

Memformulasikan sejumlah pokok-pokok ajaran agama Hindu yang berkaitan logis        dan utuh, bertujuan untuk memperkokoh iman umat, siapapun, kapanpun dan dimanapun.
Secara terminologis Keharmonisan berasal dari kata harmonis yang bersumber dari bahasa Yunani, harmonia ; terikat serasi.
  1. Dalam filsafat: kerjasama diantara  berbagai factor yang sedemikian rupa, sehingga faktoer-faktor tersebut menhasilkan kesatuan yang luhur. Misalnya : antara jiwa jasad seseorang manusia hendaknya harus ada. Kalau tidak maka belum dapat orang tersebut disebut pribadi.
  2. Di bidang musik: sejak abad pertengahan pengertian harmoni tidak lagi seperti yang dianut sebelumnya, tidak lagi menekankan pada urutan bunyi nada yang serasi, tetapi keserasian nada secara bersamaan, harmoni aliran. Harmoni aliran : aliran dalam seni music tentang hubungan nada-nada. Kaidah-kaidah seperti yang dikemukakan komponis dan ahli teori music Jean Philippe ( 1683 – 1764 ) merupakan landasan dasar dalam seni musik sampai akhir abad ke-19. Dalam abad ke-20 tercipta efek-efek harmonis baru berkat penggunaan penadaan baru : Harmoni, Orkes, Harmonipola, Harmonika, Herimonium, dsb.nya. ( Ensiklopdedi Indonesia).
II. UNSUR-UNSUR KEHARMONISAN
  • Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Yang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang  Maha Mengetahui, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Pengampun, dan cukup  banyak sebutan lain sebagai ungkapan atas Kemahaan Tuhan Yang Maha Esa.
“ Ekam Sadwipra bahudha wadanti” ( Rg.Veda : I.164.48).
Artinya :
Tuhan Yang Maha Esa itu oleh orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama.
  • Manusia sebagai mahluk tertinggi diantara ciptaan Tuhan atas dasar yadnya.
“ Saha-yajnah prajah sristva puroca prajatih “ ( Bh.gita: III.10),
Artinya:
Pada awal penciptaan,  prajapati ( Tuhan Penguasa Mahluk ) menciptakan manusia dengan dasar yadnya.
  • Alam ( dengan segala isinya ) yang mengandung segala sumber daya alamnya untuk kehidupan semua mahluk.
“ Na-ayam loko styayajnasya …” ( Bh.gita : IV.31),
Artinya :  Dunia ini bukan bagi mereka yang tak beryadnya.
Manusia dengan  landasan yadnyanya menempati posisi sentral dan strategis dalam pembangunan manusia seutuhnya. Manusia sebagai subyek dan obyek pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan. Manusia yang merencanakan , manusia yang melaksanakannya dan apapun hasilnya dari pembangunan itu semuanya bermuara pada kehidupan manusia.
Pada dasarnya, manusia patut menyadari dan mengakui secara jujur bahwa hidup manusia bergantung pada produksi lahan pertanian. Tingkat produksi lahan itu bergantung pada hujan secukupnya dari langit dan hujan seperti itu tergantung pada keharmonisan dan kelestarian alam secara menyeluruh.
III. SUMBER AJARAN KEHARMONISAN
Veda dan Susastra Hindu merupakan sumber-sumber ajaran keharmonisan, antara lain dapat dipahami dari kutipan-kutipan berikut ini :
“ Samano mantrah samitih samani samanam manah saha  cittame
sam samanam mantramabhi mantrayevah samanena vo havisa
juhomi “ ( Rgveda : 10.191. 3.)
Artinya :
Kalian memiliki satu mantra dan satu pendapat dalam pertemuan dan satukan pikiran. Aku memberikan pengetahuan yang sama sehingga semua mendapatkan kebahagiaan.
Swami Vivekananda dihadapan para utusan umat beragama yangdatangdari seluruh dunia menjelaskan bahwa pada saat ini  semua pemimipin harus berasimilasi dan bukan saling menhancurkan. Dalam hal yang sama  Rabindranath Tagore mengatakan asimilsi dari berbagai kebudayaan telah memberikan kontribusi yang besar kepada para pemikiran dunia. Oleh karena itu dalam  buku  Gitanjali ia menulis : “ Datanglah oh  arya dan non arya, Hindu dan Muslim , datanglah orang Inggris dan Kristen, datanglah oh  Brahmana, sucikanlah pikiran dan jabatlah tangan semua, datanglah oh  orang  miskin dan  hilangkan semua penghinaanmu ! “ Semua berkumpul di tepi  Bharata di mana semua umat manusia pernah hidup bersama.
