Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

MENABUR CINTA MEMBAUR BANGSA (Sebuah Pemikiran tentang Pembauran Bangsa dengan Semangat Pancasila)*

Pendahuluan
Indonesia adalah sebuah Negara dengan masyarakat majemuk. Kemajemukan ini ditandai oleh adanya suku-suku bangsa yang masing-masing mempunyai cara-cara hidup atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat suku bangsanya sendiri-sendiri sehingga mencerminkan adanya perbedaan dan pemisahan antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa lainnya, tetapi secara bersama-sama hidup dalam satu wadah masyarakat Indonesia dan berada di bawah naungan sistem nasional dengan kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Suparlan,1989:4).


Dalam menjalankan kehidupan bersama, berbagai etnik yang berbeda latar belakang kebudayaan tersebut akan terlibat dalam suatu hubungan timbal balik yang disebut interaksi sosial yang pada gilirannya akan berkembang kepada interalasi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat mutlak bagi terjadinya aktifitas sosial. Dalam aktifitas sosial akan terjadi hubungan sosial timbal balik (social interrelationship) yang dinamik antara orang dengan orang, orang dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. 

Soekanto (1990:66), menyatakan perubahan dan perkembangan masyarakat yang mewujudkan segi dinamiknya, disebabkan karena warganya mengalami hubungan satu dengan lainnya, baik dalam bentuk perseorangan maupun kelompok sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terjadi proses sosial yaitu cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut.

Dalam hubungan sosial berbagai komunitas yang berbeda latar belakang kebudayaan tersebut, akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu baik yang bersifat positif maupun negatif. Interaksi sosial yang positif akan timbul manakala pertemuan berbagai etnik dalam masyarakat majemuk tersebut mampu menciptakan suasana hubungan sosial yang harmonis. Interaksi sosial yang bersifat negatif muncul manakala dalam melakukan hubungan sosial yang tidak harmonis karena adanya perbedaan sikap dalam kehidupan bersama.
Di negara Indonesia yang masyarakatnya penuh dengan kemajemukan (plural) ini juga memungkinkan terjadinya interaksi sosial yang bersifat positif maupun negatif. Interaksi yang positif ini dapat dilihat dari adanya kerja sama yang baik antar umat beragma dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa interaksi itu juga telah menumbuhkan bibit-bibit konflik horizontal yang mengarah pada isu-isu SARA (Suku Adat Ras dan Antar Golongan). Konflik-konflik horizontal tersebut timbul tenggelam dalam gelombang kehidupan demokrasi di Indonesia. Lebih-lebih jika konflik tersebut ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Sebut saja beberapa kasus yang terjadi di berbagai daerah di tanah air beberapa tahun belakangan telah mewarnai konflik-konflik SARA di Indonesia seperti kasus kekerasan di Lampung, kasus Ahmadiyah di Jawa Barat, kasus di Sampang Madura, kasus di Poso, kasus kekerasan di Lombok, perang antar suku di Papua dan masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan yang bermuatan SARA dan ditunggangi kepentingan politis tertentu. Oleh karena itu, perlu ada sebuah kebersamaan yang dibangun atas dasar “CINTA” dengan cara “MEMBAUR” bangsa.

