Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

PROGRAM PEMBERDAAYAN UMATT DI BLITAR


Om Swastyastu puja dan puji astungkara kami haturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang masih memberi kami waranugraha
dan kesempatan untuk kami berbuat sesuatu untuk memberikan pelayanan untuk umatt .. dan tak lupa juga kami ucapkan Terimakasih Kepada Para Donatur (dharmika) yang budiman yang telah dengan tulus iklas berpunia untuk membantu sesama, asrungkara Program Pemberdayan ekonomi Lembaga Punia Tri Murti yang beberapa waktu lalu sudah kami lakukan di Kab. MALANG,LUMAJANG,KEDIIRI pada tanggal 1 Desember 2013 kemarin program yang

UAPACARA SUDHI WADHANI

Upacara Sudhi Wadhani adalah upacara pengukuhan/pengesahan dan janji seseorang yang sebelumnya bukan beragama Hindu menjadi penganut agama Hindu yang di dasari keikhlasan tanpa paksaan.
Kata Sudhi Wadhani terdiri dari 2 kata Sudhi dan Wadhani. Sudhi berasal dari bahasa Sansekerta, yang mempunyai arti penyucian atau persembahan, sedangkan Wadani mempunyai pengertian banyak perkataan atau banyak berbicara, kalau digabungkan arti kata suddhi dan wadani  maka mengandung arti dengan kata-kata penyucian.

BANYAK PEMANGKU YANG MEMBUTUHKAN BANTUAN GENTA

Om Swastyastu
menindaklanjuti permintaan dan keluh kesah dari salah satu Pemangku Umat Hindu Yang menginginkan sebuah genta, serta melihat kondisi kenyataan yang ada para pemangku di Malang, kediri, blitar dan di wilayah" lain di jatim pada umumnya masih banyak yang belum mempunyai GENTA. sebagai salah satu sarana dalam pemangku memuput suatu upacara persembahyangan. serta untuk menambah kesakralan dalam upacara-upacara yang di laksanakan. Oleh karena itu Kami Lembaga Punia Tri Murti bermaksud mengetuk pintu hati saudara" sedharma di manapun berada untuk bersama -sama mewujudkan keinginan para pemangku ini agar beliau lebih semangat dan manthap dalam menjalakan tugas'' kepemangkuan serta dapat menjadi benteng untuk umat. SEMOGA IDA SANG HYANG WIDHI MEMBERIKAN JALAN UNTUK KITA MEWUJUDKAN INI

Lembaga Punia Tri Murti Peduli Umat

Penyerahan Bantuan sembako untuk membantu meringankan beban mbah paini
Perjalanan menuju rumah mbah paini
Om Swastyastu ..
Astungkara pada tanggal 18 Oktober 2013 sdh terealisai bantuan Sembako dan sedikit punia uang untuk sedikit membantu meringankan beban Mbah Paini di Dsn Slumbung Ds. Mlancu Kec Kandangan Kab. Kediri Jatim Yang HIDUP SEBATANGKARA tidak memilki anak Suami sdh meninggal saudara'' beliau sdh meninggalkan hindu semua, diusia sekitar 70Th , walapun beliau dalam keadaan kurang berungtung namun dia tetap kokoh bediri di jalan dharma karena

MASIH BANYAK UMAT HINDU DI PLOSOK-PLOSOK YANG MEMBUTUHKAN BANTUAN

Om Swastyastu ..
Om Awignam Astu Namo siddham
semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senatiasa melimpahkan waranugrahanya untuk kita semua. menidaklanjuti informasi dari umat dari wilayah Mlancu Kab. kediri Jatim yang menginformasikan bahwa beberapa umat hindu di wilayah Dsn Slumbung desa Mlancu Kec. Kandangan Kab Kediri masih banyak terdapat  Umat kita yang sangat membutuhklan bantuan perhatian dan kepulian kita. untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut  
Kami melalui salah satu umat (relawan Lembaga Punia Tri Murti ) di daerah tersebut segera menindaklajunti

