Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

WAYANG DI MATA SEORANG PENONTON


Bagi masyarakat Indonesia kesenian wayang bukanlah hal yang baru. Wayang adalah sekian dari jenis seni yang mendapatkan tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Kecintaannya akan wayang menjadikan hasil budaya yang satu ini seolah-olah menjadi bagian dari peri-kehidupan bangsa yang tidak akan diketemukan di negara-negara lain. Di sebagian wilayah Indonesia seperti Jawa dan Bali, wayang merupakan seni yang sudah menjadi tontonan masyarakat sejak jaman purba.
Sebagai seni budaya yang sudah melekat di hati bangsa Indonesia wayang sudah memberikan nuansa tersendiri dalam membentuk peradaban manusia Indonesia.  Kendati pun keberadaan wayang di negara kita tidak dapat dijadikan suatu alasan bahwa wayang adalah budaya asli bangsa Indonesia.
 Hingga kini belum ada kesepakatan para ahli mengenai asal-usul wayang. Brandes, Hazeu, Rentse, Kats dan Kruyt menyatakan bahwa wayang berasal dari Indonesia (baca : Jawa). Sementara Pischel, Krom, Poensen dan Ras menyebutkan bahwa wayang berasal dari India. Selain itu masih banyak para ahli lain seperti Goslings berpandangan bahwa Cina sebagai asal kebudayaan wayang melalui interpretasinya tentang wayang Ying-hi. Lebih jauh, dewasa ini identifikasi wayang diarahkan terhadap seni teater masa Yunani dan Romawi seperti satyr, cycle, miracle dan sebagainya. 
Begitu banyaknya pendapat dari para ahli yang masing-masing membawa teori sesuai bidangnya nampaknya agak sulit untuk menelusuri jejak asal-usul wayang. Namun kalau kita melihat tempat di mana wayang itu hidup, di sana kita temukan bahwa masyarakat pendukungnya tidak begitu mempermasalahkan apa dan dari mana wayang itu. Masyarakat lebih cenderung melihat wayang dari sisi nilainya, Apakah itu nilai estetis, filosofis dan lain-lain. Nilai-nilai inilah yang kemudian menumbuhkan semangat bagi masyarakat pendukung budaya itu untuk tetap melestarikannya.
Di Indonesia (baca : Jawa dan Bali) misalnya. Masyarakatnya menganggap wayang sebagai amanat nenek moyang yang perlu dilestarikan. Oleh karenanya tak mengherankan jika wayang di sini lebih menuansakan tradisi masyarakat yang dipelihara secara turun temurun. Ditambah lagi dengan keberadaannya yang lebih merupakan kesatuan holistik dari unsur-unsurnya ketimbang seni sejenis, seperti teater yang cenderung parsialistik. 
Sebagai kesatuan yang holistik, unsur-unsur wayang yang meliputi; dalang, wayang, sarana-sarana dalam pertunjukannya seperti gedebok/pohon pisang,  blencong/lampu, kelir dan gamelan/seperangkat alat musik, tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena unsur-unsur tersebut mempunyai makna simbolik yang secara integral menunjuk pada suatu makna.
Pendapa yang kosong sebelum pertunjukkan menandakan kekosongan (sunya). Kelir melambangkan angkasa, pohon pisang yang merupakan simbol dari bumi. Lampu yang merupakan penerang sebagai lambang matahari. Wayang gunungan (kayon) yang melambangkan alam semesta beserta isinya dan wayang sendiri merupakan gambaran dari watak manusia apakah itu kesatria, raksasa (diyu) dan sebagainya yang kesemuanya itu menunjuk pada hukum rwa bhineda. Sedangkan gamelan melambangkan adanya keharmonisan dari segala isi kehidupan sebagaimana alunan irama yang terdengar merdu.
Pada akhir pertunjukkan pendapanya pun kosong. Hal ini dimaksudkan bahwa segalanya diawali dengan ketiadaan dan kembali pada ketiadaan. Inilah sebenarnya yang membedakan struktur lakon wayang dengan lakon drama-drama yang lain. Jika dalam drama atau teater umum lebih banyak dikenal struktur cerita linear (dari A ke Z), maka dalam wayang memiliki struktur cerita sirkuler (dari A kembali ke A).
