Akta Notaris Nomor 10 tahun 1995 dan Nomor 81 Tahun 1999 Terdaftar pada Pengadilan Negeri Nomor 085/PP/YYS/1985 dan Nomor 6/BA/YYS/1999 Jln. Garuda 81 Karangpandan, Pakisaji, Malang 65162 Telp. 0341-802415 / Hp. 0813 3454 9111 / Email: nurjayai@yahoo.com

JANGAN TINGGALKAN AKU "HINDU"

Tidak Mudah Meninggalkan Hindu
 
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi lebih merupakan sebuah pertimbangan jernih untuk tidak mudah mengambil keputusan meninggalkan agama Hindu, karena pertimbangan logika. Memilih agama yang dianggapnya tepat, merupakan hak asasi. Demikian pula bagi umat Hindu, berpindah agama sah-sah saja. Namun ada yang harus dipertimbangkan dengan matang, bagi umat Hindu yang ingin meninggalkan agamanya karena alasan duniawi, bahkan karena perkawinanpun juga perlu berhati-hati. Pastikan bahwa keputusan itu tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, khususnya menjelang ajal dan setelahnya.


Hindu memang bukan agama yang menjanjikan kekayaan, kemashuran yang sifatnya duniawi. Walaupun tidak sedikit umat Hindu, yang karena upaya dan karma wesananya menikmati kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Hindu tidak melarang umatnya kaya raya, mashyur, terkenal dan sekses. Semakin kaya semakin baik. Hanya saja harus diingat, bahwa semakin kaya seseorang semakin banyak kewajiban yang harus dilakukan. Kalau ini dilupakan, akan menjadi boomerang. Bagi Hindu, hidup bukan hanya duniawi,bukan hanya jasmani dan rohani, tetapi juga spiritual. Bahkan kehidupan setelah mati juga harus dipertimbangkan, agar tidak menjadi limbah-limbah spirit yang hanya mengotori alam ini.
Hindu juga tidak banyak berbicara tetang surga, karena menurut ajaran Hindu, surga tidak permanen dan hanya persinggahan sementara. Seburuk buruknya manusia Hindu, kalau sekedar untuk mencapai swargaloka, mungkin bukan sesuatu yang sulit. Manusia Hindu harus berusaha melewati sorga, menuju dimensi yang lebih tinggi, tidak terhenti pada dimensi ini.

Meninggalkan agama Hindu, berarti mengingkari proses terciptanya manusia Hindu. Seringkali dikatakan bahwa seseorang menjadi Hindu sejak dilahirkan. Pemahaman ini perlu diterangkan lebih jelas. Bahwa secara spiritual, seseorang menjadi Hindu sejak terjadi konsespsi (pembuahan) dalam kandungan seorang ibu. Setelah bertemunya kama bang (sel telur) dengan kama petak (sel sperma) dan terjadi pembuahan, maka pada saat itu Iswara mengisi atman. Sejak saat itulah calon bayi sudah tercatat sebagai umat Hindu.
Setelah itu janin akan tumbuh dan berkembang hingga menjadi manusia dewasa. Dan semua pertumbuhan dan perkembangan ini dilandasi dengan pola Hindu bukan yang lain. Seluruh organ fisik maupun intelektualnya berkembang dalam nuansa Hindu. Wadah ini tidak mungkin diisi dengan sesuatu yang tidak sejalan dengan landasan yang membentuknya sejak awal. Sehingga tubuh dan jiwa yang sudah baku oleh kehinduannya, tidak mudah dirubah ataupun diganti dengan ajaran lainnya. Kalau toh dipaksakan maka itu hanya bersifat sementara, membuang waktu dan energy. Akhirnya kesana tidak , kesini juga tidak.
Beberapa kisah nyata berikut ini membuktikan bahwa paparan di atas bukan omong kosong, tetapi bukti autentik yang tak terbantahkan.

