Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

MENCARI GURU SEJATI



Guru merupakan sebutan yang sangat mulia. Dewa Siwa yang juga Maha Dewa pun disebut sebagai Bhatara Guru. Sang Hyang Widdhi Wasa dalam ajaran Hindu juga disebut sebagai Guru Swadyaya. Pendek kata, kemuliaan sebutan guru ini sungguh tak bisa terungkapkan oleh kata-kata saja. 

Namun demikian, kemuliaan sebutan sang guru tadi kadang-kadang tidak bisa dijaga dengan baik oleh orang-orang yang menyandang gelar “sang guru” tersebut, tidak peduli apakah mereka “guru kecil” atau “guru besar”. Tidak sedikit kasus-kasus yang mencoreng nama baik guru, seperti : pemerkosaan oleh guru terhadap muridnya, segala bentuk kecurangan yang dilakukan oknum guru, ajaran guru menyesatkan murid-muridnya, dan masih banyak lagi lainnya. Masih pantaskah mereka menyandang gelar “sang guru sejati”? Ah, kayaknya hati ini tidak bisa untuk mengatakan “ya”. Lalu seperti apakah sang guru sejati tersebut?

Secara etimologis guru berasal dari kata Sanskerta “guru” yang berarti “berat. Maksudnya, amatlah berat konsekuensinya menjadi seorang guru. Segala yang dipikirkan, yang dikatakan dan yang ia perbuat harus benar-benar mencerminkan kepribadian guru yang suci dan mulia layaknya dewa. 

Candra Vasu (2000) dalam kitab Siva Samhita secara terinci menjelaskan tentang konsep guru. Dalam bab III sloka 14 dijelaskan sebagai berikut: guruh pita gurur mata gurur dewo na samsayah, karmana manasa vaca tasmat sarvaih prasevyate (Tak ada keraguan sedikitpun bahwa guru adalah ayah, guru adalah ibu dan bahkan guru adalah Tuhan dan dengan demikian ia harus dilayani/diikuti oleh semuanya dengan pemikiran, perkataan dan perbuatan)”.

Menyimak makna sloka tersebut, maka tidaklah berlebihan jika dalam tradisi masyarakat Jawa, kata guru dijarwadhosokkan sebagai “digugu lan ditiru”. Artinya, seorang guru harus selalu berkata benar karena ia akan digugu oleh para sisyanya dan ia harus bertingkah laku baik karena itu akan ditiru oleh para sisyanya. 

Swami Rama (2002) mengatakan bahwa kata guru berasal dari dua suku kata yaitu “gu” dan “ru”. Gu artinya kegelapan dan ru dapat diartikan cahaya. Dalam kamus Sanskerta terdapat akar kata kerja ruc atau ruci yang berarti bercahaya (Surada,2007). Dalam Lakon Dewa Ruci digambarkan bahwa Bima Sena bisa melihat cahaya dalam dirinya setelah bertemu dengan Dewa Ruci.

Lebih jauh, Swami Rama menjelaskan bahwa guru berarti orang yang memberikan cahaya dalam kegelapan (awidya). Dalam tradisi Hindu di India guru yang memberikan pencerahan atau sinar suci ini disebut sebagai gurudev. Gurudev adalah sebuah aliran dan saluran pengetahuan yang agung. Oleh karena itu gurudev akan membimbing para sisya sebagaimana aliran sungai yang membawa air bermuara ke laut dan menyalurkan seluruh pengetahuan kepada mereka. Lamat-lamat masih terngiang dalam benak saya, salah satu bait syair Hymne Guru yang berbunyi “...engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan...”. Sungguh ungkapan yang tiada taranya bagi seorang guru. 

Seorang gurudev adalah orang membimbing, mengasuh, membina dan mendidik para sisyanya dengan penuh kasih sayang sebagaimana layaknya anak-anaknya sendiri. Gurudev tersebut mengajar dengan cinta kasih, kesadaran dan penuh kesabaran. Beliau tidak pernah menghina para siswanya, betapun buruknya murid itu. Beliau juga tidak pernah mengendalikan pemikiran para sisyanya, akan tetapi beliau membuat mereka tersadar akan cara berpikir dan pemikirannya sendiri. Gurudev tidak akan merendahkan martabat kemanusiaan dengan mencuci otak para sisyanya dan memasukkan doktrin-doktrinnya sendiri. Karena beliau sangat paham betul tentang swabhawa (keberadaan), swakarma (kegiatan), swaguna (sifat) dan swadharma (dharma) dari masing-masing sisyanya. Oleh karena itulah tidak berlebihan jika orang-orang seperti gurudev ini dikatakan sebagai sang guru sejati. 