Penyaluran Buku dan Pembinan umat oleh LPTM

Om swastyastu
Astungakara atas asungkerta kertha waranugrha Ida Sang Hyang widhi Wasa tadi malam jam 08.00 tanggal 8 Oktober 2013 sdh tersalurkan bantuan berupa buku-buku pelajaran agama dan buku bacaan Untuk siswa siswi pasraman Di Dahli Agrahita Kec. Pujon Kab Malang agama oleh Lembaga Punia Tri Murti yang berasal dari para seluruh donatur yang peduli dengan umat, di kesempatan ini pula selain meyerahkan 
 

bantuan buku kami Lembaga Punia Tri Murti disetiap penyaluran bantaun pasti kami salurkan juga punia

PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Psikologi dan Pendidikan.
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui

Samkhya Yoga

Samkhya Yoga adalah bab kedua dalam kitab Bhagawadgita. Bab ini terdiri dari 72 sloka. Menurut kamus Weda, kata Samkhya berarti sesuatu yang menguraikan hal-hal secara panjang lebar dan terperinci, dan filsafat Samkhya merujuk pada filsafat yang menguraikan sifat sejati mengenai roh. Samkhya Yoga berisi percakapan antara Arjuna dan Kresna mengenai kematian dan kehidupan. Dalam bab ini, Kresna menjelaskan tentang sifat-sifat roh menurut filsafat Samkhya kepada Arjuna. Bab ini juga menjelaskan fenomena perjalanan setelah mati dan kesedihan yang tak perlu karena kematian kerabat.
  
Latar belakang
Dalam kitab Mahabharata yang keenam (Bhismaparwa) diceritakan bahwa ketika Arjuna melihat suasana medan perang di Kurukshetra, ia dilanda perasaan takut kehilangan sanak keluarga yang dicintainya. Ia menganggap bahwa membunuh keluarga sendiri demi mendapatkan kepuasan duniawi merupakan perbuatan yang termasuk dosa. Ia juga enggan untuk berperang melawan kakeknya demi memperebutkan sebuah kerajaan. Kresna menganggap bahwa pikiran Arjuna belum terbuka. Untuk membuka pemahaman Arjuna mengenai kematian dan kehidupan, Kresna menjabarkan ajaran Samkhya kepada Arjuna.

MENANGAPI KELUHAN UMAT

Om swastyastu.
Om Awignam Astu Namo Siddham
Bebearapa waktu yang lalu kami mendengar keluhan umat di daerah jarak jombang yang ingin mengadakan upacara Melapas (PENSUCIAN PURA) PURA GUNA DHARMA desa njarak kec wonosalam kab jombang. untuk menidhaklanjuti hal itu maka pada tanggal 28 september 2013 kami langsung datang kelokasi tesebut. data yang kami dapat disana hanya terdapat 9kk Umat Walau dulunya lebih dari itu tp sekarang yang masih kokoh tercatat 9KK dengan jumlah umat begitu sedikit dan ingin melakukan upacara
yang tersebut sanggatlah berat maka dari itu kami Lembaga Punia Tri Murti mengharap bantuan dari saudara

MENABUR CINTA MEMBAUR BANGSA (Sebuah Pemikiran tentang Pembauran Bangsa dengan Semangat Pancasila)*

Pendahuluan
Indonesia adalah sebuah Negara dengan masyarakat majemuk. Kemajemukan ini ditandai oleh adanya suku-suku bangsa yang masing-masing mempunyai cara-cara hidup atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat suku bangsanya sendiri-sendiri sehingga mencerminkan adanya perbedaan dan pemisahan antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa lainnya, tetapi secara bersama-sama hidup dalam satu wadah masyarakat Indonesia dan berada di bawah naungan sistem nasional dengan kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Suparlan,1989:4).

TANGGA NADA BERASAL DARI WEDA


Memperkenalkan... Kitab musik/lagu dalam peradaban Weda adalah Chanda dan Sama Weda. Penganut Weda yang paham struktur Weda biasanya menggunakan istilah "Pustaka Suci Weda", bukan "Kitab Suci Weda", sebab Weda terdiri dari banyak kitab. Salah satu kitab Weda yang khusus memuat tentang lagu dan musik adalah kitab Chanda dan yang paling utama ada dalam Sama Weda.