Senada dengan itu, iringan gamelan pada pertunjukan wayang selalu diawali dengan pathet nem (yang berkunci enam), yang berjalan lambat. Kemudian pada bagian pertengahan pertunjukan dimainkan dengan iringan gamelan pathet sanga (yang berkunci sembilan), yang berjalan cepat. Dan akhirnya, pada bagian akhir iringan gamelan akan menggunakan pathet manyuro (kunci manyuro) yang sebenarnya juga kembali ke kunci enam.
Struktur cerita yang khas (sirkuler) dalam pertunjukkan wayang ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia itu selalu berputar bagaikan  cakra manggilingan” yang suatu saat akan bertemu kembali dengan “sangkan paran”, yang memberikan kita hidup. Cerita-cerita yang disajikan dalam wayang pun mengandung sejuta makna yang perlu perenungan. 
Jika demikian halnya, maka wayang bagi kita bukan sekedar tontonan yang menyajikan menu instant seperti kesenian pop, dangdut, rock dan sebagainya. Setelah selesai kita menonton kita hanya akan terhibur. Lebih dari itu wayang menyuguhkan masalah yang memerlukan penggalian kemampuan intelektual, kultural, filosofis, etis dan estetis.        
Bagi mereka yang “kawogan ing galih” lakon wayang akan dieksplorasikan secara lebih mendetail dan mendalam sehingga menambah khasanah wayang yang sarat dengan makna filsafat, etika atau moral dan religius. Oleh karenanya, dalam tradisi wayang Jawa, sebelum tancep kayon dari pentas wayang kulit, sering kita temukan penampilan wayang golek, yang kesemua itu mengisyaratkan kepada para penonton untuk mencari sendiri hikmah dan kesimpulan yang dianggap sesuai dengan pandangan hidupnya (golek-ana dhewe-dhewe).
Dalam pada itu, selain sebagai tontonan wayang bagi masyarakat Jawa dan Bali juga, wayang juga bisa dijadikan sebagai tuntunan. Artinya setelah kita menonton wayang ada hikmah yang dapat kita ambil apakah itu nilai moralnya, etikanya, religinya dan nilai-nilai lainnya yang bisa kita integrasikan ke dalam pemikiran kita untuk selanjutnya diaplikasikan ke dalam tingkah laku keseharian kita. Sebaliknya apabila setelah kita menonton wayang kita tidak dapat memetik sedikit pun nilai yang terkandung di dalamnya, maka tidak akan jauh berbeda dengan anak-anak yang menonton film-film kartun seperti “Dragon Ball”, “Sinchan”, “Doraemon” dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Lebih-lebih sastra lakon wayang yang umum disuguhkan kepada kita adalah cerita yang dibuat oleh “orang-orang suci” yang mempunyai kadar spiritual yang cukup tinggi. Mahabharata dan Ramayana sudah diakui oleh seluruh sastrawan dunia. Bahkan menurut mereka tidak akan diketemukan lagi di jaman sekarang ini penulis-penulis seperti Valmiki dan Vyasa.
Melihat banyaknya ajaran dan nilai-nilai yang diserap dalam wayang, wajarlah kalau orang Jawa atau bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai “ensiklopedi hidup”. Hal ini dapat dibuktikan dengan kelengkapan ajaran-ajaran dan nilai-nilai wayang tentang manusia, alam, Tuhan serta yang paling pokok adalah bagaimana manusia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya (kasampurnaning ngagesang).
Selanjutnya unsur yang mempunyai peranan besar dalam pertunjukkan wayang adalah dalang. Seorang dalang adalah skenario, sutradara sekaligus pemain dalam pertunjukkan wayang. Jadi, pada dasarnya menjadi dalang tidak saja harus pandai memainkan wayang pada kelirnya saja,  lebih dari itu ia harus ahli gending, ahli tata bahasa, ahli pikir, juru dakwah dan masih banyak lagi kemampuan yang harus dimilikinya. Dalam konteks wayang sebagai tuntunan dalang adalah orang yang memberikan wawasan atau pengetahuan sesuai dengan arti menurut jaran dosoknya yang umum dipakai oleh orang Jawa yaitu “wedha” dan “mulang”.
­Sejalan dengan itu, Suwardi Endraswara (2003) memberikan arti dalang dengan mengambil padanan kata dalam bahasa Arab dalla yang berarti menunjukkan ke jalan yang benar. Melihat arti dari dalang itu sendiri, maka tidak salah kalau dalam pertunjukkan wayang, dalang merupakan lambang dari Hyang Purba Wasesa.    