Kebudayaan yangkita miliki sekarang merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh besar masing-masing budaya di dunia terhadap umat manusia.  Peradaban bisa dipahami melalu suatu pribahasa dalam bahasa Inggris : “ Civilization is an expression of flesh, while culture is  the manifestation of soul “. Semua konsep kebudayaan yang dijelaskan dalam  veda berdasarkan kebenaran dan tanpa kekerasan  (ahimsa).  Tidak dibenarkan menghancurkan suatu budaya atas budaya yang lain, melainkan hendaknya mengasimilasikan setiap ide atas dasar kebenaran dan tanpa  kekerasan untuk neciptakan segala sesuatu yang bersifat universal. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa masyrakat yang tidak menghormati kebudayaannya sendiri dan menganggap budaya lain sebagai penyelamat, maka masyarakat tersebut tidak akan mencapai kesempurnaan dan kesejahteraan. Ghandi juga berpendapat bahwa  bila suatu kebudayaan ingin berjalan sendiri, maka kebudayaan tersebut tidak akan berjalan lama. Karena itu beliau memberikan sesuatu penjelasan yang sangat menarik : “ Biarlah semua kebudayaan di sekelilingku bergerak dan berkembang, tetapi aku akan tetap memegang teguh kebudayaanku “
Tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Martin Luther King dan Cesar Chaves dari Amerika,  Danilo Dalici dari Itali, Lanzo Del Vasto dari  Prancis, dan Mahatma Gandhi dari India mencita-citakan satu keharmonisan dan kesejahteraan dunia berdasarkan kebenaran tanpa kekerasan.
Intisari mantara adalah hendaknya kita menciptakan suatu kebudayaan atas dasar kebenaran dan tanpa kekerasan, sehingga semua kekurangan yang ada dalam suatu pemikiran dan kebudayaan bisa dihilangkan  dan kebaikan-kebaikan bisa di tonjolkan. Atas dasar itulah nantinya akan muncul suatu keserasian budaya yang akan menciptakan keharmonisan diantatra sesama umat manusia.
Bhagawadgita : III. 10, menyatakan secara rinci keharmonisan yang lebih popular dan membumi disebut  “ Tri Hita Karana “ :
“ Sahayajnah prajah srstwa,  Puro waca prajapatih,
Anena prasawisyadwam, Esa wo stwista kamadhuk “.
Artinya:
Pada jaman dahulu kalaPrajapati ( Tuhan Yang Maha Esa sebagai Maha Pencipta)   menciptakan manusia dengan dasafr yadnya dan bersabda : “ Wahai manusia dengan yadnya ini engkau berkembang biak dan bumi menjadi sapi perahanmu“.
IV. PENERAPAN  KEHARMONISAN
Para Rsi Umat Hindu telah mewujudkan kebahagiaan abadi melalui realisasi dan jiwa. Filsafat Hindu adalah keseimbangan antara materialism dan spiritualisme. Penderitaan dan bahkan ketidak harmonisan di dunia akan sirna segera setelah keseimbangan dipulihkan.
Kemanapun  umat Hindu pergi, mereka hidup dengan gembira, harmonis dan bekerjasama dengan penduduk Negara-negara tersebut disebabkan karena budaya tradisional mereka. Umat Hindu sejak ribuan tahun hidup dalam keharmonisan dengan alam.
Weda-weda menyatakan, “ Swasti gabhyo jagate purushebhy”. Semoga semua manusia, binatang buas dan burung-burung dirahmati keharmonisan dan kebahagiaan.”  Dengan demikian pesan-pesan modern  lingkungan hidup seutuhnya sesuai dengan  pikiran Hindu yang bersumber dari  veda.
Seperti halnya seni klasik Hindu, sastra dan music semuannya memancarkan suatu pesan keharmonisan. Lata Mangeshkar mengatakan, “ suatu rasa kerharmonisan tersirat dalam agama Hindu.  Saya berterimakasih pada agama saya atas rahmatnya yang besar pada musik.