PROGRAM PEMBERDAYAN UMAT DI ARGOSARI LUMAJANG



Om swastyastu..
Puja astungkara kami haturkan kepada Ida sang hyang widhi wasa yang telah meberikan kesempatan bagi kami untuk berbuat dharma, untuk membantu sesama ... dan tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Donatur yg telah memberikan dukungan dan partisipastinya, untuk mendukung semua program" kami.

segera terbit buku pertama LPTM



Dainika Mantra adalah  salah  satu  dari unsur  kepercayaan/keyakinan  atau  Sraddha dalam  agama  Hindu.  Karena  itu  Dainika Mantra mempunyai  kegunaan  yang  sangat  penting dan  bermanfaat  bagi  kehidupan  umat Hindu,  terutama  dalam  pembinaan  moral dan mental spiritual.

PENYERAHAN BUKU DI BANYUWANGI



Om Swastyastu
Penyerahan Bantuan Buku-buku Bacaan Agama Hindu kepada Pasraman Purwa Widya Samsara, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada tanggal 21 Juli 2013. Bantuan diserahkan secara langsung oleh Ketua Lembaga Punia Tri Murti Malang, Miswanto, M.Pd.H. kepada Ketua Pasraman Purwa Widya Samsara, Dedi Yoga Rinata, S.Pd.H. Merupakan usaha nyata Lembaga Punia Tri murti   dalam program LPTM
Peduli Pendidikan Semoga bisa memberikan pencerahan untuk para sisya pasraman di sana

kami sampaikan terimkasih kepada semua pihak yang telah mendukung ka


mi untuk kami berbuat yang terbaik untuk umat..

"KEPEDULIAN KITA MASA DEPAN BERSAMA"


Kegiatan siswa membuat upakara

Dalam setiap upacara" keagaaman HINDU tak pernah lapas dari Upakara (sarana banten,sejaji) baik secara nista,madya maupun utama . untuk membuat suatu upakara tenttunya di perlukan seorang guru pembimbing (sarati) upaka yang memahami tentang upakara itu sendiri.. dalam

MASIH BANYAK UMAT KITA YANG PERLU KEPEDULIAN KITA


 Om Swastyastu ..
Kami @lembaga punia tri murti menadapat info tentang umat kita yang berada di Kecamatan gedangan yang kodisinya sanggat meprihatikan .. mendengar hal itu kami segera menindaklajunti apa yang sdh di informasikan setelah kami datang kelokasi tepatnya di rumah bapak made sudarsono.. rasa hati ini mau menangis melihat kenyataannya, melihat kondisi beliau yang seperti itu tp pengabdian beliau sebagai seorang pemangku sangat luar biasa. keluarga Made sudarsono (asli bali Negara) terdiri dari 5 anggota keluarga yaitu bapak made dan istrinya serta ketiga anak beliau .. pendikan anak beliau yang paling besar kelas 1 SMA,

PROGRAM PEMBERDAYAAN UMAT


Om swastyastu..
Puja astungkara kami haturkan kepada Ida sang hyang widhi wasa yang telah meberikan kesempatan bagi kami untuk berbuat dharma, untuk membantu sesama ... dan tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Donatur yg telah memberikan dukungan dan partisipastinya, untuk mendukung semua program" kami... kami sadar apa yang kami lakukan masih jauh dari sempurna dan tanpa dukungan serta partisipasi

PEYERAHAN BANTU BESASIWA UNTUK SISWA TIDAK MAMPU


Om Swastyastu.
Atas asung kertawara nugraha Ida Sang Hyang Widdhi Wasa akhirnya pada hari Selasa, 11 Juni 2013 kemarin Lembaga Punia Tri Murti Malang akhirnya dapat menyalurkan bantuan bea siswa pendidikan untuk 10 siswa Hindu yang kurang mampu di wilayah Desa Wirotaman dan Desa Sidorengga Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Semoga bantuan yang tidak seberapa ini bisa dimanfaatkan oleh para generasi kita yang kurang beruntung ini sehingga mereka tetap semangat untuk meraih cita-citanya dan

PENYERHAN BANTUAN LOGISTIK UNTUK KORBAN BERNCANA BANJIR

Om swastyastu
astungkara penyerahan bantuan kepada korban banjir di Umbulrejo kec. gedangan kab malanng sdh berjalan SESUAI rencana serta lancar dan sukses .. bantuan di terima oleh pihak sekretaris PHDI kec. Gedangan .. sebagai wakil dari umat yang terkena musibah banjir .. dan selanjutnya oleh Phdi di bagi ke umat'' yang terkena musibah tersebut. ... tak lupa kami ucapkan terimaksih kepada seluruh para donatur yang sudah secara tulis iklas mengbantu terlaksananya kegitan tersebut.. kami masih menungu trs

Maksud dari Hari Raya Karo Umat Hindu Tengger

Hari Raya " KARO " Umat Hindu Tengger (Hindu Siwa Budha)
Memperingati Pawedalan Jagad (Terciptanya alam semesta) yaitu unsur penyebab Kehidupan Purusa dan Prakerti.