Menyimak konsepsi tersebut nampaknya akan sulit bagi kita menemukan guru sejati di jaman ini. Kekawin Niti Sastra pun mengamanatkan kepada kita bahwa tidak mudah mencari sang guru sejati. Lebih-lebih pada jaman Kali yang ditengarai sebagai jaman yang penuh kesulitan, keragu-raguan, kemunafikan dan berkembangnya bibit-bibit kehancuran. Sebuah petikan dalam Kekawin Nitisastra IV.6 menyebutkan: “singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana, tanwaktan guna sura pandita widagdha pada mangayap ing dhaneswara ... (Sesungguhnya bila Jaman Kali datang pada akhir Yuga hanya kekayaan/uang yang dihargai. Tidak perlu dikatakan lagi, orang pandai, pemberani, dan para pendeta/guru akan mengabdi pada uang/orang-orang kaya). 

Sloka tersebut nampaknya harus dijadikan sebagai pertimbangan jika kita ingin mencari sang guru sejati yang akan menunjukkan jalan kebenaran. Karena pada saat ini banyak orang yang ingin mengais rejeki dengan mengaku-ngaku sebagai guru sejati. Kemampuannya yang belum seberapa hanya cocok untuk dijadikan sebagai tontonan dan acara hiburan di televisi. Bukan sebagai panutan untuk mencari jati diri. Banyak contoh kasus “para guru” yang tengelam dalam lautan rejeki karena mereka tidak bisa mengendalikan diri. 

Hal itu pula yang menimpa Bhagawan Wisrawa yang hanya ingin mencari sensasi dengan mengajarkan Dewi Sukesi ilmu suci “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” tanpa memandang kesiapan diri dan anehnya ilmu suci tersebut hanya “dibarter” dengan seorang putri untuk putranya yang ia cintai. Akhirnya yang terjadi adalah hal yang buruk yang tidak patut untuk diceritakan. Ilmu suci yang seharusnya memberikan anugrah tersebut akhirnya mendatangkan musibah baik bagi Wisrawa maupun Sukesi. 

Mestinya seorang guru sejati sebelum memberikan ilmu kepada para sisyanya harus paham betul kesiapan diri dari para sisyanya tersebut. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh Bhagawan Dhomya dalam mengajarkan ilmu kepada ketiga sisyanya yaitu Arunika, Uttamanyu dan Weda. Setelah melalui ujian dan guru memahami betul kesadaran diri dari para sisyanya (atutur i jati nira) maka barulah Bhagawan Dhomya mengajarkan pengetahuan suci itu kepada ketiga sisyanya. 

Guru yang sejati adalah guru tidak mengharapkan apa-apa dari para sisyanya. Namun ia memberikan segalanya kepada mereka. Ia akan mewariskan seluruh harta yang tidak akan pernah habis tersebut kepada para sisyanya. Dalam Serat Wulangreh juga disebutkan beberapa ciri seorang guru sejati yang terungkap melalui tembang Dhandhanggula: “nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing cukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana (Tetapi jika engkau hendak berguru cucuku, pilihlah manusia yang tahu ilmu kasunyatan, yang baik tingkah lakunya, serta yang tahu akan semua aturan dan hukum, yang taat dalam beribadah dan pengendalian diri, lebih baik lagi jika itu pertapa, yang sudah bebas dari nafsu duniawi, tidak mengharapkan pemberian orang lain, itulah orang yang patut kau jadikan guru, serta patut kau mengerti/hargai).

Jika kita menemukan guru sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa kriteria tersebut di atas, maka sudah sewajarnya sebagai seorang sisya kita memberikan penghormatan dan pengorbanan untuknya. Memang seorang guru sejati tidak akan gila kehormatan dan berharap di manapun beliau bertemu para sisyanya mereka akan mencium tangan atau menyentuh kakinya. Itu bukanlah ciri guru sejati. Krisna, Buddha, Kristus atau pun Muhammad tentu tidak akan mengatakan kepada pengikut-Nya atau sisya-Nya agar mereka memuja-Nya. Tetapi kesadaran dari para sisyalah yang menyebabkan Mereka dipuja-puja oleh jutaan umat manusia. Meskipun di antara para pemuja-Nya itu paham betul bahwa Sang Guru tersebut bukanlah tujuan melainkan jalan untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya. 

Kemuliaan seorang guru sejati juga terlihat pada perumpamaan tentang guru dan Tuhan sebagaimana disebutkan oleh Swami Rama dalam bukunya “Living with Himalayan Masters”. Dia menulis “Jika guruku dan Tuhan datang bersama-sama, aku akan menghadap guruku dulu dan berkata, ‘Terimakasih banyak. Engkau telah memperkenalkan aku pada Tuhan’. Dan tidak mungkin aku menghadap kepada Tuhan dulu dan berkata, ‘Terimakasih Tuhan. Engkau telah memberikan aku seorang guru’.”. Semoga kita semua mendapat anugrah dari Tuhan atas berkat para guru kita. Om Guru Dipata Ya Namah. 

oleh: Miswanto

Media Hindu
2011
Juli
No. 89
56-57
0216-4639