Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

TANGGA NADA BERASAL DARI WEDA


Memperkenalkan... Kitab musik/lagu dalam peradaban Weda adalah Chanda dan Sama Weda. Penganut Weda yang paham struktur Weda biasanya menggunakan istilah "Pustaka Suci Weda", bukan "Kitab Suci Weda", sebab Weda terdiri dari banyak kitab. Salah satu kitab Weda yang khusus memuat tentang lagu dan musik adalah kitab Chanda dan yang paling utama ada dalam Sama Weda.


#‎Kutip Banyak hal yang kita nikmati setiap hari dapat ditelusuri kembali ke peradaban Veda. Sebagai contoh, musik bersumber dari Sama-veda. Sama-veda meletakkan dasar-dasar aturan musik karena banyak ayat-ayat Veda ini dinyanyikan oleh para pendeta saat dilakukan ritual-ritual pemujaan api. Banyak personalitas ilahi dalam Veda yang memegang alat musik, seperti Lord Krishna dengan seruling-Nya, Dewi Saraswati dengan rebab-nya, begitu juga dengan pertapa lintas kosmis Narada Muni. Dan Shiva sering digambarkan sedang menari mengikuti irama drum, atau sedang menabuh drum-nya.

Weber, seorang penulis Jerman, di dalam bukunya, Indian Literature (hal. 297) menulis, “Tangga-nada Hindu . . Sa, Re, Ga, Ma, Pa, Dha, Nee juga telah dipakai oleh bangsa Persia, dimana kita menemukannya dalam bentuk do, re, ma, fa, so, le, ci. Itu kemudian masuk ke dunia Barat dan diperkenalkan oleh Guido d’Arezzo di Eropa dalam bentuk do, re, mi, fa, sol la, ti . . . bahkan ‘gamma’-nya Guido (French gramma, English gamut) dapat ditelusur balik ke Sanskrit gramma dan Prakrit gamma dan adalah pengakuan langsung bahwa India sebagai asal mula dari tujuh buah not tangga nada Eropa”.

Informasi lebih jauh tentang bagaimana sistem musik India sampai ke Eropa disajikan oleh Ethel Rosenthal dari hasil penelitiannya yang disajikan dalam bukunya The Story of Indian Music and its Instruments dimana ia mengemukakan, “Dalam buku Indian Empire, Sir William Wilson Hunter menegaskan bahwa sistem urutan notasi telah dihasilkan sebelum jamannya Panini dan ketujuh not itu digambarkan dengan huruf-hurufnya. Diturunkan dari para Brahmin notasi ini melalui perantaraan orang-orang Persia sampai di Arabia, dan kemudian diperkenalkan ke dalam musik bangsa Eropa oleh Guido d’Arezzo pada awal abad ke-11 . . . musik Weda setelah suatu periode dimainkan secara meluas, tenggelam dibawah kekuasaan para pengikut Muhammad ke dalam keadaan terpasung . . .”

Terkait Cakra dengan India Cord dan Barat Cord sbb:

7. Sahasrara Chakra = Ni = Tea
6. Ajna Chakra = Dha = La
5. Vishuddha Chakra = Pa = So
4. Anahata Chakra = Ma = Fah
3. Manipura Chakra = Ga = Me
2. Svadhisthana Chakra = Re = Rae
1. Muladhara Chakra = Sa = Doe

#‎Kredit: Bepasih (kaskus)

Kalau boleh jujur, orang Hindu di Indonesia sering bingung melihat salah satu tradisi Weda yaitu sembahyang dengan cara bernyanyi. Seketika mereka berkata, "Kayak orang Kristen aja."

Dalam diri manusia terdapat 7 chakra mayor dan chakra minor yang tak terhitung. Zaman dahulu, pe-kungfu sakti berilmu tinggi, mampu menyalurkan chakra-nya ke dalam alat musik yang dia mainkan sehingga menjadi senjata mematikan. Dalam film Naruto pun, ada ninja perempuan (maaf saya lupa namanya) yang menyalurkan chakra-nya ke serulingnya sehingga alat musiknya menjadi senjata. Seperti imajinasi tingkat tinggi ya?

Kalau dewa Siwa bermain musik genderang-Nya, maka terjadilah maha pralaya atau maha kiamat sementara, yaitu ketiadaan total sementara.

Untuk bermain musik dalam peradaban Weda dengan menggunakan 7 tangga nada dalam satu oktaf, tidak perlu ber-Tuhan atau harus percaya pada Krishna, dewa-dewi dan sebagainya. Sementara orang-orang yang memainkan musik yang dasarnya berasal dari kitab suci Sama Weda, tidak akan disebut sebagai "orang Hindu", sebab Weda selalu menyebut umat manusia sebagai umat manusia, bukan golongan tertentu atau kaum tertentu.

Ajaran utama dalam peradaban Weda adalah bahwa segala sesuatu akan mengalami dinamika atau perubahan, baik berkembang maupun sebaliknya. Begitu pula tangga nada Sa, Re, Ga, Ma, Pa, Dha, Nee menjadi tangga nada modern saat ini. Begitu pula wina (alat musik Weda kuno serupa gitar bentuknya dan caranya memainkannya dengan dipetik senarnya) yang berkembang menjadi gitar modern saat ini.

Oleh karena itu, Stephen Knapp dan Michael Cremo (peneliti peradaban di dunia dari AS) tidak menyebut "apa yang kita sebut sebagai Hindu" dengan kata "Agama Hindu" atau "Hinduisme", tetapi mereka menyebut dengan istilah "Peradaban Weda", sebab Weda tidak mengajak umat manusia menjadi "manusia yang percaya" tetapi menjadi "manusia yang beradab".

Tetapi, biasanya yang menjalankan tradisi kuno (tradisi Weda kuno) disebut sebagai "orang Hindu" sementara yang menjalankan peradaban modern disebut sebagai "orang modern". Tetapi Weda tidak meng-ekslusif-kan antara tradisi kuno dengan gaya modern. Sebab di mana ada ilmu pengetahuan di situlah ada peradaban Weda, sebab Weda sendiri berarti "ilmu pengetahuan", di situlah ada peradaban umat manusia.

Sehingga, kalau teman-teman yang melihat "orang Hindu" yang bersembahyang dengan cara bernyanyi dan main musik, jangan dianggap sebagai "Kayak orang Kristen saja."

Sumber dan keterangan gambar:1. http://indianharmonium.files.wordpress.com/2009/06/keyboard-notes-mapping.gif?w=510 - satu oktaf terdiri dari 7 tangga nada (.2. http://archives.jrn.columbia.edu/2010-2011/coveringreligion.org/wp-content/uploads/2011/05/Israel-1473.jpg - pemusik yang sedang memainkan alat musik Weda klasik, sepertinya di Israel.