Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

PANCA NYAMA BRATA

A.  PENGERTIAN PANCA NYAMA BRATA
Pengertian Panca Nyama Brata mempunyai arti lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental, untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin. Panca Nyama Brata adalah untuk mengendalikan semua akibat – akibat buruk yang ditimbulkan oleh mental dan pikiran.


B.  BAGIAN – BAGIAN PANCA NYAMA BRATA
1.  Akroda
2.  Guru Susrusa
3.  Sauca
4.  Aharalagawa
5.  Apramada

C.  PENJELASAN MASING – MASING PANCA NYAMA BRATA
1.  Akroda
Akroda artinya tidak marah, atau tidak mempunyai sifat marah. Dengan kata lain mampu mengendalikan sifat – sifat marah.
Salah satu dari sifat – sifat marah adalah mudah tersinggung. Sifat inilah yang harus dikendalikan sehingga manusia tidak mudah marah. Dengan mampunya manusia menahan sifat marah maka manusia akan mempunyai jiwa yang sabar.
Kesabaran adalah sifat yang mulia. Orang sabar tidak mudah tersinggung, sehingga akan disenangi oleh teman – teman. Orang yang diajak bicara akan merasa senang. Ia akan selalu tenang dalam menghadapi segala masalah. Pekerjaan dikerjakan dengan rasa tenang sehingga akan menghasilkan yang baik. Seperti apa yang diuraikan dalam “kitab Sarasamuccaya” sloka 94, sbb : “ Kesabaran hati merupakan kekayaan yang sangat utama, itu sebagai emas dan permata. Orang yang mampu mengendalikan nafsu ( kemarahan), tidak ada yang melebihi kemuliaan”.
Oleh karena itu kemarahan harus dikendalikan. Dengan tumbuhnya kemampuan mengendalikan kemarahan menyebabkan tumbuhnya kebijaksanaan pada orang itu.
Didalam Weda dikatakan bahwa : Orang yang tidak pemarah dan sabar adalah bersifat pemaaf. Orang yang sabar akan selalu dapat berpikir baik. Tidak terpengaruh oleh nafsu dan perasaan hati. Ia akan berbuat baik oleh karena itu orang sabar luhur budinya, banyak pahalanya.
2.  Guru Susrusa.
Guru Susrusa artinya hormat dan bakti terhadap guru. Guru Susrusa juga berarti mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran – ajaran dan nasehat guru.
Siswa yang baik akan selalu berbakti dan memperhatikan sikap hormat terhadap gurunya. Mempelajarai apa yang diajarkan. Dalam hal Guru, biasanya ada empat macam guru yang disebut Catur Guru : yaitu Guru Rupaka yaitu orang tua, Guru pengajian yaitu Bapak dan Ibu Guru disekolah, Guru Wisesa adalah pemerintah, dan yang stunya Guru Swadyaya yaitu Tuha ( Sang Hyang Widhi )
Anak yang hormat dan bakti terhadap Guru diberikan gelar anak yang suputra, sedang anak yang menentang terhadap Guru di sebut Alpaka Guru, hukumannya sangat berat dalam alam Neraka nantinya. Sedang anak yang Suputra akan mendapatkan tempat yang baik di sorga maupun di masyarakat, karena sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Marilah kita kenali satu persatu dari Catur Guru yang harus kita hormati.
  1. Guru Rupaka
Guru Rupaka sering pula disebut “ Guru Reka “ yaitu orang gyang sangat besar jasanya, orang yang menyebabkan kita lahir ke dunia. Betapa besar pengorbanan dan tanggung jawabnya terhadap anak. Dalam kitab “ Kakawin Nitisastra “ disebutkan ada lima jasa orang tua terhadap anaknya, sebagai usaha agar anaknya tumbuh sebagai suputra. Kelima jasa orang tua itu disebut “ Panca Widha yaitu “ Ametwaken “ artinya melahirkan matulung urip “ artinya menolong jiwa ( anak ) dari bahaya. “ maweh bhinojaya “ artinya memberi makan dan minum, Mangupadyaya “ artinya mengajar dan mendidik ( menyekolahkan ) ana dan “ Anyangaskara “ artinya mengupacarai.
Demikian besarnya jasa orang tua yang melahirkan kita, maka kita wajib menghormati dan patuh kepadanya, tiada yang dapat melebihi kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
  1. Guru Pengajian
Adalah Bapak dan Ibu yang memberikan ilmu pengetahuan dan mendidik di sekolah.
Guru pengajian yang menyebabkan kita menjadi pandai dan berguna bagi nusa dan bangsa. Kita bisa membaca dan menulis berkat jasanya. Maka hormati beliau dengan cara yang tekun dan mentaati tata tertib sekolah.
  1. Guru Wisesa
Adalah pemerintah sebagai anggota masyarakat kita wajib menaati segala peraturan yang mengatur tertib bermasyarakat. Peraturan – peraturan itu yang mengatur agar hidup bermasyarakat menjadi aman, tentram dan harmonis.
Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang selalu taat dan patuh terhadap peraturan dan perundang – undangan yang berlaku. Yang bertugas melaksanakan peraturan itu adalah pemerintah. Betapa berat tugas pemerintah menjaga keamanan dan ketertiban itu. Oleh karena itu, kita patut mentaati peraturan yang berlaku.
  1. Guru Swadyaya
Sang Hyang Widhi disebut Guru Swadyaya. Beliau pencipta, pemelihara dunia beserta isinya. Semuanya ini karena Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu, harus sujud bakti kepadaNya.
3.  Sauca
Sauca berasal dari kata “ SUC “ yang artinya bersih, murni atau suci. Jadi yang dimaksud Sauca adalah Kesucian dan kemurnian lahir batin.
Dalam silakrama disebutkan sebagai berikut :
“ Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. “
Banyak yang dapat kita usahakan untuk mencapai kesucian lahir maupun batin. Kesucian lahir ( jasmani ) dapat kita capai dengan selalu membiasakan hidup bersih., misalnya mandi yang teratur, membuang sampah pada tempatnya dsb. Sedangkan kesucian batin ( rohani ) dapat dilakukan dengan rajin sembahyang, menghindari pikiran dari hal – hal negatif.
Dengan jalan mengusahakan kesucian lahir batin kita akan mudah mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi. Kebersihan jasmani atau lahiriah akan mendatangkan kesehatan, maka ada istilah “ Kebersihan Pangkal Kesehatan “. Adanya kesehatan inilah kita akan banyak berbuat baik.
Dengan kesehatan kita akan bisa belajar dengan baik untuk mencapai cita – citanya. Dengan kesehatan jasmani kita juga mampu melaksanakan Tapa, Brata, Yoga dan Semadi, untuk mendapatkan kesucian batin.
  1. Ahara Lagawa
Ahara Lagawa brasal dari kata Ahara artinya makan, dan Lagawa artinya ringan. Jadi Ahara Lagawa artinya makan yang serba ringan dan tidak semau – maunya. Makan yang sesuai dengan kemampuan tubuh. Ahara Lagawa berarti juga mengatur cara dan makanan yang sebaik – baiknya. Lawan dari Ahara Lagawa adalah kerakusan. Kerakusan akan menghalangi dan merintangi kesucian batin.
Disamping makan berlebihan menyebabkan sakit. Agar badan menjadi sehat, makanlah makanan yang banyak mengandung gizi. Orang yang makan teratur dan bergizi badannya menjadi sehat dan pikirannya menjadi segar dan cerdas. Sebaliknya orang yang makan  berlebihan, tidak teratur dan suka minum minuman keras seperti arak, bier dan sejenisnya, maka badannya menjadi sakit dan sarafnya terganggu. Serta pikiranpun menjadi kacau.
Sehingga dalam kitab Bhagawad Gita Bab XVII, 8 disebutkan jenis – jenis makanan yang patut dimakanagar menjadi orang yang bijaksana dan memiliki sifat luhur ( Satwika )
Didalam kitab Silakrama diuraikan panjang lebar mengenai aturan – aturan makan dan minum. Disebutkan pula binatang yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan.
Demikian pentingnya pengendalian dalam hal makan, maka ada salah satu cara pengendaliannya yaitu dengan melakukan “ Upawasa “ artinya tidak makan dan minum, yang biasanya dilakukan pada waktu Hari Raya NYepi.
Makanan yang baik, adalah makanan yang sudah dipersembahkan, makan yang tidak menyebabkan diri sakit, makanan yang mengandung protein, Makan makanan yang serba ringan sebenarnya untuk meringankan beban pekerjaan pencernaan untuk mempermudah mendapat ketentraman perasaan dan kesucian batin.
  1. Apramada
Apramada artinya tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban. Apramada ialah tidak segan – segan untuk mempergunakan hidup itu sebagai Sadana / jalan guna melakukan Yoga dan Samadi. Seorang siswa harus tidak segan – segan untuk menurut ajaran dan nasehat guru. Tidak boleh segan mengucapkan berkali – kali menghafal dan mengulangi pelajaran yang diberikan oleh guru. Tidak boleh segan – segan bertanya bila ada suatu persoalan yang belum jelas. Dengan berusaha melaksanakan kewajiban sendiri ( Swadharma ) dan menghormati kewajiban orang lain ( para dharma ), maka keharmonisan akan dapat dicapai, yang pada akhirnya kebahagiaan juga akan dapat dicapai.
Dalam kitab Bhagawad Gita Bab XVIII, 47 disebutkan :
Lebih baik swadharma diri sendiri meskipun kurang sempurna dari pada dharma orang lain yang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.
Sloka diatas menegaskan agar kita melaksanakan kewajiban sendiri seperti sebagai pelajar maka laksanakan kewajiban sebagai pelajar, jangan lalai, jika sebagai pelajar melalaikan kewajiban sebagai pelajar, maka kita berdosa dan menjadi bodoh.
Adapun kewajiban – kewajiban yang harus dilakukan oleh siswa kerohanian adalah :
  1. Arcana, artinya memuja dan pemujaan yang terpenting adalah pemujaan kepada Sang Hyang Widhi.
  2. Adhyaya, artinya belajar
  3. Adhyapaka, artinya mengajar ( misal mengajar adik )
  4. Swadyaya, artinya belajar sendiri. Rajin belajar dan mengulangi pelajaran yang telah disampaikan.
Brata artinya melakukan pantangan – pantangan misalnya mengurangi makanana dan minuman
Kewajiban – kewajiban ini tidak boleh diabaikan oleh siswa kerohanian dan bahkan harus selalu diingat dan dilaksanakan agar benar – benar tercapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin.
Demikian uraian Panca Nyama Brata yang merupakan kesusilaan untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin untuk mencapai dharma dan moksa yang merupakan tujuan akhir ajaran Hindu.

sumber disini