Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Belajar dari Kisah Sastra Jendra



Adalah “Sastra Jendra”, sebuah ilmu kebatinan Jawa yang menjadi fenomena sejak berabad-abad yang lampau. Betapa tidak, ilmu yang konon disebut sebagai raja dari segala raja ilmu itu mempunyai cerita yang unik dan menarik untuk diperbincangkan atau pun dipermenungkan. Cerita itu adalah mengenai hubungan antara Bagawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dalam pewayangan Jawa, kisah ini sering merupakan salah satu bagian dari “lakon” di dalamnya.

Dalam Babad Lokapala sebagaimana dikutip oleh Endraswara (2003) diceritakan bahwa Prabu Sumali mempunyai seorang putri bernama, Dewi Sukesi yang sudah waktunya untuk anggarap sari. Kecantikan Dewi Sukesi ini membuat Prabu Sumali tidak terlalu kesulitan untuk mencarikan jodoh bagi putrinya tersayang. Namun syarat yang diajukan oleh Dewi Sukesi amatlah berat, yakni ia bersedia menerima pria manapun asalkan pria tersebut mampu mengajarinya Ilmu Sastra Jendra.
Mendengar berita tentang kecantikan Dewi Sukesi tersebut Putra Bhagawan Wisrawa, Prabu Danaraja menjadi tertarik untuk memperistri putri idamannya itu. Kemudian ia meminta ayahnya untuk datang meminang Dewi Sukesi. Karena hanya ayahnya yang dapat memenuhi permintaan Dewi Sukesi tersebut.
Demi Sang Danaraja, maka berangkatlah Bhagawan Wisrawa menuju Kerajaan Lokapala. Sesampainya di sana Sang Bhagawan menyampaikan maksud kedatangannya itu kepada Prabu Sumali.
Sesuai dengan permintaan putrinya Dewi Sukesi, maka Prabu Sumali berkata kepada Sang Bhagawan bahwa putrinya akan menerima siapa saja yang mampu mengajarinya ilmu rahasia dewa tersebut. Sang Bhagawan menyanggupi permintaan Dewi Sukesi tersebut asalkan Sang Dewi mau dijadikan menantunya. Beliau juga menambahkan bahwa untuk memberikan wejangan ilmu rahasia itu harus di tempat yang benar-benar sunyi dan di taman yang hanya ditumbuhi bunga kenanga saja. Kesepakatan antara kedua belah pihak pun di buat.
Kemudian dipanggilah Dewi Sukesi menghadap Sang Bhagawan yang saat itu sudah bersiap-siap di taman yang agak jauh dari istana. Taman tersebut benar-benar sunyi dan hanya bunga kenanga yang tumbuh di sana sebagaimana permintaan Sang Bhagawan. Setelah Dewi Sukesi memberikan hormat kepada Sang Bhagawan, maka dimulailah wejangan ilmu “Sastra Jendra” seperti yang diminta oleh Sang Dewi.
Sang Bhagawan memulai wejangannya tentang hakekat Sastra Jendra. Pelan-pelan beliau meyakinkan, “Sukesi ketahuilah bahwa pria telah memetik sekuntum bunga mekar di taman menur. Saat itu, si perempuan sama sekali tak sadar dan tak merasa tercuri kesuciannya. Sebab dengan memetik sekuntum bunga itu,berarti pria itu telah membunuh dirinya sendiri sebagai seekor kumbang yang kehilangan sengatnya.Dan ketika pria tadi mencium bibir wanita, terbukalah seluruh rahasia hidup ini”.
Mendengar cerita tersebut, Dewi Sukesi pun terpana, penuh harap. Keingintahuannya tentang hakekat cinta membuatnya lupa akan segalanya. Ia pun terus dan terus bertanya mengenai hakekat tersebut. Sang Bhagawan yang begitu asyik mejelaskan tentang hakekat cinta itu pun lupa akan tujuanya semula. Saking asyiknya, keduanya tidak sadar akan kedudukan mereka sebagai guru dan murid. Rupaya panah dewa asmara telah merasuk ke dalam jiwa raga mereka. Sehingga wejangan dari guru ke murid itu pun berubah menjadi sebuah hubungan antara dua insan yang mabuk oleh anggur cinta.