Hari Raya KARO merupakan upacara keagaam Agama Hindu dan bukan merupakan upacara Adat Istiadat, hal ini sudah terbukti dengan adanya prasasti Walandit yang menyebutkan bahwa pada waktu sebelum dan sesudah kerajaan majapahit Gunung Bromo merupakan dan sudah mejadi tempat fokus pemujaan Kepada Shang Swayambu (Dewa Brahma) serta merupakan Tanah Hila-Hila (Tanah Suci) yang di huni oleh Ulun Hyang (Resi / Abdi Dewata) yang sebelumnya bernama " Rata Cemara Sewu "

Penjabaran berikutnya tentang karo adalah sebagai berikut :

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Apakah Bali akan tetap Hindu?
Mengapa Bali tetap Hindu?
 
Setelah keruntuhan Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen. Bali, menurut mendiang Clifford Geertz, sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali? Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya "A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm" memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.

AGAMA MAJAPAHIT




Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunanbangunan suci im dikenal dengan nama candi, pemandian suci (patirthan) dan gua-gua pertapaan. Selain itu terdapat pula sisa-sisa bangunan lain, misalnya pintu gerbang yang kadangkala disebut candi pula. 

Bangunan-bangunan suci masa Majapahit ini kebanyakan bersifat agama Siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago. Candi Bhayalangu, Candi Sanggrahan dan Candi Jabung, Sifat keagamaan itu kita ketahui antara lain dan ciri-ciri arsitektural, arca-arca yang ditinggalkan, relief candi, dan dukungan bukti data tekstual, misalnya Kakawin Nagarakrtagama, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin Sutasoma dan sedikit berita prasasti.

HINDU

Agama Hindu adalah agama yang dianggap tertua di dunia yang berawal dari Wahyu Tuhan yang diberikan pada para Rsi di India jaman dahulu. Sesuai dengan perkembangannya, hingga kini agama Hindu menjadi sebuah agama keselarasan yang memiliki kedamaian universal serta memandang setiap individu atau manusia sebagai satu keluarga besar, dan menghubungkannya dengan filsafat perennial yang mengartikan alam semesta, individu, dan Tuhan. Kitab utama umat Hindu adalah Weda yang merupakan ungkapan prinsip-prinsip universal yang dianggap tertua dan berhubungan dengan nilai moral serta spiritual yang global. Hal-hal yang utama dalam pemikiran agama Hindu yang berkontribusi pada pandangan universal, sebagai berikut:

CANANG SARI

”Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara kahiwangan-kahiwangan”.
Canang sari yaitu inti dari pikiran dan niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian  (lontar Mpu Lutuk Alit).
Canang sari adalah suatu Upakara/banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala Upakara  yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu Upakara/bebanten.
Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari? Canang sari sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan. Yaitu:

Permohonan Bantuan Dana


YAYASAN PENDIDKAN DAN SOSIAL TRI MURTI
    PASRAMAN TRI MURTI MALANG
          Sekretariat : Jl.Garuda 81 Karangpandan, Kec.Pakisaji, Kab. Malang 65162
       Kotak Pos 04 KBA - Malang 65161. Telp. 0341-802415


No       : 04 /PTM//V/2013                                                                            Malang, 1 Mei 2013
Lamp   : -
Hal                  : Permohonan Bantuan Dana Untuk umat sedharma yg berminat berpunia untuk silahkan        confirmasi ke admin hub 03419477002.

Kepada
Yth.     Bapak/Ibu, Saudara'i Umat sedharma
            Di  manapun berada

SEJARAH TAHUN SAKA

Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).

DAKSINA


Om Swatyastu..
 
Daksina disebut Juga "YadnyaPatni" yang artinya istri atau sakti daipada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru/ Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.

