Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Mengapa Kau Jual Jawaku, Jiwaku, Juwitaku?



Pulau Jawa merupakan Pulau yang terbentang antara 5°  Lintang Utara – 10° Lintang Selatan dan 105° – 115° Bujur Timur. Secara geografis pulau ini memanjang dari Timur ke Barat di kepulauan Nusantara yang berada di antara Selat Bali dan Selat Sunda serta Laut Jawa dan Samudra Hindia. Sejak dahulu kala, Pulau Jawa telah menjadi pusat peradaban dan mempunyai penduduk terbesar. Hal ini sebagai akibat dari keadaan Pulau Jawa kala itu yang merupakan pulau yang subur, aman, nyaman, tenteram, beradab dan lain-lain sebagaimana gambaran dalam janturan pedalangan yang menyebutkan "panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi kerta tur raharja".
Menurut Koentjaraningrat (1976), secara antropologi budaya manusia Jawa dikatakan sebagai orang-orang yang secara turun-temurun menggunakan bahasa Jawa dengan ragam dialek kehidupan sehari-hari dan berasal atau bertempat tinggal di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa.
Sayang sekali hingga saat ini, manusia Jawa mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan kebudayaan Jawa dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Bahkan kebudayaan Jawa terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing, terutama kebudayaan dari timur tengah atau Arab.
Dalam sebuah perbincangan tentang gerilya kebudayaan tersebut diungkapkan, negara-negara Timur Tengah atau Arab harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun (termasuk pemanfaatan peradaban) untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar). Hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah  terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatif akan dapat membuat minyak turun harganya.
Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari rezim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas. Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara-negara Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan lokal mendapatkan angin bagus. Ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio.
Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara samar-samar, orang awam pasti sulit mencernanya. Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, klenik, dukun, santet dan yang negatif sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris. Kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah atau Arab. Pada akhir cerita kebudayaan yang Jawa selalu dikalahkan oleh kebudayaan yang Timur Tengah. Para gerilyawan ini memanfaatkan para artis sebagai publik figur untuk melancarkan serangan-serangan, sungguh sangat licik! Para artis yang memang tidak begitu banyak tahu tentang budaya itu ya manut saja yang penting dapat duit seperti pepatah mengatakan ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang.
Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga tidak luput dari penggerogotan. Ini dilakukan mulai dari penggeseran ungkapan-ungkapan Jawa : tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong dan sebagainya dengan istilah-istilah asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha dan seterusnya. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa Bahasa Arab itu membuat manusia lebih dekat dengan surga.
Semua hasil kebudayaan yang berbau Jawa mulai dihilangkan. Kebaya, mondolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama-nama Jawa yang biasanya menggunakan Ki atau Nyi juga tidak luput dari serangan. Dahulu banyak buku-buku di sekolah dasar yang menggunakan nama Budi atau Wati kini diganti dengan nama-nama seperti Ahmad, Aisyah dan seterusnya.
Dalam masyarakat Jawa pun nama-nama Jawa seperti Suroso, Sukarno, Suharto, Bejo dan seterusnya untuk saat ini sudah sulit ditemui. Nama-nama itu banyak diambilalih oleh bahasa asing baik dari Barat maupun Timur Tengah. Padahal dalam masyarakat Jawa dikenal ungkapan "asma kinarya japa" yang bermakna di dalam nama itulah terkandung doa restu dari orang tuanya atau leluhurnya (Jawa). Jadi dengan menggunakan nama-nama asing itu mereka tidak akan mendapatkan restu dari para leluhur Jawa.
Selain itu masih banyak hasil-hasil kebudayaan Jawa yang disulap menjadi seolah-olah berasal dari Arab. Walaupun upaya penyulapan itu merupakan bagian dari prostitusi budaya, masyarakat Jawa nampak tidak sadar dengan hal itu. Sebagai contoh dalam budaya wayang kulit prostitusi itu banyak dilakukan dengan plesetan-plesetan jitu yang menyesatkan. Senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa yang awalnya adalah Kalimasada diplesetkan menjadi Kalimat Syahadat.