Umat Hindu mengaitkan banyak kepentingan terhadap keharmonisan antara anggota masyarakat. Rigweda menyatakan : “ Samanomastu vo mano yatha vah susahati” Artinya : “Semoga hatimu ada dalam kemanunggal. Semoga pikiranmu harmonis, sehingga kamu hidup bersama dengan kebahagiaan “
Bila kita mampu mewujudkan keharmonisan hidup, maka kemakmuran akan    dapat direalisasikan. Bila keharmonisan dapat diwjudkan, maka persatuan  dapat diwujudkan, Keharmonisan mulai dirintis dalam keluarga, msyarakat dan  lingkungan sekitar. Keharmonisan merupakan landasan untuk mewujudkan  kerukunan baik intra keluarga maupun dengan masyarakat, demikian pula  kerukunan hidup beragama bait intra, antar dan antara umat beragama dengan  pemerintah akan dapat diwujudkan.
  • Keharmonisan untuk  kesejahteraan masyarakat.
Sam vo manamsi sam vrata,  Sam akutir namamasi.
Ami ye vivrata sthana,  Tan vah sam namayamasi.
( Atharvaveda III.8 5 )
Artinya :
“ Aku menyatukan  pikiran-pikiranmu, tindak-tindakanmu dan gagasan-gagasanmu ( pemikiran-pemikiranmu(.  Kami mengantarkan para pelaku kejahatan menuju jalan yang benar”.
  • Keharmonisan membawa persatuan
Yena deva na viyanti,  No ca vidvisate mithah.
Tat krame brahma vo grhe, Samjnanam punebhyah.
( Atharvaveda III. 30.4 )
Artinya :
“ Wahai umat manusia,  persatukanlah yang menyatukan semua para dewa. Aku memberikan yang sama kepadamu juga  sehingga anda mampu menciptakan persatuan di antara anda.”
  • Keharmonisan untuk peningkatan masyarakat.
“ Samjnanam nah svebhih,  Samjnanam aranebhih
Samjnanam asvina yunam, Ihasmasu ni acchatam”.
(Atharvaveda : VII. 52.1 )
Artinya :
Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang – orang yang
sudah  dikenal dengan akrab dan dengan orang-orang yang asing. Ya, para
dewa Asvi, semoga Engkau kedua-duanya memberikan kami dengan
keharmonisan.
Setiap  umat Hindu merasa terpanggil jiwanya untuk mengimani nilai-nilai
religious keharmonisan dan diaktualisasikan secara utuh dan terpadu
harmonis  dengan pengamalan falsafah  Tri Hita Karana ( tiga penyebab
kebahagiaan ) pada setiap kehidupannya sebagai insan Tuhan Yang Maha
Esa.
Lebih jauh dengan dasar falsafah Tri Hita Karana setiap umat mempunyai hak dan kewajiban untuk mrenciptakan  suasana dan iklim kehidupan yang kondusif dan harmonis, baik secara vertical maupun horizontal terhadap ketiga unsur Tri Hita Karana . Dalam veda, Tuhan Yang Maha yang disebut Brahman menciptakan Alam Semesta dengan segala isinya. Tuhan yang Maha Kuasalah menempatkan planet bumi  dan sorga di angkasa raya yang maha luas ini.
“ Aham jajana prthivim utadyam, Aham rtum ajanayam sapta sindhun”.
( Atharvaveda VI. 61.3 )
Artinya :
Aku ( Tuhan Yang Maha Esa ) menciptakan sorga dan  bumi, Aku yang menciptakan musim dan  tujuh macam sungai.
Kutipan mantra-mantra veda tersebut di atas menyatakan bahwa Tuhan Yang Masha Esa sebagai pencipta alam semesta, pencipta bumi dan sorga di angkasa raya yang maha luas.  Ia-lah yang muncul pertama di  alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa-lah sumber kebahagiaan yang sejati, maharaja dari segala sesuatu yang bergerak  dan tidak bergerak di alam semesta ini.  Selanjutnya dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa sebagai Purusa ( manusia cosmic ) menciptakan alam semesta atas dasar Yajna ( korban suci ) dan menjadikan diri-Nya sebagai  Yajna dan dari pada-Nya-lah  alam semesta tercipta, yajna merupakan pusat terciptanya alam semesta.
