Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

Maksud dari Hari Raya Karo Umat Hindu Tengger

Hari Raya " KARO " Umat Hindu Tengger (Hindu Siwa Budha)
Memperingati Pawedalan Jagad (Terciptanya alam semesta) yaitu unsur penyebab Kehidupan Purusa dan Prakerti.


Hari Raya KARO merupakan upacara keagaam Agama Hindu dan bukan merupakan upacara Adat Istiadat, hal ini sudah terbukti dengan adanya prasasti Walandit yang menyebutkan bahwa pada waktu sebelum dan sesudah kerajaan majapahit Gunung Bromo merupakan dan sudah mejadi tempat fokus pemujaan Kepada Shang Swayambu (Dewa Brahma) serta merupakan Tanah Hila-Hila (Tanah Suci) yang di huni oleh Ulun Hyang (Resi / Abdi Dewata) yang sebelumnya bernama " Rata Cemara Sewu "

Penjabaran berikutnya tentang karo adalah sebagai berikut :



Maksud dari " KARO "
KARO (Pawedalan jagad): yaitu dua unsur (Purusa dan prakerti) / unsur penyebab kehidupan di dalam alam semesta.
dalam melaksanakan upacara karo Umat Hindu Tengger membuat sesaji salah satunya adalah "PETRA" (Leluhur) / Pitra dimana upacara ini di pimpin oleh Dukun Pandhita dan di laksaksanakan di setiap rumah Umat Hindu Tengger.




Petra / Pitra (Leluhur)

Salah satu rangkaian Sesaji ini terlihat bahwa semua upacara yang ada di tengger merupakan upacara Agama Hindu dan bukan merupakan upacara Adat, yaitu Ngentas Leluhur yang di simbulkan dengan " Petra" dengan tujuan yaitu "ngentas" / yadnya suci kepada Leluhur. Dalam Agama Hindu mengenal PITRA YADNYA (persembahan tulus ikhlas kepada para Leluhur), tidak hanya itu fungsi dari upacara karo ini adalah memuliakan Leluhur Umat Hindu Tengger terutama EYANG RORO ANTENG DAN JOKO SEGER 
Jelas sekali bahwa Petra merupakan salah wujud rangkain upacara Agama Hindu yaitu Pitra Yadnya yang di sebutkan dalam Agama Hindu.
Panca Yadnya (yaitu lima pengorbanan suci secara tulus ikhlas) adalah :

a. Dewa yadnya
Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.

b.Pitra yadnya
lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.
Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
  1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
  1. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
  1. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
c.Manusa yadnya
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:
  1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
  1. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
  1. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari).
  1. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.
Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.

d.Resi yadnya
Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
  1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
  1. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
  1. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
  1. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
  1. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
d.Butha yadnya
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Dari kelima Upacara yadnya tersebut Karo merupakan upacara Pitra yadnya Hindu Tengger dan bukan merupakan upacara Adat oleh karena itu tujuan Upacara Panca Yanya adalah untuk keseimbangan Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung, begitupun pula upacara-upacara keagamaan Hindu Tengger yang lainya.  
  




Seshanti /Shanti

     
Gambar di samping menunjukan Rangkaian Upacara karo yang di sebut dengan Seshanti / Shanti (damai/ kedamaian) Upacara ini 
upacara pitra yadnya yaitu upacara yang sudah di sebutkan di atas yaitu untuk mengentas (mensucikan) / memuliakan Arwah Para Leluhur agar mencapai Kesempurnaan / Moksa.




Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Prakerti merupakan dua unsur pokok yang terkandung di dalam setiap materi di alam semesta. Purusa dan Prakerti merupakan unsur yang bersifat kekal, halus, dan tidak dapat dipisahkan. Purusa adalah unsur yang bersifat kejiwaan sedangkan Prakerti adalah unsur yang bersifat kebendaan atau material. Pada penciptaan alam semesta, Prakerti berevolusi menjadi Panca tan matra yaitu lima benih yang belum berukuran. Panca tan matra setelah melalui evolusi yang panjang akhirnya menjadi Panca maha bhuta, yakni lima unsur materi. Lima unsur materi ini kemudian membentuk anggota alam semesta, seperti misalnya matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, planet-planet, dan lain-lain. Unsur-unsur tersebut mencakup Unsur Bhuwana Agung (Alam Semesta) dan Unsur Bhuwana Alit (Badan Manusia).