Proses Reinkarnasi Dalam Agama Hindu

Dengan umur bumi sudah menjadi tua dan populasi manusia makin lama makin banyak, lahan kehidupan manusia tidak berubah, bagaimana manusia dapat hidup dengan lahan terbatas.
Kalau dilihat negara kita adalah negara agraris, untuk menghidupi penduduk Indonesia yang jumlahnya sudah melebihi 200 juta orang maka diperlukan dalam penyusunan GBHN yang akan datang harus berorientasi ke bidang pertanian. Berdasarkan pengalaman2 bangsa kita dalam menanggulangi krisis pangan dewasa ini, dimana bangsa kita sudah termasuk negara miskin karena income percapita Indonesia akibat terjadi Krisis Moneter (Krismon) kurang dari US $ 500, sehingga Indonesia sudah termasuk kelompok negara miskin pada hal sebelum Krismon Income per capita kita sudah melebihi US $1000.

SEJARAH AGAMA HINDU

PENGANTAR
 
Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Dalam uraian ini akan dijelaskan kapan dan dimana agama itu diwahyukan dan uraian singkat tentang proses perkembangannya. Agama Hindu adalah agama yang telah melahirkan kebudayaan yang sangat kompleks dibidang astronomi, ilmu pertanian, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan pemaparan dari agama Hindu, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami.

PANCA YAMA BRATA

PENGERTIAN
 
Panca Yama Brata terdiri dari kata Panca artinya lima, Yama artinya pengendalian, Brata artinya taat terhadap sumpah.
Panca Yama Brata artinya lima macam disiplin manusia dalam mengendalikan keinginan

B.  BAGIAN – BAGIAN PANCA YAMA BRATA
1.  Ahimsa
2.  Brahmacari
3.  Satya
4.  Awyawaharika
5.  Asteya atau Astenya

PANCA NYAMA BRATA

A.  PENGERTIAN PANCA NYAMA BRATA
Pengertian Panca Nyama Brata mempunyai arti lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental, untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin. Panca Nyama Brata adalah untuk mengendalikan semua akibat – akibat buruk yang ditimbulkan oleh mental dan pikiran.

PANCA SRADHA

  1. PENGERTIAN PANCA SRADHA
Agama Hindu disebut pula dengan Hindu Dharma, Vaidika Dharma ( Pengetahuan Kebenaran) atau Sanatana Dharma ( Kebenaran Abadi ). Untuk pertama kalinya Agama Hindu berkembang di sekitar Lembah Sungai Sindhu di India. Agama Hindu adalah agama yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa, yang diturunkan ke dunia melalui Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta kepada para Maha Resi untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia di dunia.
Ada tiga kerangka dasar yang membentuk ajaran agama Hindu, ketiga kerangka tersebut sering juga disebut tiga aspek agama Hindu. Ketiga kerangka dasar itu antara lain :

Serat Wedhatama

SERAT WEDHATAMA
Serat Wedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Mangkunegara IV Wedhatama (berasal dalam bahasa  Jawa; Wredhatama) yang berarti serat (tulisan/karya) wedha (Ajaran) tama (keutamaan/utama) Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya.

PENDIDIKAN SEKS DALAM TEMBANG DOLANAN



Jawa sebagai pulau dengan warisan budaya yang adi luhung ternyata menyimpan berbagai misteri kehidupan yang hingga kini masih banyak yang belum tersingkap secara pasti. Walaupun sudah banyak kajian tentang budaya Jawa namun tidak sedikit dari kajian-kajian itu yang bersifat masih samar-samar dan kadang kala juga terkesan mengada-ada.

TUMPEK LANDEP TIRTHA PASUPATI & USAHA MENAJAMKAN PIKIRAN

Oṁ Swastyastu


srayan dravyamayad yajnaj
jnanayajnah paramtapa
sarvam karma ‘khilam partha
jnane perimsamapyate” (Bhagavadgītā IV.33)

MENGUPAS KEMBALI MAKNA RANGKAIAN MACAPAT JAWA



Pada MH Edisi 69 bulan Nopember yang lalu telah dimuat tulisan dari Saudara Purwadi yang berjudul ˝Potret Perjalanan Hidup Manusia dalam Macapat Jawa˝. Pada tulisan itu, Purwadi menyebutkan fase-fase kehidupan manusia Jawa dikiaskan dalam rangkaian tembang Macapat Jawa yang diawali dari Mijil hingga Pucung.