A. HUBUNGAN HARMONIS UMAT DENGAN TUHAN YANG MAHA ESA.
Praktek-praktek yadnya adalah amal untuk menciptakan jalaninan harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa.  Perlu ditegaskan kembali bahwa wujud yadnya tidak hany berupa persembahan sesajian atau u8pacara saja. Yadnya muncul dari karma yang mengandung kesadaran batin yang tinggi, bhakti persembahan budhi yang luhur, bertulus-iklasan, kegairahan rohani yang suci mulus.  Jadi upaya dan atau semua perbuatan yang  berlandaskan dharma untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kehidupan untuk mencapai jagathita dan moksa.
Semua alam tumbuh-tumbuhan dan binatang dipelihara/diatur oleh
dharma.
“ Loka samgraha samyuktam, Widatrawihitam purna.
Suksma dharmarthaniyatam, Satam caritam uttanam “.
( Santiparwa : 259.28 )
Artinya :
Kesantosaan umat manusia dan kesejahteraan masyrakat datang dari Dharma; laksana dan budhi luhur untuk kesejahteraan manusia itulah Dharma yang utama.
Keagungan  yadnya berupa persembahan tidaklah diukur dari besar, mewah, meriah dan megahnya upacara, tetapi justru yang paling penting dan utama kompak dalam kesucian dan ketulusan-iklasan dari orang-orang yang terlibat dalam melaksanakan yadnya. Ciri-ciri bhakti persembahan seperti itu patut tegasnya harus ditumbuhkan dan dikembangkan pada setiap kesempatan melaksanakan yadnya.
Apabila setiap orang dapat membina dan mengembangkan hubungan  harmonis atau serasi dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai  Sang Maha Pencipta dengan mengamalkan setiap ajaran-Nya, maka akan memancarkan kasih saying kepada sesama umat manusia, bahkan juga kepada sesame mahluk hidup. Yagnya berupa cinta kasih  suci yang tulus mulus merupakan suatu” resep “ dan sarana yang [paling ampuh untuk menciptakan suasana hidup dan kehidupan yang  serba harmonis, ceria dan penuh bahagia.
B. HUBUNGAN HARMONIS ATAR SESAMA UMAT MANUSIA
Apabila setiap orang dapat membina dan mengembangkan hubungan  harmonis atau serasi dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai  Sang Maha Pencipta dengan mengamalkan setiap ajaran-Nya, maka akan memancarkan kasih sayang kepada sesama umat manusia, bahkan juga kepada sesame mahluk hidup. Yagnya berupa cinta kasih  suci yang tulus mulus merupakan suatu” resep “ dan sarana yang paling ampuh untuk menciptakan suasana hidup dan kehidupan yang  serba harmonis, ceria dan penuh bahagia.
“ Sam vo manamsi sam vrata, Sam akutir namamasi,
Ami yevivrata sthana,Tan vah sam namayamasi “.
( Atharvaveda III.8.9 )
Artinya :
Aku yang membuat hati, pikiran dan tindakan-tindakan yang engkau lakukan untuk keharmonisan. Aku yang menjauhkan perbuatanmu yang jahat menuju yang benar.
“ Agnim rayasposaya suprajastvaya suviryaya “. ( Yayurveda : XIII.I. )
Artinya :
Seperti halnya api, pemerintah (raja/pemimpin) dilantik adalah untuk
Kemakmuran melindungi seluruh warga negaranya dan bersikap
kepahlawanan/kesatria.
Mantra-mantra Veda tersebut di atas mengamanatkan kepada umat  manusia untuk membina hubungan yang harmonis diantara sesame manusia.  Untuk itu setiap orang hendaknya menghindarkan diri dari perbuatan jahat.  Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya meanugraha hal yang sama kepada umat manusia, kini tergantung  kemampuan dan kemauan umat manusia untuk melaksanakannya. Keharmonisan tidaklah keharmonisan yang semu, melainkan hendaknya muncul dari lubuk hati yang  terdalam dari setiap individu. Keharmonisan atau hubungan yang serasi akan dapat diwujudkan melalui penghargaan atau toleransi yang setulusnya. Keharmonisan tidak  hanya terdapat sesame yang kita kenal dan bahkan dengan orang asingpun kita   memberikan penghargaan yang sama,  sehingga keharmonisan segera  diwujudkan.