Dalam kenyataannya di lapangan seorang dalang tidak selalu sesuai dengan  arti kata dan simbol yang dibawanya. Laju perkembangan jaman telah banyak mengubah konsepsi seputar pedalangan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Dalang selaku seniman yang juga masih merupakan makhluk ekonomi harus berpikir melalui pola-pola ekonomi agar “produk” yang dijualnya itu laku keras di pasaran.
Akibatnya, wayang di masa kini tidak ubahnya seperti sinetron-sinetron atau hiburan-hiburan lain yang diperjualbelikan di televisi dengan tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan sponsor sebanyak-banyaknya dan meraih rating semaksimal mungkin. Selanjutnya disadari atau tidak nilai-nilai yang dulu dianggap adi luhung dari wayang sekarang sudah mulai pudar. Jadi wayang tinggal tontonan belaka.
Fenomena semacam ini menjadikan banyak dalang yang cacat. Artinya, ketika “manggung” mereka sering meninggalkan tata krama pedalangan. Jenis-jenis cacat dalang ini pernah ditulis oleh Riyosudibyaprana dalam bukunya “Gegabengan” setengah abad lampau. Dari jenis-jenis cacat dalang tersebut yang kini banyak terjadi diantaranya; sekerah-kerah (tidak menurut pakem), ronggah (tidak tenang, toleh kanan, toleh kiri), ngawur (tindakannya tidak sesuai aturan), lakon (kata-katanya jorok, lacur dan kasar) serta masih banyak lagi cacat-cacat dalang lainnya yang sering menjadi “virus” bagi para dalang di jaman sekarang ini.
Bukti dan fakta di lapangan menunjukkan betapa merosotnya moral para dalang di jaman yang justru disebut-sebut sebagai jaman pasca pencerahan. Di Jawa misalnya, jika kita mau mengamati pertunjukkan wayang saat ini dari jarak dekat, kita bisa saksikan bagaimana seorang dalang mengucapkan kata-kata kasar seperti “jancuk” dan sejenisnya ketika berada di atas panggung. Kalau dulu kita tidak pernah melihat seorang dalang menengok ke belakang, maka sekarang kita bisa saksikan dalang yang bangun dari dampar-nya lalu bernyanyi dan berjoget bersama sinden-nya. Di Bali pun kita juga temui hal-hal yang serupa, misalnya banyak dalang yang hanya menonjolkan keseronokkannya, banyolan, tanpa ada pesan-pesan yang bersifat mendidik para penontonnya.
Belum lagi dengan banyaknya sensasi dalam sastra lakon wayang. Cerita yang dulu sudah menjadi pakem dalam wayang kini tinggal kenangan. Di Jawa, dengan munculnya cerita-cerita “carangan” telah menumbuhsuburkan budaya “prostitusi” sastra dalam lakon wayang. Banyak dalang yang akhirnya hanya asal-asalan membuat lakon cerita agar laku terus.
Di sana-sini kita temukan istilah-istilah pedalangan yang cenderung dibuat-buat. Sehingga dalang yang tadi telah disebutkan sebagai penunjuk jalan kebenaran, justru malah melakukan “kebohongan publik”. Contoh yang bisa kita petik langsung misalnya, senjata Puntadewa yang bernama “Kalimasada” oleh mereka (baca : dalang) yang berkepentingan sering diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat”, Manduro yang merupakan tempat Baladewa sering diasumsikan sebagai Madura (padahal istana Baladewa adalah Mathura yang juga merupakan nama daerah di India) sehingga beberapa dalang ketika memainkan peran sebagai Baladewa atau Balarama sering memakai logat Madura.
Dari sisi cerita pun sudah banyak dalang yang jauh meninggalkan pakem aslinya yakni Ramayana dan Mahabharata. Jika R. Ng. Ranggawarsita yang menulis Kitab “Pusaka Raja” (sumber lakon para dalang) masih hidup, mungkin Beliau akan kecewa menyaksikan fenomena pedalangan kini yang banyak meninggalkan nilai-nilai etika, filsafat, moral dan spiritual.