Mengapa Kau Jual Jawaku, Jiwaku, Juwitaku?



Pulau Jawa merupakan Pulau yang terbentang antara 5°  Lintang Utara – 10° Lintang Selatan dan 105° – 115° Bujur Timur. Secara geografis pulau ini memanjang dari Timur ke Barat di kepulauan Nusantara yang berada di antara Selat Bali dan Selat Sunda serta Laut Jawa dan Samudra Hindia. Sejak dahulu kala, Pulau Jawa telah menjadi pusat peradaban dan mempunyai penduduk terbesar. Hal ini sebagai akibat dari keadaan Pulau Jawa kala itu yang merupakan pulau yang subur, aman, nyaman, tenteram, beradab dan lain-lain sebagaimana gambaran dalam janturan pedalangan yang menyebutkan "panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi kerta tur raharja".

Belajar dari Kisah Sastra Jendra



Adalah “Sastra Jendra”, sebuah ilmu kebatinan Jawa yang menjadi fenomena sejak berabad-abad yang lampau. Betapa tidak, ilmu yang konon disebut sebagai raja dari segala raja ilmu itu mempunyai cerita yang unik dan menarik untuk diperbincangkan atau pun dipermenungkan. Cerita itu adalah mengenai hubungan antara Bagawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dalam pewayangan Jawa, kisah ini sering merupakan salah satu bagian dari “lakon” di dalamnya.

Otak Etik Jawa dalam Cerita Aji Saka



Sejarah Jawa tentu tidak akan mengabaikan cerita Aji Saka yang banyak disebutkan dalam kesusastraan Jawa. Cerita ini memang masih menjadi misteri antara ada dan tiada mengingat nama Aji Saka tidak ada dalam silsilah raja-raja tanah Jawa. Namun demikian cerita Aji Saka ini dianggap sebagai landasan mitologis-historis dari keberadaan aksara Jawa.

MENCARI GURU SEJATI



Guru merupakan sebutan yang sangat mulia. Dewa Siwa yang juga Maha Dewa pun disebut sebagai Bhatara Guru. Sang Hyang Widdhi Wasa dalam ajaran Hindu juga disebut sebagai Guru Swadyaya. Pendek kata, kemuliaan sebutan guru ini sungguh tak bisa terungkapkan oleh kata-kata saja. 

Namun demikian, kemuliaan sebutan sang guru tadi kadang-kadang tidak bisa dijaga dengan baik oleh orang-orang yang menyandang gelar “sang guru” tersebut, tidak peduli apakah mereka “guru kecil” atau “guru besar”. Tidak sedikit kasus-kasus yang mencoreng nama baik guru, seperti : pemerkosaan oleh guru terhadap muridnya, segala bentuk kecurangan yang dilakukan oknum guru, ajaran guru menyesatkan murid-muridnya, dan masih banyak lagi lainnya. Masih pantaskah mereka menyandang gelar “sang guru sejati”? Ah, kayaknya hati ini tidak bisa untuk mengatakan “ya”. Lalu seperti apakah sang guru sejati tersebut?

Tata Cara Sembahyangan

Definisi Sembahyang

Salah satu hakekat inti ajaran agama adalah sembahyang. Menurut kitab Atharwa Weda XI. 1.1, unsur iman atau Sraddha dalam Agama Hindu meliputi: (1) Satya, (2) Rta, (3) Tapa, (4) Diksa, (5) Brahma dan (6) Yajna. Dari keenam unsur iman di dalam Agama Hindu menurut kitab Atharwa Weda itu, dua ajaran terakhir termasuk ajaran sembahyang (Bajrayasa, Arisufhana & Goda 1981:12).

Makna Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

WAYANG DI MATA SEORANG PENONTON


Bagi masyarakat Indonesia kesenian wayang bukanlah hal yang baru. Wayang adalah sekian dari jenis seni yang mendapatkan tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Kecintaannya akan wayang menjadikan hasil budaya yang satu ini seolah-olah menjadi bagian dari peri-kehidupan bangsa yang tidak akan diketemukan di negara-negara lain. Di sebagian wilayah Indonesia seperti Jawa dan Bali, wayang merupakan seni yang sudah menjadi tontonan masyarakat sejak jaman purba.