Pembauran Bangsa
Pembauran sebagaimana disebutkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain mempunyai arti yang sama dengan percampuran dan pencampuran yang dilakukan dengan meniadakan sifat-sifat ekslusif kelompok etnik di dalam masyarakat dalam usaha mencapai kesatuan bangsa (Tim Penyusun,2005:115). Dengan demikian dinding-dinding pemisah seharusnya semakin diminimalisasi, meskipun itu tidak berarti bahwa hak-hak individu ataupun kelompok masyarakat ditiadakan. Artinya, bahwa perbedaan Suku Agama Ras dan Antar-golongan dalam masyarakat tidak menjadi pemicu perpecahan atau disintegrasi, apalagi hal tersebut telah disepakati dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kita juga harus mampu mengatakan dan memanifestasikan kehidupan bahwa memang kita berbeda.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, terminologi tentang pembauran sering dikaitkan dengan kata asimilasi dan integrasi. Kata pembauran dalam hal ini mempunyai konteks yang lebih luas daripada assimilasi, karena membaur tidak mengandung konotasi “menghilangkan ciri-ciri etnis”. Membaur bisa berarti mengasosiasi dirinya dengan masyarakat luas dan “mengawinkan” dirinya dengan masyarakat luas.
Yang penting dalam menginterpretasi definisi ini adalah adanya pengertian bahwa pertama, berlangsungnya proses membaur itu harus bersifat wajar, natural-tanpa paksaan. Yang kedua, dan yang tidak kalah pentingnya, definisi membaur itu tidak mutlak berarti pembauran biologis. “Perkawinan” yang dianjurkan adalah “perkawinan” sosial, perkawinan antara golongan minoritas dengan golongan mayoritas untuk membangun “Rumah Tangga Indonesia” yang harmonis. Perkawinan yang harmonis tidak bisa didasarkan atas hilangnya identitas dari salah satu partner perkawinan. Jika para mempelai sebelum melangsungkan perkawinan secara biologis diawali dengan rasa CINTA maka dalam perkawinan sosiologis pun, masyarakat harus mampu menabur dan menebar CINTA antar sesama.

Menabur Cinta Menebar IRAMA
Dasar pembauran bangsa tersebut setidaknya akan terwujud jika sudah ada rasa “cinta” di dalamya. Jika cinta tersebut adalah untuk sang pacar, maka dalam pembauran bangsa pun perlu ada strategi PACAR untuk mampu mengaplikasikan cinta antar sesama. P-A-C-A-R yang dimaksud adalah: Perkenalan-Akrab-Cocog/Cinta-Akad-Rukun (Miswanto,2013:41). Dengan strategi P-A-C-A-R ini, maka akan terjalin suatu hubungan yang harmonis dilandasi oleh toleransi dan saling menghargai satu sama lain.

Jika pembauran bangsa model P-A-C-A-R ini bisa terwujud maka nantinya seluruh jalinan kasih dawai cinta antar sesama itu akan mampu menghasilkan IRAMA yang merdu dan membuat semua orang menjadi bahagia. IRAMA yang dimaksud adalah “Indahnya RAsa kebersaMAan” dalam berbagai macam perbedaan, apapun itu namanya. 

Hal inilah yang mestinya selalu dipegang teguh oleh bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam tulisan “Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua)” dalam Burung Garuda yang menjadi Lambang Negara, itulah dasar negara kita, Pancasila. Dengan jiwa dan semangat Pancasila yang benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan nyata ini maka seharusnya bangsa Indonesia terbebas dari berbagai macam konflik dan kasus kekerasan yang mengatasnamakan SARA.

Penutup
Bangsa dan Negara Indonesia sudah ada sebelum kita ada. Oleh karenanya mari kita bersama-sama menjaganya agar tetap ada sampai kita tiada. Maka dari itulah, kita perlu membangun semangat Pancasila dengan menabur benih-benih Cinta melalui “P-A-C-A-R (Perkenalan-Akrab-Cocog-Akad-Rukun)” untuk membaur sebuah bangsa yang senantiasa hidup dengan IRAMA (Indahnya RAsa KebersaMAan). 

Sebagai penutup, berikut ini ada sebuah renungan dalam bentuk Tembang Jawa (Maskumambang) yang disusun dari rangkaian kata “PAN-CA-SI-LA”:
PAN uninga jêjêr jêjêging nagari | CArita ing kuna | SIji kang dadi wigati | LAnggêng yen wus bisa nunggal.
Terjemahan:
Ketahuilah bahwa asal tegaknya sebuah negara sebagaimana diceritakan dalam sejarah. Satu hal yang terpenting dan mendasar. (Negara) Akan berjaya dan kuat selamanya jika bisa BERSATU.

Daftar Bacaan:
Miswanto, 2013. “Bersama CINTA untuk Satu Indonesia”. Media Hindu Edisi 110 April 2013. hal. 40-41.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembauran Kebangsaan.
Soekanto,Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, Edisi Baru. Jakarta:Rajawali Press
Suparlan, Parsudi. 1989. Interaksi Antar Etnik di Beberapa Propinsi di Indonesia. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan Depdikbud.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.

by: Miswanto, S.Ag. M.Pd.H.**