Memang sih tidak semua dalang bersikap semacam itu. Masih ada dalang yang tidak hanya memberikan sekedar tontonan, tetapi memang benar-benar ingin memberikan tuntunan kepada penonton. Misalnya, dalang yang juga pengurus Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Subari yang pernah penulis temui ternyata masih ingin mempertahankan tata krama pedalangan dengan sebaik-baiknya. Bahkan Guru SD yang kini masih aktif memberikan dharma vacana ke pelosok-pelosok desa ini sering kali berdebat dengan dalang-dalang lain karena masalah cerita yang diputarbalikkan, porno, bersifat melecehkan dan sebagainya.
­Namun ironisnya, masyarakat sebagai konsumen tidak banyak yang menyukai dalang semacam Subari biarpun mereka adalah orang Hindu. Mereka lebih enjoy  dengan pertunjukkan wayang yang banyak humornya. Meski dalam humoriusnya itu kadang kala terselip kata-kata seronok, porno dan kasar.
Demam hiburan membuat masyarakat jarang melihat wayang dari sisi tuntunannya, mereka lebih asyik menonton wayang yang memakai teknologi canggih, ada artis atau pelawaknya, juga hiburan-hiburan lain seperti karaoke dan sebagainya. Meski lakon cerita ngawur, cenderung bedigasan (tidak etis), nir-makna, dan seterusnya masyarakat tetap menerimanya. Bahkan dalang yang semacam ini justru yang lebih laris dari pada dalang yang temenan (benar-benar mengikuti pakem pedalangan).
Kenyataan tersebut seharusnya mampu menjadikan critical point bagi kita umat Hindu yang ajaran-ajaran kita (Ramayana dan Mahabharata) sering dipakai dalam lakon wayang. Jika kita biarkan berlarut-larut pengkaburan cerita dan makna dalam sastra kita, bisa jadi generasi kita mendatang akan kehilangan arah dan mudah terkena “konversi” iman.
Dalam pada itu bagi para orang tua dan tokoh agama sudah seharusnya memberikan wawasan secara intensif kepada anak-anak dan generasi muda kita sedini mungkin mengenai cerita-cerita Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dalam ajaran Hindu agar nantinya mereka tidak mudah percaya pada dalang-dalang yang “cacat” sebagaimana yang telah disinggung di muka. Bila perlu kita bikin film kartun Mahabharata dan Ramayana atau cerita-cerita Tantri yang sarat dengan makna agama, sehingga ke depan hari-hari anak-anak kita tidak dihiasi dengan “Sinchan”, “Doraemon”, “Dragon-Ball” dan film kartun lainnya. Melainkan akan diimbangi oleh kartun Ramayana, Mahabharata atau cerita-cerita Hindu lainnya.
Terlepas dari itu, kalangan seniman yang menggeluti pewayangan juga harus sadar dengan kode etik profesinya. Hendaknya mereka menata kembali tatatanan-tatanan sesuai dengan pakemnya. Jikalau dalam sistem pendidikan Barat ada prinsip bahwa dengan memberikan pendidikan yang tidak berkualitas sama dengan merampas pelan-pelan masa depan bangsa, maka dalam sistem seni semacam wayang mesti berlaku “uger-uger” bahwa memberikan sajian hiburan yang seronok, ngawur, tidak mendidik dan sejenisnya sama dengan meracuni pelan-pelan moral bangsa.


DAFTAR


Amir, Hazim, 1997, Nilai-nilai Etis dalam Wayang, Jakarta : Sinar Harapan.
Endraswara, Suwardi, 2003, Falsafah Hidup Jawa, Tangerang : Penerbit Cakrawala.
Danandjaja, James, 1986, Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain, Jakarta : Grafiti Pers.
Darnawi, Soesatyo, 1982, A Brief Survey of Javanese Poetics, tr.by. Gary Lichtenstein, Jakarta : Balai Pustaka.
Miswanto, 2003, “Keris, Warisan Budaya Penuh Makna”, “Warta Hindu Dharma”, 442 : 10 – 13.
Miswanto, 2004, “Simbolisme dalam Budaya Jawa – Hindu”, Warta Hindu Dharma, 450 : 25 - 28
Sujamto, 1997, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, Yogyakarta: Dahara Prize.
Suseno, Frans Magnis, 1988, Etika Jawa : Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta : Gramedia.
Zoetmulder, P.J., 1994, Kalangwan : Sastra Jawa Kuno, Selayang Pandang, Terj. Dick Hartoko, Jakarta : Djambatan.

Oleh : Miswanto
Sumber: Warta Hindu Dharma No. 454 September 2004 Hal. 25-27