GURU DALAM DIALEKTIKA PENDIDIKAN



Sebutan guru adalah sebutan yang maha tinggi niliainya. Siva sebagai penguasa alam semesta disebut sebagai Bhatara Guru. Dalam pewayangan Bhatara Guru adalah dewanya para dewa (Mahadewa). Singkatnya , lidah yang pendek ini tidak cukup untuk melukiskan keagungan dan kemuliaan dari “guru”. Tapi, benarkah di masa kini, seorang yang mendapat sebutan guru itu juga mendapatan kemuliaan sebagaimana yang diceritakan dalam Itihasa atau pun Purana?

EPISTEMOLOGI JAWA



SEBUAH REKONSTRUKSI MAKNA
Jawa adalah salah satu pulau yang pernah menjadi pusat kebudayaan dunia di masa silam. Sebagai sebuah pusat kebudayaan, Jawa memberikan banyak kesempatan dalam pelbagai kegiatan olah pikir dan asah budi. Tidak sedikit pemikir-pemikir Jawa bermunculan waktu itu. Berbagai konsep dan hasil perenungan Jawa sudah banyak ditelorkan. Produk pemikiran ini juga tersebar ke mana-mana.

ESENSI “ PECANANGAN” BAGI KEHIDUPAN SEBUAH KAJIAN JAWA KUNO



Biasanya kita sering melihat para sulinggih, pemangku, ataupun  orang-orang tua di Bali mempunyai kebiasaan “nginang” atau dlam bahasa halusnya disebut “mecanangan” (biasanya untuk kalangan sulinggih), suatu kegiatan makan base/sirih yang sudah dicampur dengan buah/buah pinang, kapur dan gambir. Pecanangan (bahan-bahan untuk mecanangan) itu sering menjadi “rayunan” utama untuk seorang sulinggih.

KERIS, WARISAN BUDAYA PENUH MAKNA



Keris bagi kita sebagai masyarakat Indonesia bukanlah barang baru atau yang asing lagi. Akan tetapi merupakan benda yang  sudah menjadi warisan budaya nenek moyang kita yang telah mengakar dalam sendi-sendi kehidupan budaya masyarakat kita, lebih-lebih bagi masyarakat Jawa khususnya yang sangat kental dengan warisan leluhur tersebut.

HINDU DAN TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM KONTEKS KEKINIAN

Istilah teologi pembebasan (liberation teology) mulai menemukan momentum sejak Gustavo Guitierrez mempelopori gerakan pembebasan bagi kaum tertindas di Amerika Latin menjelang akhir abad ke-20.  Ketika itu Guiterrez merumuskannya dalam bentuk pembebasan belenggu sosial, ekonomi, politik, dehumanisasi dan pembebasan dari segala dosa sebagai akibat hegemoni kekuasan (pemerintah dan gereja).

KEHARMONISAN MENURUT KONSEP HINDU

I. PENGERTIAN KEHARMONISAN
 
Umat Hindu Indonesia sangat kreatif dalam memformolasikan ajaran-ajaran agama Hindu sehingga membumi dan membudaya sesuai dengan karakter mistik dan pandangan hidup masyarakat Indonesia.  Banyak istilah atau formula yangdiberikan untuk suatu rangkaian ajaran agama Hindu yang apabila ditelusuri dalam kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya tidak lita jumpai istilah-istilahnya. Banyak contohnya, antara lain: Catur Purusarta (empat tujuan hidup), Trikaya Parisudha, (tiga prilaku baik), Catur Paramita (empat tindakan mulia), dan Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan, keharmonisan, atau keserasian).

KUMPULAN MANTRA


Mantra Asuci Laksana

  1. Mensucikan tamngan kanan di atas tangan kiri
“ Om Sudhamam swaha “

Terjemahan :
( Oh Hyang widhi semoga hamba bersih )

CATUR MARGA EMPAT JALAN MENUJU TUHAN

I PENDAHULUAN

Berdasarkan dasar ajaran agama Hindu Panca Sradha, kita mengenal ajaran Moksa yangmempunyai makna kembalinya roh individu kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dalam usahaperjalanan manusia menuju kepada Tuhan, ada empat jalan yang harus ditempuh yaitu CaturMarga. Catur artinya empat dan Marga artinya jalan. Jadi Catur Marga artinya: empat jalan yangharus ditempuh dalam usaha manusia menuju kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Empat jalantersebut adalah Karma Marga, Bhakti Marga, Jnana Marga, dan Raja Marga.