Seketika itu muncullah suara dari angkasa, “Ketahuilah anakku, Sastra Jendra bukanlah wedaran budi manusia belaka, melainkan sebuah seruan hati yang merasa tak berdaya, memangil keilahian untuk meruwatnya. Kau mengira dengan kesombonganmu, kau bisa memasuki rahasia itu? Kenyataan adalah sebaliknya, baru dengan hati manusia akan merasakan kebahagiaannya. Seharusnya kau tahu Wisrawa, hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi bersamaan dengan itu hatimu menuju kenistaan seperti yang kau alami sekarang ini. Sastra Jendra pada hakikatnya adalah kepasrahan hati kepada Ilahi, supaya manusia menyucikannya. Kepasrahan itulah yang tak ada dalam dirimu ketika kau memahami Sastra Jendra. Kau dihukum karena kesombongan budimu, itulah dosa anakku”. Begitulah akhirnya, hingga Dewi Sukesi dikawini sendiri oleh Bhagawan Wisrawa dan melahirkan 4 orang anak, yakni: Rahwana atau Dasamukha, Kumbhakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibhisana.
Dari cerita tersebut dapat diketahui bahwa Sastra Jendra adalah ilmu yang amat sangat rahasia dan tidak sembarang orang dapat mengajarinya atau juga tidak dapat diajarkan kepada sembarang orang. Bhagawan Wisrawa dan Dewi Sukesi adalah bukti yang tidak terbantahkan akan hal tersebut.
Jika demikian, apakah Sastra Jendra itu? Tidaklah mudah untuk mengetahui apa itu Sastra Jendra, karena ia bukanlah sembarang ilmu seperti Ruqiyah ala TPI, Telepati ala Dedy Corbusier, Hipnotis ala Romy Rafael atau sederetan ilmu lain yang kerap menghiasi layar kaca dan kerap dijadikan sebagai ‘barang komoditi’. Bahkan, penulis pun tidak akan bisa menjabarkan secara tepat dan sempurna tentang ilmu itu. Akan tetapi, sebagai suatu pemahaman saja, perkenankanlah manusia yang tak tahu diri ini mencoba untuk mengkajinya dengan berbagai keterbatasan yang penulis miliki.
Sastra Jendra adalah ilmu kasepuhan atau ilmu tua. Ilmu ini memang diperuntukkan bagi mereka yang sudah “tua”. Dengan catatan, tua di sini bukan dalam pengertian umur. Tua di sini lebih pada pemahaman “ilmu, budhi, atau pun kebijaksanaan”. Masyarakat Jawa sering mengungkapkannya dengan istilah sepuh. Oleh karena itu, Sastra Jendra disebut sebagai “ilmu kasepuhan”.
Meskipun sebelumnya disebutkan bahwa Sastra Jendra lebih banyak dikenal dalam lakon-lakon wayang Jawa, pemahaman substansi yang ada di dalamnya belumlah mengena. Di sini Sastra Jendra lebih banyak dikupas dari segi kulitnya. Hal yang demikian tidaklah dapat disalahkan, karena biasanya sesudah pementasan wayang kulit di Jawa, sering diakhiri dengan pementasan wayang golek, dengan maksud para penonton diharapkan mencari sendiri maksud dari cerita tersebut (golekono dhewe-dhewe).
Terkait dengan hal tersebut, Van Den Broek (1870) menyatakan bahwa istilah Sastra Jendra di kalangan masyarakat Jawa waktu itu banyak bersumber dari sebuah buku karya Raden Ngabehi Sindoesastro yang berjudul “Arjoena Sasra Baoe”. Secara harfiah menurut buku ini, Sastra Jendra dapat diartikan sebagai raja dari segala sastra (sastra harjendra atau sastradi). Oleh karenanya ilmu ini tergolong ilmu tua. Ilmu ini juga mengajarkan tentang keselamatan bumi (hayuning bumi) beserta isinya atau alam semesta (hayuning rat). Hal itu dilakukannya dengan meruwat segala hal (pangruwating barang sakalir), yang berbau ‘raksasa’ (diyu). Sebagai sebuah ilmu yang mengajarkan tentang rahasia alam semesta (wadiningrat) guna mencapai kesempurnaan mahkluk (kasampurnaning titah) dan kalepasan (titining pati patitising kamuksan) maka ajaran Sastra Jendra bersifat sinengker (rahasia). Hal ini yang mendorong para tetua Jawa pada jaman dahulu mengajarkannya pada waktu malam hari (lingsir wengi) dan di tempat yang jauh dari keramaian (di hutan-hutan, gunung-gunung, atau tempat khusus lainnya).      
Lebih lanjut, di dalam kitab Arjoena-Sasra-Baoe, Sastra Jendra diuraikan secara singkat sebagai berikut : “Sastrarjendra hayuningrat, pangruwat barang sakalir, kapungkur sagung rarasan, ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastradi, pungkas-pungkasaning kawruh, ditya diyu raksasa, myang sato sining wanadri, lamun weruh artine kang sastrarjendra. Rinuwat dening bathara, sampurna patinireki, atmane wor lan manusa, manusa kang wus linuwih, yen manusa udani, wor lan dewa panitipun, jawata kang minulya mangkana prabu Sumali, duk miyarsa tyasira andhandhang sastra”. (Ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan alam semesta, untuk meruwat segala hal, dahulu semua orang membicarakan pada ilmu ini tiada lagi, telah terbingkai oleh sastradi. Kesimpulan dari pengetahuan ini bahwa segala jenis raksasa, dan semua hewan di hutan besar, jika mengetahui arti sastra Jendra. Akan diruwat oleh dewa, menjadi sempurna kematiannya atau menjadi dewa yang dimuliakan, demikianlah Prabu Sumali, ketika mendengar hatinya berhasrat sekali mengetahui Sastra Jendra).
Mencari sebuah makna dalam sastra tak ubahnya seperti menyelami lautan simbol, di mana seseorang harus mengetahui kedalamannya. Demikian halnya dalam memahami makna Sastra Jendra ini, seseorang haruslah tahu kedalaman makna dari ajaran rahasia tersebut.
Kedalaman makna dari sebuah Sastra Jendra tidak hanya terletak pada ajaran sinengkernya, tetapi juga bagaimana mengamalkan ajaran tersebut. Wisrawa adalah salah satu contoh dalam cerita di atas yang sudah menguasai ilmu Sastra Jendra. Dengan kelinuwihannya itu, ia beranggapan akan dapat mengajari Dewi Sukesi ngelmuning jawata tersebut. Tetapi kenyataannya yang terjadi justru kebalikan dari apa yang ia kehendaki. Ego yang ada dalam dirinya berubah menjadi benih-benih nafsu yang akhirnya membakar kelinuwihanya sendiri.
Pelajaran dari kisah seorang Bhagawan Wisrawa amatlah berharga bagi mereka merasa sudah mumpuni, linuwih, waskita, atau “pinter”. Kepandaian yang hanya dijadikan sebagai sebuah komoditi sebagaimana Wisrawa yang demi anaknya rela “menggadaikan” ilmu Sastra Jendranya untuk mendapatkan Dewi Sukesi, tidak akan berguna baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Hal tersebut mungkin juga dapat kita lihat pada Cerita tentang seorang Brahmarsi Visvamitra yang telah menerima wahyu berupa Mantra Savitri atau yang lebih populer dengan nama “Maha Mantra Gayatri”. Sebelumnya, alasan Visvamitra bertapa adalah untuk mengalahkan Rsi Vasistha. Karena egonya itulah berulang kali tapanya menuai kegagalan. Tetapi begitu ia mengalahkan egonya dan menundukkan dirinya di bawah kaki Sang Rsi Vasistha yang mengakui kemampuannya, barulah Suara Brahman itu bisa didengar oleh Rsi Visvamitra hingga menjadikannya sebagai seorang Brahmarsi.
Bepijak pada cerita-cerita tersebut, ada baiknya kita merenungkan sebuah peribahasa yang menyatakan, “di atas langit masih ada langit”. Begitu juga dalam memaknai sebuah Sastra Jendra. Walaupun ia disebutkan sebagai pengetahuan yang tertinggi atau setara dengan Raja Vidya dalam Bhagavad Gita, bukanlah berarti setelah kita memahami ilmu itu kemudian kita menganggap sebagai yang paling tinggi. Kesombongan dan ego itu justru dapat menutupi “buddhi” sebagai sumber dari kecerdasan dan kebijaksanaan dalam diri kita. Singkatnya, setinggi apa pun ilmu yang kita miliki kita harus “bisa rumangsa” dan jangan “rumangsa bisa”.

oleh: miswanto


*Media Hindu No. 46 Desember 2007 Hal. 56-57