Adapun Unsur Bhuwana Agung (Makrokosmos) / (Alam Semesta) dan bhuwana alit (Mikrokosmos) / (Badan Manusia) yaitu :

Pada permulaannya ketika dunia ini belum ada yang ada hanyalah Sang Hyang Widhi sebagai Nirguna Brahman yang berwujud :

- Sepi
- Sunyi
- Kosong
- Hampa

Kemudian lebih lanjut Sang Hyang Widhi menjadikan dirinya Saguna Brahman yaitu mulai ada aktivitas keduniawian.
Dalam tahap ini Sang Hyang Widhi menciptakan unsur Purusa dan Prakerti.

- Purusa adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan.
- Prakerti adalah unsur dasar yang bersifat kebendaan.

Kedua unsur tersebut : Purusa dan Prakerti bersifat tak dapat diamati (abstrak) dan tanpa permulaan.
Prakerti yang merupakan asas kebendaan memiliki Tri Guna yaitu :

- Satwam sifat dasarnya terang, bijaksana
- Rajas sifat dasarnya aktif, dinamis dan rajin
- Tamas sifat dasarnya berat, malas dan lamban

Dari ketiga Tri Guna pada awalnya Sattwam yang lebih kuat menyebabkan lahirnya Mahat yang artinya Maha Agung.

Dari Mahat lahirnya Buddhi, dari Buddhi lahirlah Ahamkara, dari Ahamkara lahirlah manas.

- Buddhi adalah benih kejiwaan tertinggi, fungsinya adalah untuk menentukan keputusan.
- Ahamkara adalah asas individu, ego, berfungsi untuk merasakan.
- Manas adalah alam pikiran yang gunanya untuk berpikir.

Dari Manas selanjutnya lahirlah Panca Tan Mantra yaitu lima benih unsur yang sangat halus, terdiri dari :

a. Sabda Tan Mantra adalah benih suara
b. Rupa Tan Mantra adalah benih dari sari warna
c. Rasa Tan Mantra adalah benih sari rasa
d. Gandha Tan Mantra adalah benih sari bau
e. Sparsa Tan Mantra adalah benih sari raba, sentuhan

Setelah melalui proses evolusi yang amat panjang lahirlah lima unsur yang lebih kasar. Kelima unsur ini disebut Panca Maha Butha yang terdiri dari :

a. Akasa atau Ether timbul dari sabda dan sparsa tan mantra
b. Bayu atau hawa timbul dari sabda dan sparsa tan mantra
c. Teja atau panas timbul dari sabda dan rupa tan mantra
d. Apah atau cair timbul dari sabda, sparsa, rupa dan rasa tan mantra
e. Pretiwi atau padat timbul dari kelima unsur tan mantra

Bhuwana Agung terbetuk dari lima macam unsur yang disebut Panca Maha Bhuta terdiri dari :

1. Akasa yaitu Ether atau ruang angkasa
2. Bayu yaitu udara yang ada disekitar manusia. Makhluk-makhluk lain sehingga bisa hidup.
3. Teja yaitu panas, sinar yang memberikan penerangan pada alam semesta ini seperti, Matahari dan api.
4. Apah yaitu Zat cair yang terdiri dari : Air, minyak
5. Pertiwi yaitu Zat padat yang terdiri dari : Tanah, Karang, Batu.
Akhirnya dari unsur Panca Maha Bhuta berkembanglah Bhuana Agung dengan segala isinya : Matahari, bumi, planet-planet yang ada di jagat ini.




untuk melihat sejarah Tengger : di sini
Sumber: Dukun Pandhita Tengger