Harmoni atau harmonisasi, tidak hanya diwjudkan antar sesame dalam posisi atau  derajat yang sama, tetapi juga antar atasan dan bawahan, antar pengusaha dan  langganan dan dengan siapa saja, termasuk pula dengan pemerintah . Sesungguhnya masih banyak yang dapat dipetik tentang membina hubungan yang   serasi antar sesame manusia.  Lebih lanjut bila kita mengkaji susastra Veda atau susastra Hindu lainnya, terutama dalam ajaran tentang tata susila atau etika   (sasana-sasana), maka  bertaburan mutiara indah hal-hal tersebut dapat dicermati.
C. HUBUNGAN HARMONIS ANTARA UMAT MENUSIA DENGAN ALAM
Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam semesta ciptaan-Nya seperti bumi dan langit serta mahluk hidup lainnya merupakan sumber kesejahteraan dan kebahagiaan seluh umat manusia di muka bumi ini.
“ Satyam brhadrtam ugra diksa, Tapo brahma yajnah prthivim
dharayanti, Sa no bhutasya bhavyasya patni,  Urum  lokam prthivi
krnotu”   ( Atharvaveda : XII. 1.1. )
Artinya :
Kebenaran yang agung, hokum alam yang tidak pernah dapat diubah, penyucian diri, pengetahuan dan pengorbanan yang menjaga bumi. Bumi senantiasa melindungi kita. Bumi menyediakan ruangan yang luas.
“ Dyauh santir antariksam santih,  Prathivi santi apah santir,
Ausadhayah santih, Vanaspatayah santir.
Visve devah santir brahma santih, Sarvam santih santir eva santih,
Sa ma santir edih “. ( Yayurveda : XXXVI.17 )

Artinya :
Semoga selaras ( damai ) dengan atmosfir, dengan langit dan bumi. Semogalah selaras dengan air,  tumbuh-tumbuahan dan tanaman obat sebagai sumber kebahagiaan. Semoga para  dewata dan Tuhan Yang Maha Esa menganugrahkan kedamaian dan keharmonisan kepada kita semua. Semogalah terdapat keserasian di seluruh pelosok. Semogalah keharmonisan itu datang kepada kami.
Bila kita memperhatikan mantra-mantra tersebut di atas, jelaslah bahwa keharmonisan tidak hanya untuk sesame umat manusia, tetapi dengan segala ciptaannya, termsuk semua mahluk, bumi, pertiwi, langit, para dewata, Tuhan Yang Maha Esa dan sebagainya. Dengan demikian mantra-mantra di atas mengamanatkan  tiga kebahagiaan yang diperoleh melalui hubungan yang harmonis atau serasi yakni :
  1. Brahmahita dan Dewahita : menciptakan keserasian atau keharmonisan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusahita : menciptakan keserasian atau keharmonisan antara sesame manusia.
  3. Bhutahita : menciptakan keserasian atau keharmonisan dengan alam semesta beserta semua mahluk, bauik binatang mauoun tumbuh-tumbuhan.
Demikian dengan mengarahkan Dharma agama menujuk pada tiga tujuan itu kita telah mengamalkan  Keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. Swelanjutnya  bagaimana tiga arah kehidupan beragama itu dilakukan secara konsekwen dan continue baik oleh umat secara individual maupun secara bersama-sama dalam masyarakat  umat  Hindu.

V. KESIMPULAN
Ajaran keharmonisan diamanatkan dalam kitab suci Veda melalui mantra-mantra yang dikandungnya. Mantra-mantra Veda adalah petunjuk dan pembimbing hidup umat manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Keharmonisan  dilandasi  ajaran Yajna yang pada hakekatnya adalah ajaran untuk  mengembangkan kasih saying,  ketyulusan, penghargaan dan toleransi serta bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, para dewata manifestasi-Nya, para resi dan leluhur, sesame umat  manusia dan umat manusia dengan citaannya termasuk bumi dengan segala penghuninya.
Bila ajaran  keharmonisan senantiasa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kesejahteraan dan  kebahagiaan akan dapat segera diwujudkan, demikian pula ajaran keharmonisan, seperti halnya Yajna senantiasa relevan sepanjang jaman.