Setelah bahasa dan hasil-hasil budaya Jawa mulai disusupi oleh budaya kearab-araban yang dalam sebuah plesetan umum dikatakan arapati ngenah (di baca : ora pati nggenah yang berarti tidak begitu jelas), maka sastra dan aksara Jawa sebagai satu-satunya ciri khas Jawa pun telah mendapatkan serangan secara gencar-gencaran. Ilmu kesusastraan Jawa akhir-akhir ini sudah mulai punah. Tradisi-tradisi seperti macapatan yang berfungsi melestarikan kesusastraan tersebut juga menempati titik kritis.
Bahkan aksara sebagai simbol kehidupan masyarakat dan budaya Jawa pun sedikit demi sedikit telah digantikan dengan aksara lain yang notabene bukan warisan budaya leluhur masyarakat Jawa. Menurut Wahab (2001), meskipun penutur asli bahasa Jawa merupakan penutur yang jumlahnya paling besar dibanding dengan penutur-penutur bahasa daerah lainnya di Nusantara, nasib aksara Jawa tidak lebih baik dari nasib aksara Bali.
Aksara Jawa sekarang ini kedudukannya sebagai pengetahuan saja yang diajarkan kepada siswa sekolah dasar. Selebihnya siswa atau manusia Jawa tidak mendapatkan lagi pengajaran aksara Jawa. Kalaupun ada, intensitasnya tidak begitu besar. Pengajaran aksara Jawa sekarang tidak sampai menjadi ketrampilan karena tidak difungsikan sebagai representasi ortografis bahasa Jawa. Sehingga di dalam kehidupan masyarakat luas penggunaan aksara Jawa oleh orang-orang Jawa sudah sangat sedikit.
Ironisnya orang-orang tua untuk saat ini pun banyak yang tidak mengenal aksara Jawa. Mereka lebih paham aksara Arab daripada aksara Jawa. Padahal aksara Arab yang arah penulisanya ke kiri itu merupakan lambang yang bertentangan dengan budaya Jawa. Pada jaman dahulu orang Jawa dan Bali mengenal adanya ajaran pangiwa (ke-kiri-an) yang merupakan ajaran bagi orang-orang yang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan meskipun dengan cara santet, teluh dan sejenisnya. 
Fenomena itu setidaknya dapat memberikan gambaran tentang lemahnya kebudayaan Jawa. Apa yang pernah disampaikan oleh seorang pujangga Jawa zaman dahulu yang kemudian menjadi suatu unen-unen (semacam ungkapan) "ela elo cina walanda kari sajodho, wong Jawa kari separo" nampaknya menjadi suatu kenyataan. Ungkapan ini menurut Soedarsono (1985) merupakan keniscayaan budaya Jawa yang dahulunya dominan terhadap budaya asing.
Terkait dengan fenomena tersebut maka sudah semestinya kiblat kearab-araban itu harus mulai dipotong kompas 180 derajat. Masyarakat Jawa perlu mengalihkan kiblatnya di Jawa bukan di Arab. Hal ini nampak tersirat dari apa yang pernah disampaikan Ki Sondong Mandali dalam sebuah makalah yang disampaikan pada "Sarasehan Budaya", Sabtu 3 September 2005 Di PPPG Kesenian Yogyakarta.
Menurut Ki Sondong Mandali, orang-orang Arab sendiri sebenarnya dari dahulu tidak mempunyai kiblat dalam hal pengetahuan. Hal ini sebagaimana ungkapan dalam Hadis Nabi Muhamad SAW yang mengatakan "Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina!" yang kemudian dijadikan pepatah dalam Bahasa Arab. Sementara itu orang-orang Cina sendiri pada sekitar abad 6-7 Masehi, sejaman dengan lahirnya Islam di Arab, banyak yang berdatangan ke Indonesia untuk belajar. Pada waktu itu para pendeta agama Buddha dari Tiongkok berguru agama kepada para "pendeta besar" Jawa.  Salah satu "pendeta besar" itu Jñanabadra. 
Apa yang diungkapkan oleh Ki Sondong Mandali tersebut ilmiah adanya. Memang dalam sejarah terungkap bahwa banyak para kaum intelek Cina yang pergi ke Jawa untuk berguru. Sementara itu orang Arab yang waktu itu masih dalam zaman "Zahiliyah" disuruh untuk menuntut ilmu ke Cina. Kini malah orang-orang Indonesia (Jawa) sudah hilang Jawanya dengan menjadikan Arab sebagai pusat ilmu dan peradaban. Hal ini tentu telah merendahkan para leluhur Jawa yang sudah  membangun peradaban ini sejak puluhan abad lamanya. Secara radikal beberapa pengigih budaya Jawa menyebutkan orang yang sudah hilang kejawaannya tersebut sebagai "wong kenthir" atau selaras dengan ungkapan dalam Bahasa Belanda yang menyebutkan "koplag".
Fenomena itu sesungguhnya sudah pernah dilontarkan sejak KGPAA Mangkunegara IV. Dalam sebuah pupuh Pucung 37-38, beliau mengatakan, "Durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton mesir, pendak-pendhak mengendhok gunaning janma. Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok jawane den mohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah (Belum mampu, terburu ingin lekas pandai, mengartikan rapal, bagai sayid dari Mesir, sering meremehkan kemampuan orang lain. Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku, pikirannya tidak masuk akal, aneh tak mengakui ke-jawaannya, memaksa ingin mencari ilmu ke Mekah)".
Berpijak pada karya Mangkunegara IV di atas, maka sudah seharusnya orang-orang Jawa kembali ke Jawa. Sebagai manusia Jawa yang ingin hidup dalam kehidupanmu, boleh saja engkau menjual waja (gigi)-mu, tetapi jangan sekali-sekali engkau menjual Jawamu.

Oleh: Miswanto

Media Hindu No. 45 Nopember 2007 Hal. 56-57