GENDER DALAM PERSPEKTIF HINDU

  1. Latar Belakang
Hidup menjadi manusia adalah yang utama, semua keadaan yang ada di dunia ini ada berdasarkan karma. Laki-laki dan perempuan merupakan dua kelompok besar yang selalu ada dalam kurun waktu yang relatif sama dan tempat yang sama pula, dari jaman dahulu hingga sekarang perempuan selalu menjadi sasaran empuk dalam pembicaraan dan pelaksanaan kehidupan sehari-hari, sebagai pelampiasan kaum laki-laki yang lebih memiliki kekuatan dibandingkan otaknya dalam memperlakukan kaum perempuan.

INFO DATA PURA DI JATIM


1. Bangkalan
2. Banyuwangi
3. Batu
4. Blitar
5. Bojonegoro
6. Bondowoso
7. Gresik
8. Jember
9. Jombang
10. Kediri

Kerangka Dasar Ajaran Agama Hindu

Ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan “Tiga Kerangka Dasar”, di mana bagian yang satu dengan lainnya saling isi mengisi dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa.
Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah:

Pengasingan Diri Secara Spiritual

urddhvabahurviraumyesa na ca kacciçchrnoti me, dharmadarthaçca kamaçca sa kimartham na sevyate (Sarasamuccaya.11); nihan mata kami mangke, manawai, manguwuh, mapitutur, ling mami, ikang artha, kama, malamaken dharma juga ngulaha, haywa palangpang lawan dharma mangkana ling mami, ndatan juga angrêngö ri haturnyan ewêh sang makolah dharmasadhana, apan kunang hetunya; itulah sebabnya hamba, melambai-lambai, berseru-seru mengingatkan, “dalam mencari artha dan kama itu hendaklah senantiasa dilandasi dharma,” demikianlah kata hamba. Namun demikian, tidak ada yang memperhatikannya dengan alasan bahwa sangat sukar berbuat atau bertindak berlandaskan dharma. Apa gerangan sebabnya?

Dengan Pengalaman Kita Berkembang

Dalam ilmu spiritual Jawa ada disebutkan Waton Bab Bener Lupute Wong Urip (Patokan Tentang Benar Salahnya Orang Hidup):
Bener lupute wong urip (Benar salahnya orang hidup): Benering wong urip, eling marang Uripe. Lupute wong urip, lali marang Uripe. (Benarnya orang hidup, ingat kepada Hidupnya. Salahnya orang hidup, lupa kepada Hidupnya.)

Kesadaran Tertinggi Datang Secara Perlahan

Dalam tuntunan spiritual Jawa disebutkan: Witing bilai amarga tuna pangerten (mendapat celaka karena kurangnya pengetahuan). Witing kalantur amarga tanpa pitutur (kesalahan yang berkelanjutan karena tidak adanya tuntunan). Witing katula amarga sepi grahita (jiwa terlunta-lunta karena tidak pernah merenung). Ananing siksa saka ing dosa (adanya siksa karena dosa). Wangening siksa sapundhating

Mengenali Brahman dengan Atman

Di dalam buku Kridha Grahita (anonim), sebuah tulisan spiritual Jawa, disebutkan: Katentreman utawa kajaten ya alame manungsa sejati. Temening anane alam iku tetep langgeng, nyataning alam iku tumrap kang ngalami. Iku alam maha suci, wajibe alam suci mung nampani jiwa kang wus tentrem lan suci. Sapa tentrem utawa suci, ditampa; yen ora, ditulak; ora preduli dumeh angel lakon-lakonane, ora preduli dupeh netepi pranatan donya. Alam suci mung wajib nampani jiwa kang suci.

TUJUAN MELAKUKAN YADNYA



Semua perbuatan tentu memiliki tujuan, tanpa tujuan, ibarat prahu tanpa kendali sehingga terombang-ambing tidak menentu. Begitu pula kita beryajnya tentu kita memiliki tujuan yang pasti, yakni menuju hidup bahagia dan kelepasan.