TUKANG KUBUR FRUSTASI.
Awat tahun 2008 ini di Bekasi seorang pria Hindu meninggal, namun dimakamkan tidak secara ritual Hindu. Istrinya, yang tadinya non Hindu, tetapi telah mengikuti proses sudhi wadani dan pernikahan secara Hindu berkeras bahwa suaminya bukan umat Hindu. Padahal keluarga yang cukup mapan secara ekonomi dan telah dikaruniai dua putra ini dikenal rajin ke Pura. Entah bagaimana, kok setelah suaminya meninggal, istrinya ngotot suaminya tidak boleh diupacarakan secara Hindu. Walaupun kecewa, namun umat Hindu wilayah Banjar Bekasi menghormati keputusan itu. Hadir dirumah duka, tetapi tidak berbuat apapun. Namun dalam sekejap semua itu berubah, ketika penggali makam mogok, tidak mau menggali. Ternyata telah terjadi kejadian yang aneh, saat penggalian makam. Pengalian pertama baru beberapa jengkal dalamnya, penggalian terhenti karena terdapat batu besar yang tidak memungkinkan penggalian. Ketika digali lokasi lain, penggalian juga terhenti karena ternyata ada jenasah, sehingga penggalian terhenti lagi. Maka tukang galipun keder, dan mogok. Mereka menolak untuk menggali lagi. “seumur hidup baru kali ini saya mengalami seperti ini” katanya dengan wajah pucat, ketakutan. Dan keluarga mendiang juga panic dan bingung.
Mengetahui kondisi ini, pimpinan umat Hindu yang hadir memeberanikan diri untuk meminta ijin kepada istri mendiang, agar diperbolehkan mendoakan mendiang secar Hindu. Tadinya ditolak dengan keras oleh keluarga. Karena tidak ada pilihan, dengan terpaksa diijinkan. Lalu umat Hindu yang hadir berdiri mengelilingi jenasah dan berdoa secara Hindu. Selesai berdoa, tukang gali kemudian dibujuk untuk menggali lagi. Dan ternyata semuanya lancer. Tiada halangan hingga pemakaman selesai. Rupanya mendiang tidak rela diupacarai secara nin Hindu, permasalahan masih berlanjut. Setelah pemakaman, hamper setiap malam, dikamar mandi terdengar suara-suara orang yang sedang mandi. Dan putra bungsu mendiang seringkali melihat almarhum ayahnya dirumah. Akibatnya seluruh anggota keluarga ketakutan dan setiap malam semuanya tidur dalam satu kamar.

MERATAP DI KUBURAN.
Kisah lain yang terlupakan masih di Bekasi, beberapa tahun lalu istri seorang umat Hindu meninggal. Sebelumnya, ia umat non Hindu, tetapi sejak menikah telah mengikuti agama suami dengan upacara pernikahan secara Hindu. Putri sulungnya menolak, ketika ibunya akan diupacarai secara Hindu. Celakanya, ayahnya mengikuti kehendak putrinya yang berkeras agar ibunya dimakamkan dengan ritual non Hindu. Kembali umat Hindu kecewa. Tetapi yang terjadi kemudian, kehidupan putrid sulung tadi hancur berantakan, ia stress berat. Tiga bulan setelah pemakaman ibunya, ia bersujud penuh penyesalan dimakam ibunya, memohon maaf. Setelah itu, kesehatannya menurun, ia menderita jiwa, dan akhirnya meninggal dengan mengenaskan. Tak lama kemudian ayahnya juga meninggal.

MENJADI KESET
Beberapa tahun lalu seorang gadis asal Singaraja menikah dengan seorang pria non Hindu asal Bandung. Wanita itu mengikuti keyakinan suaminya dan tinggal di Bandung. Kemudian wanita itu meninggal. Suatu hari, keluarga di Singaraja mengunjungi seorang dasaran (balian/dukun) di Bali, untuk konsultasi tentang beberapa hal. Tidak ada hubungan dengan wanita itu. Tiba-tiba saja, dasaran itu kerasukan dan menyampaikan salam non Hindu. Tiada seorangpun menyahut, karena merasa tidak ada hubungan. Karena tidak ada yang menyahut, suara dasaran itu mendadak seperti perempuan dan berkata, “ini saya………….” Sambil menyebutkan namanya. “tolong saya, saya kepanasan, sudah tidak tahan lagi. Tolong saya diaben,” sambungnya memelas. Saya dijadikan alas kaki (keset) disebuah……… oleh orang orang metengkuluk putih, ia menyebutkan sebuah tempat ibadah non Hindu. Masih banyak kisah-kisah lainnya, yang perlu mendapat perhatian untuk pertimbangan.
Oleh : Dewa K. Suratnaya
sumber:http://madecahyabuana.wordpress.com/2012/03/19/ini-yg-terjadi-jika-engkau-meninggalkan-aku-hindhu/

Tidak ada komentar: